Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 8


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, Maru menyuruh Yuri untuk pulang. Karena restoran mereka juga akan tutup, dan Maru menyuruh Gui untuk menutup restorannya sendiri karena ia ingin mengantarkan Yuri pulang.


"Kak Gui, aku pulang dulu ya…," Yuri berpamitan dengan Gui.


"Iya, kamu hati-hati dijalan. Maru, jangan sampai kamu apa-apain Yuri!" kata Gui.


Yuri hanya tertawa kecil, sedangkan Maru hanya memutar bola mata malasnya. Lalu, Maru dan Yuri pun langsung bergegas pergi, sebelum itu Maru ingin mengajak Yuri untuk makan malam terlebih dahulu.


"Kita mampir makan dulu, gimana?" tanya Maru kepada Yuri.


"Boleh, aku juga kebetulan sudah lapar…," jawab Yuri.


Maru mengangguk, lalu ia pun menuju ke tempat makan yang Yuri inginkan. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan antara Yuri dan Maru, karena Yuri malu ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah restoran. Maru turun lalu membukakan pintu untuk Yuri, dan mereka pun langsung masuk ke dalam restoran tersebut.


"Kita duduk di sebelah sana saja, ya…," kata Yuri sambil menunjuk ke arah kursi yang dekat dengan pantai.


"Baiklah, kita kesana saja…,"


Yuri dan Maru berjalan menuju ke tempat duduk yang Yuri inginkan, demi mendapatkan kepercayaan Yuri. Maru akan melakukan apapun asal rencananya berjalan dengan lancar. Maru dan Yuri memesan makanan, sambil menunggu makanan datang. Maru ingin meminta jawaban dari Yuri karena dia sudah tidak ingin menunggu lama.


"Yuri, apa kamu sudah memikirkan hal yang kemarin?" tanya Maru.


Yuri mendongak," kita jalanin saja dulu gimana? Biar kita saling mengenal satu sama lain,"


"Boleh, aku anggap ini kamu menerima cintaku…," jawab Maru tersenyum kepada Yuri.


Yuri mengangguk, entah kenapa jantungnya berdegup dengan kencang ketika Maru tersenyum kepada dirinya.


'Akhirnya kena juga, kan? Sekarang tinggal melakukan rencana kedua, tunggu saja kehancuranmu, Han…,' batin Maru yang sudah tidak sabar ingin melihat Han hancur.

__ADS_1


"Terima kasih, aku janji tidak akan pernah membuatmu menangis atau kecewa," kata Maru menggenggam tangan Yuri dengan erat.


"Iya, Maru. Aku percaya sama kamu," ucap Yuri yang sekarang sedang tersenyum dibalik cadarnya.


Maru sangat bahagia ia tidak menyangka jika dengan mudahnya mendekati putri tiri dari sahabatnya itu. Dan tak butuh waktu lama makanan mereka pun sudah sampai, dengan cepat Maru dan Yuri langsung menyantap makanan mereka masing-masing.


"Makannya pelan-pelan, nanti tersedak loh…," kata Maru yang terkekeh melihat Yuri makan dengan begitu lahap.


"Kamu tahu, restoran ini adalah tempat favorit aku dari dulu. Pas Ibuku masih ada aku sering makan disini,"


"Benarkah?" tanya Maru yang langsung di angguki sama Yuri.


Maru tidak bertanya lagi, karena Maru juga teringat dengan kedua orang tuanya dan adiknya yang ditinggal di kampung. Limi memang tidak ikut karena dia sedang kuliah semester 5 jadi, jika sudah selesai Limi akan menyusul kakaknya di Seoul.


Setelah selesai makan, Maru membayar makanannya. Lalu, Maru mengantarkan Yuri pulang karena takut kemalaman dan nggak enak juga sama orang tua Yuri.


Di perjalanan, Yuri sudah tidak canggung lagi. Ia pun terus bercerita sedangkan Maru hanya mendengarkan kadang tersenyum melihat Yuri bercerita. Memang benar yang dikatakan sama Gui kalau Yuri gadis yang begitu langka.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sudah sampai dan Yuri turun dari mobil milik Maru. Dari balkon atas terlihat Han yang sedang melihat Maru dan Yuri dibawah. Han langsung mengepalkan tangannya, karena cemburu melihat kedekatan antara Yuri dan Maru.


"Kenapa mereka bisa kenal, ih? Dan Yuri sok banget, padahal sama aku lebih cantik aku…," gerutu Han yang sekarang menganggap Yuri adalah saingannya.


