
Esok harinya ketika aku baru tiba di sekolah, aku dipanggil ke kantor kepala sekolah melalui radio.
“Pagi Bu!” Aku mengetuk pintu dengan pelan, lalu masuk ketika mendapat izin.
“Ah! Jasmin, kamu sudah datang, silakan duduk!” Kepala Sekolah Lidya sedang membaca dokumen, sambil menaikkan kacamata berwarna emasnya.
Aku menganggukkan kepala dan duduk di hadapan kepala sekolah.
Kantor Kepala Sekolah Lidya tidak besar, tapi terlihat sangat rapi. Seluruh perabotan berwarna cokelat, tirai polos diikat dan foto yang tergantung di dinding belakang meja adalah foto seorang pria tua yang baik hati…
Semuanya bahkan detail terkecil diatur dengan rapi dan beraturan di ruangan ini seperti perasaan yang diberikan oleh Kepala Sekolah Lidya padanya.
Aku dengan gugup merapikan seragamku, karena aku tidak tahu apa konsekuensi dari pelarian diri kemarin…
“Uhuk huk! Jasmin, hari ini Ibu mencarimu karena ingin mendiskusikan sesuatu denganmu.” Kepala Sekolah Lidya menatapku dengan serius.
“Baik! Bu, silakan Anda katakan!” Aku mencoba membuat senyumku tidak begitu kaku.
“Begini, Ibu sudah memeriksa catatan nilaimu dari SD sampai SMP, Ibu merasa kelak kamu pasti menjadi orang yang hebat asalkan kamu mau berusaha.”
“Terima kasih Bu!” Aku pun semakin tidak percaya diri ketika Kepala Sekolah Lidya berkata demikian.
“Begini, seharusnya kamu sudah mendengar bahwa Sekolah Budaya dan Sekolah Sunshine terus bersaing. Tahun lalu skor kita imbang yaitu 4:4. Meskipun nilai umum Sekolah Budaya cukup bagus, sayangnya tidak pernah muncul orang yang sangat berbakat… jadi, Ibu berharap kamu bisa menjadi orang seperti itu dan memenangkan kehormatan untuk Sekolah Budaya.”
Aku menghela napas lega dan berkata dengan rendah hati, “Terima kasih pujiannya, saya pasti tidak akan mengecewakan Anda.”
“Iya! Bagus sekali! Ibu dan kepala sekolah Sekolah Sunshine membuat kesepakatan agar setiap sekolah mengirim perwakilan untuk memimpin sekolah untuk bersaing dalam tiga pertandingan tahun ajaran ini dan pemenang akan mendapatkan hak menggunakan Jalan Malaikat No. 23. Sedangkan sekolah yang mendapatkan hak itu, skala sekolah dan kemampuan sekolah akan mendapatkan perkembangan besar, ini berarti sekolah yang menang akan memiliki hak memimpin yang mutlak!”
__ADS_1
Selesai Kepala Sekolah Lidya berbicara, suasana hatinya masih sangat antusias dan ini jarang terlihat!
Kepala Sekolah Lidya berhenti sejenak seolah-olah menyadari suaranya agak keras, lalu berkata dengan serius, “Dalam tiga pertandingan berikutnya, kedua belah pihak akan mengeluarkan satu soal. Jika masih seri, maka soal pertandingan terakhir akan diputuskan oleh Direktur. Jasmin, Ibu mencarimu hari ini karena berharap mulai sekarang kamu bisa menanggung beban ini, karena kamu adalah murid terbaik dan berharap kelak kamu bisa melindungi dan bertanggung jawab atas reputasi Sekolah Budaya!”
“Anda jangan khawatir, saya akan melakukan yang terbaik!” jawabku dengan tegas.
“Kudengar perwakilan Sekolah Sunshine kali ini adalah James Salim. Kalian seharusnya adalah lawan sejak SMP, jadi Ibu harap kali ini kamu bisa melakukan yang terbaik.”
