Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 4


__ADS_3

"Han, bagaimana kau bisa ..."


"Kau sendiri, mengapa bisa ada di Korea?" Han yang mendadak hadir di hadapan Maru, justru bertanya hal yang seharusnya ia jawab terlebih dahulu.


"Maaf, Nona Han, apa Nona mengenal dokter ini?" tanya pramugari sebelumnya yang dominan peduli.


"Aku ..." Han tentu saja sulit menjawab pertanyaan sederhana itu. Kalian pasti tahu alasannya tanpa kuberitahu.


"Kami hanya pernah bertemu di jalan. Nona Han pernah membantuku suatu hal," terang Maru seraya bangkit.


"Oh, begitu."


"Apa tadi kau menyebutnya dokter, Nona Pramugari?"


"Eh, iya. Tuan ini, dia berkata kalau ia adalah seorang jurusan kedokteran. Tetapi masalahnya ..."


"Kalian membahayakan keselamatan putriku dengan menyerahkan urusan ini padanya?" Han dengan kejamnya mengarahkan jari telunjuk pada Maru, yang sedari tadi masih berkaca-kaca lantaran Han bisa ia jumpai lagi. Jauh di dalam hati itu, terbesit rasa senang yang begitu dalam dan besar. Rasa bahagia yang tiada hingga. Namun beberapa detik warna pelangi di hati Maru hilang. Jiwanya kembali mendung karena ujaran Han tadi.


"Bukan, aku bukan dokter. Aku hanya seorang penjahat yang gagal menyelamatkan impian sahabatnya. Seorang mantan narapidana berwajah tampan yang membunuh ibu sahabatnya.


Han, jemarinya bervibrasi hebat. Sekujur tubuhnya termakan getaran yang dihasilkan ucapan Maru. Maru terus menerus menatap tajam ke pupil mata Han. Tatapan pekat yang diselimuti kebencian. Begitu curam dan seakan tak menyisakan cahaya apapun lagi di kedalamannya.


"Kau mengatakan gadis ini adalah putrimu, kan? Kalau begitu kenapa tidak menjaganya dengan benar? Atau dia bukan putri kandungmu? Kau baru belajar cara menjadi ibu yang baik?" sambung Maru, ia sengaja memberikan tekanan hebat pada Han. Kalimat yang pilih dari mulutnya, memang sesuai dengan informasi yang didapatkan dari Gui dan Limi saat baru keluar dari penjara. Secara logika, jika Han berkata gadis itu adalah putrinya, maka Han adalah ibu tirinya. Sebab Han baru menikah setahun dengan Tuan Troy empat tahun lalu. Gadis itu sendiri berusia kurang lebih sama seperti Limi adik, Maru. Jika anak kandung, mustahil berusia dua puluh tahun kisaran dalam rentang waktu lima tahun. Meski dalam keadaan tak menyenangkan, kecerdasan Maru membuatnya cepat dalam memilih kalimat yang sesuai untuk diperdengarkan pada lawan bicara. Terutama jika itu adalah sosok, yang tersimpan dalam memori khusus seperti Han.


"Harusnya kau berterimakasih karena aku sudah menyelamatkanmu dari kemarahan Tuan Troy. Kau hampir gagal menjadi ibu, Nona Han yang budiman," Maru menutup perkataannya sembari berpaling arah dan berjalan pelan menuju Gui dan Limi. Dua orang itu sama sekali tak menyadari pertemuan Maru dan Han karena posisi duduk, antara nomor kursi mereka dengan ruang dekat pintu toilet, cukup jauh. Apalagi Limi masih sibuk mengomeli Gui yang masih saja sibuk dengan gadis nakal, yang hobi memandangi Maru sebelumnya.


"Kalian sudah selesai?" tanya Maru yang seketika harus merubah warna wajahnya. Ia tak ingin terlihat usai mengalami pertemuan menyakitkan dengan Han. "Aku pikir kalian sudah siap-siap. Limi?"


"Eh, iya, Kak. Ini gara-gara Kak Gui yang sibuk pacaran dengan Nona itu."

__ADS_1


"Gui!" Maru sedikit menungguku suara.


"Baik, Maru. Tunggu sebentar ya, sayang," Gui mengedipkan matanya pada gadis, yang dikatakan Limi sebagai pacar barunya.