Yuri langsung masuk ke dalam kamarnya dan turun kebawah untuk menemui Yuri yang baru saja pulang, karena Tuan Troy sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Jadi, Han dirumah bersama dengan Yuri serta para pelayan saja.


"Kamu darimana saja? Jam segini baru pulang!" Han langsung mencecar Yuri dengan pertanyaan.


Yuri menghentikan langkahnya, lalu ia pun menoleh ke arah ibu tirinya itu. Dibalik cadarnya, Yuri hanya tersenyum sinis melihat wanita yang sudah tega membuat ibunya meninggal hanya karena ingin menjadi istri Ayahnya.


"Kenapa anda begitu kepo dengan urusan saya? Saya ini sudah besar dan saya juga bisa jaga diri," kata Yuri dengan nada santai. " Dan satu lagi, saya pergi bersama dengan kekasih saya. Jadi, wajar kalau saya pulang terlambat," sambung Yuri.


"Oh jadi seperti ini cara kamu berbicara dengan Ibumu!" ucap Han.

__ADS_1


"Ibu tiri kalau anda lupa! Ingat, Ibu saya sudah meninggal. Jadi, anda ini hanya Ibu sambung yang tidak tahu diri yang cuma bisanya mementingkan dirinya sendiri," ketus Yuri.


Han yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Yuri pun merasa kesal, tapi dia harus menahan emosinya karena dia akan bermain cantik untuk menyingkirkan Yuri dari rumah dan membuat Tuan Troy membenci putrinya sendiri.


"Berbicara yang sopan, Yuri. Terima atau tidak, yang terpenting sekarang saya sudah menikah dengan Ayah kamu. Otomatis saya juga Ibu sambung kamu juga," ucap Han dengan nada kesal.


Yuri hanya tersenyum sinis, karena sudah malas mendengarkan ocehan Han. Yuri pun langsung pergi meninggalkan Han dan menuju ke kamarnya.


"Yuri, saya belum selesai berbicara!" teriak Han. " Ck, dasar anak sialan! Lihat saja, tidak lama lagi aku akan membuatmu hengkang dari rumahmu sendiri," sambung Han.


Tanpa Han sadari, kepala pelayan yaitu Bi Molly mendengar ucapan Han. Bi Molly hanya menggelengkan kepalanya karena merasa tidak suka dengan Han dari awal. Bi Molly merupakan pengasuh Yuri dari kecil, dan Tuan Troy mengangkat Bi Molly sebagai kepala pelayan dirumahnya. Dan Bi Molly juga sudah dianggap sebagai keluarga sendiri sama keluarganya Yuri, sebelum mendiang ibunya Yuri meninggal Bi Molly tidak was-was. Namun, sejak Han masuk di keluarga Tuan Troy. Bi Molly merasa jika Han memiliki niat terselubung.


Han yang merasa kesal pun bergegas pergi ke kamarnya, dia tidak rela jika anak tirinya itu dekat dengan Maru.


***


Di sisi lain, Maru baru saja sampai di apartemen miliknya. Dia langsung duduk di ruang tamu, Gui yang melihat Maru sudah pulang pun menghampiri Maru dan memberikan minuman untuk sahabatnya itu.


"Sepertinya, kamu sedang bahagia Maru? Jangan bilang kalau kamu sudah berhasil mendapatkan hati, Yuri?" kata Gui yang jiwa keponya sudah meronta-ronta.


"Jangan kepo! Biasanya orang kepo itu cepat struck…," jawab Maru.


"Sialan, mulutmu itu jahat sekali! Kalau aku struck, yang bantuin kamu nanti siapa?" ketus Gui.


"Gampang, aku tinggal nyari karyawan untuk gantikan posisimu," jawab Maru dengan begitu santainya.


Gui mendengus kesal, dari dulu memang Maru tidak berubah selalu menjahili dirinya dengan kata-katanya yang begitu menyakitkan. Tetapi, Gui hanya pura-pura kesal saja. Karena mereka sudah paham dengan sifat mereka satu sama lain.


Maru pun memutuskan untuk mandi karena badannya sudah lengket semua, Maru memejamkan matanya dibawah shower. Dia mengepalkan kedua tangannya karena mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Dia benar-benar tidak akan membiarkan Han lolos begitu saja.


'Tunggu saja tanggal mainnya, Han! Aku akan membuat kejutan untukmu,' gumam Maru dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2