Mengalahkan James? Hahaha! Bu Lidya yang baik, pikiranmu sama denganku! Meskipun kamu tidak katakan, aku juga akan melakukan yang terbaik! Bagaimana mungkin aku akan membiarkan si pembohong itu semena-mena?!
“Tidak masalah!” jawabku tegas.
Entah itu untuk sekolah atau untuk diriku sendiri, yang penting aku pasti akan membiarkan James berlutut seperti orang pelayan dan berkata, “Ratu, biarkan aku memijat pinggangmu…”
“Bukan bukan, Ratu, biarkan aku menyemir sepatumu…”
“Anda mau dengar aku nyanyi atau ingin melihatku menari...”
“Apa? Bu, apa lagi yang harus kulakukan?” Aku segera menarik kembali pikiranku, lalu melihat kepala sekolah yang tidak jadi ngomong dan ekspresinya tidak mirip seperti biasa.
“Kamu dan Evelyn ‘kan teman baik, jadi Ibu sering mendengarnya berbicara soal dirimu.” Bu Lidya menyilangkan jarinya di atas meja, “Ibu harap kamu bisa mengawasi dan membantunya dari berbagai aspek.”
“Ah, aku pasti akan membantunya. Bu, kalau begitu saya kembali ke kelas dulu.”
Dalam hatiku pun bergumam setelah keluar dari kantor, mungkinkah… Evelyn belum menenangkan dirinya?
“Eh… Evelyn! Bukumu terbalik!” Aku menepuk Evelyn yang di samping ketika guru di podium berbalik untuk mencatat rumus. Dia sudah menatap halaman itu selama setengah jam.
__ADS_1
“Evelyn, jus stroberi kemarin enak sekali! James juga membuatkanku kelinci dari kulit jeruk! Kalian lihat ini!” ucap Sandy setelah mendengar ucapan dia terhadap Evelyn sambil menunjukkan kelinci yang terbuat dari kulit jeruk dan tertawa bodoh pada kami dengan bangga.
“Sandy, jangan ngoceh lagi, lagi belajar nih.” Oh Tuhan, dia memang sengaja membuat kerusuhan.
“Jasmin…” Evelyn akhirnya merespon, “Apa ibuku ingin kamu bersaing dengan James?”
“Ibumu? Maksudmu Bu Lidya ya…” Seketika aku tidak bisa beradaptasi bahwa Kepala Sekolah Lidya adalah ibu Evelyn.
“Apa kamu sudah setuju?”
“Iya dong!”
“Persaingannya apa?”
“Kepala sekolah bilang kedua sekolah akan mengadakan pertandingan dan yang memenangkan banyak medali emas akan menjadi pemenang dalam pertandingan pertama. Sedangkan aku dan James bertanggung jawab untuk membentuk organisasi dan ikut serta dalam pertandingan.”
“Kudengar olahraga sekolah kita sangat hebat, bukan berarti Sekolah Sunshine akan kalah…” Sandy berbalik dan bergabung dalam diskusi dengan semangat.
“Bagus!” Evelyn menepuk meja sambil berdiri dan dia lupa dia sedang di kelas.
“Shh…” Guru terkejut sampai kapur patah dan menyeret garis panjang di papan tulis.
“Ah…” Evelyn melihat situasi tidak baik, jadi memegang kening, “Maaf, saya terlalu terkagum-kagum terhadap ajaran Anda, makanya bisa begitu. Duh, kepala saya sangat pusing, tampaknya saya perlu ke ruang UKS…”
Evelyn berpura-pura lemah sambil bersandar ke arahku, lalu memegang tanganku agar menopang pinggangnya.
“Em… Bu, tampaknya saya perlu segera mengantarnya ke ruang UKS.” Aku segera membawa Evelyn kabur sebelum guru merespon.
__ADS_1
Aku mendengar Sandy inisiatif ingin membantu, “Bu, perjalanan ke ruang UKS sangat jauh, saya izin melindungi mereka ya!”
Ish...sejak kapan penggunaan bahasa Sandy menjadi begitu baik?