"Apa gadis ini tidak berbahaya? Kalau begitu ajak saja dia bersama kita. Kau mau kan, Nona?" Maru memberi sebuah pilihan tanpa aba-aba yang membuat Gui tersenyum lebar. Gadis itu mengiyakan dengan memberi anggukan malu-malu. Maru menyadari jika gadis itu hanya memanfaatkan Gui agar bisa mendekatinya. Dari tebakan pikiran Maru terhadap niat gadis itu, ia jadi terpikirkan hal serupa. Hal yang meruap cara baginya masuk ke dalam kehidupan Han yang sekarang. Kehidupan yang penuh pamor dan materi seperti cita-citanya yang sering dicerna pada Maru. Cita-cita itu adalah berada pada puncak kehidupan versi Han. Dan kehidupan penuh materi dan memiliki gelar penghargaan tinggi, sebagai istri seorang yang memiliki pengaruh seperti Tuan Troy, adalah salah satu bentuk impiannya.


"Aku akan menghancurkan dunia itu. Dunia yang membuatmu menjadi jauh dari cara berpikir yang benar, Han," ucap Maru memberi. "Putri tirimu itu, akan jadi batu loncatan ku. Sama seperti saat kau dulu ingin menjadikan aku sebagai batu loncatan mu. Sayangnya, aku tak sepolos dulu. Bersiap-siaplah, Han. Aku akan menjemputmu dari bawah. Kau harus kembali ke dunia di mana seharian kau berada, bersamaku."


"Maru? Kau melamunkan apa?" Gui menyentak Maru yang mengatur strategi dalam pikirannya. Pikiran yang tak lagi putih.


"Tak apa, ayo turun."


"Bagaimana dengan gadis yang kritis itu?" Limi kembali memberi pertanyaan.


"Sudah beres. Dia hanya asma biasa."


Seminggu setelah pertemuan menyakitkan itu. Maru menyortir dirinya masih dalam rencana gilanya. Rumah kontrakan baru Maru dan adiknya berada di perbatasan Hangul. Mobil milik Gui pun telah dikirim dari Indonesia. Gui juga turut membantu membayar uang kontrakan Maru dan adiknya. Di sela waktu, Maru menceritakan pertemuannya dengan Han di dalam pesawat pada Gui dan Limi.


"Andai kakak memanggilku ketika bertemu Kak Han, aku akan memeluknya sangat lama."


Maru tak terlalu memangsa ucapan Limi.


"Jadi, Tuan Troy?"


"Iya, gadis yang kritis itu adanya putrinya dan anak tiri dari Han."


"Bagaimana kau bisa menyimpulkan secepat itu?"


"Tentu saja aku yakin! Dia seumuran Limi."

__ADS_1


"Dua puluh tahun? Usia yang sangat rapat dengan Han dan juga dirimu. Han pasti sulit beradaptasi dengan putri tirinya, yang usianya hanya selisih lima tahun darinya. Tuan Troy saja berusia tiga puluh tujuh tahun."


"Hm, aku tak terlalu peduli dengan itu. Apa permintaanku untuk menyelidiki Han masih berlaku di Korea ini?" Maru bertanggung dengan nada tak biasa.


"Tentu saja. Apakah kau sudah memiliki sesuatu yang menjadi langkah pertama?"


"Gui, kau bisa bergerak bersama orang-orangmu di luar dari sepengetahuanku. Sementara aku, akan bergerak sendiri dengan rencanaku."


"Rencana apa, Kak? Kakak tidak akan membahayakan diri kakak, kan? Berhati-hatilah, kakak jangan sampai terlibat kasus apapun lagi," ujar Limi menunjukkan kekhawatirannya.


Beberapa waktu usai percakapan mendalam itu, Maru bekerja di suatu bar yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya. Di hadapannya, ada gadis yang menjadi kekasih Gui saat di dalam pesawat, berbicara padanya saat tengah mengikis es batu untuk dimasukkan dalam bir yang dipesan pelanggan. Wajah tampan Maru masih dipandangi lama oleh gadis itu.


"Jika kau memandangku terlalu lama, kau akan membuat Gui cemburu," canda Maru demi menyudahi tatapan yang membuatnya tak nyaman itu.


Gui yang ternyata menjadi pemesan minuman pada Maru, bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Maru. Wajahnya seakan memiliki hal penting untuk disampaikan pada Maru.


"Sudah ada informasi?" tanya Maru.


"Ya, aku sudah mendapatkan informasi kediaman Tuan Troy. Nama putrinya itu adalah Yuri."


"Yuri? Baiklah, akan kuingat."


"Nama yang manis," ucap kekasih Gui.


"Benarkah? Hei, gadis .. eh, maksudku kekasih Gui. Apa kau mau membantuku?"


Gadis itu malah bertanya balik, "Ya, apa itu? Ngomong-ngomong, berhenti memanggilku gadis. Namaku Rin."


"Kalau begitu, bersiaplah sebentar lagi. Sebab ada dunia yang harus aku runtuhkan. Gadis bernama Yuri itu, akan menjadi loncatan ku."

__ADS_1


__ADS_2