
Dalam kutukanku pada James, pertandingan persahabatan tahunan akhirnya tiba! Sekolah Budaya dan Sekolah Sunshine sangat meriah karena ini adalah salah satu dari tiga peristiwa di mana kedua sekolah dapat membuka pintu!
Terlebih lagi…
Hasil dari lomba akan langsung menentukan sekolah mana yang menang dalam perebutan “Jalan Malaikat No. 23” ini. James dan gue yang memimpin pertandingan antara kedua kelas tersenyum berdiri di podium Sekolah Budaya.
“Selanjutnya persilakan perwakilan dua kontes untuk berbicara…”
“Aku mewakili diriku sendiri dan Sekolah Budaya yang dikenal dengan pengajaran pengetahuan ketat menyambut kedatangan kalian…” Aku berdiri di depan mikrofon, lalu mempertahankan nada bicara lembut dan senyuman yang manis dan ramah, sambil mengamati tim merah dan tim biru yang rapi. Benar, terdengar suara ******* dari bawah.
“Ai, dia adalah Jasmin ya, cantik sekali!”
“Iya, iya. Dia adalah gadis jenius itu, benar-benar sesuai dengan reputasinya!!” Cieh… ini baru hal kecil, hmmp, berikutnya masih ada hal yang lebih mengejutkan kalian!
“Berikutnya silakan kalian melihat upacara penyambutan dari Sekolah Budaya…”
“Plak plak… plak plak plak… plak plak… plak plak plak…” Tepuk tangan serentak ini terdengar dari bawah panggung dan aku melihat semua siswa Sekolah Budaya berseragam biru menepuk tangan serempak di bawah komandoku. Lalu ada tim rapi di tengah yang dipimpin oleh Jasmin berjalan keluar sampai berjalan ke sekitar tim Sekolah Budaya dan mengelilingi tim lawan.
“Plak plak… plak… plak plak… plak…”
Ritme seluruh tim tiba-tiba dipercepat, lalu melihat tim di luar mengangkat sepasang tangan dan menunjukkan papan plastik berwarna-warni yang telah disiapkan sehingga logo Sekolah Budaya muncul di depan semua orang bahkan membuat siswa Sekolah Sunshine kaget. Orang yang di luar tim terus bertepuk tangan dengan keras.
“Plak plak… Sekolah Budaya…”
“He…” Semua siswa Sekolah Budaya teriak serempak.
“Plak plak… Sekolah Budaya… he…”
“Plak plak plak… Sekolah Budaya semangat…”
“Plak plak… Sekolah Budaya… he…”
Seluruh lapangan bergema sorakan pemberian semangat yang keras sehingga membuat para siswa Sekolah Sunshine terkejut dengan momentum ini.
Haha… hahaha…
Aku melihat senyum langka di wajah Kepala Sekolah Lidya, haha, benar-benar pencapaian yang luar biasa! Lalu melirik James yang di samping, dia tetap tersenyum. Teruslah berpura-pura, aku ingin lihat kamu bisa bertahan berapa lama?!
Hmm! James, apa lo sudah melihat kekuatanku? Lo kira bisa mengalahkanku dengan cara membiarkan gue membantu lo tiap hari kerja? Mimpi lo!!
“Berikutnya silakan Sekolah Sunshine berbicara.”
James berdiri di depan mikrofon dengan senyum, “Terima kasih upacara penyambutan dari Sekolah Budaya, berikutnya silakan melihat pertunjukan penuh pesona yang dibawa oleh Sekolah Sunshine.”
“Plak plak… he… plak plak… he…”
Hmmph! Kalian juga mempalajari cara tepuk tangan untuk memberi semangat? Dengarlah, suara ini begitu kecil! James, lo pasti kalah!
__ADS_1
Gue menatap ke arah James dengan percaya diri.
“Ya ha…” Em, suara apa ini? Gue mencondongkan tubuhku untuk mendengar sumber suara itu.
Hanya melihat dua tim merah lekas berjalan ke podium, oh… oh tidak…
Mengapa memakai baju yang begitu sedikit?! Bagaimana pun ini sudah masuk musim gugur! Tapi, dua tim pemandu sorak wanita cantik memegang pompom warna-warni yang besar dan mengenakan rok mini merah muda yang bertulisan “Sekolah Sunshine”, lalu mereka berkumpul di depan podium.
“Hei, plak… plak… Sekolah Sunshine… Sekolah Sunshine… rub rub rub!”
Pemandu sorak Sekolah Sunshine menendang, melompat dengan antusias, lalu terus-menerus mengubah formasi tim mereka. Membentuk susunan menumpuk ke atas, lalu terus-menerus mengubah formasi susah tingkat dua, sehingga orang yang menonton tercengang sampai membelalak mata.
“Blap, Sekolah Sunshine, Sekolah Sunshine, rub…” Aku mendengar suara datang dari bawah… benarkah?!
Mau Sekolah Budaya atau Sekolah Sunshine semua terpengaruh oleh tarian pemandu sorak sehingga mereka juga menepuk tangan sesuai dengan irama mereka.
Si… si para kawan yang tak berpendirian, mengapa bisa ikut bersorak karena trik kecil James? Menyebalkan…
Pemandu sorak secara bertahap melompat ke dua lingkaran sesuai ritme yang semangat ini.
“Aha…”
Para pemandu sorak di lingkaran luar berpegangan tangan sambil membungkukkan badan dan membentuk lingkaran. Lima pemandu sorak berjongkok di dalam sambil berpegangan tangan dan membentuk bintang lima.
Bu… bukankah ini logo Sekolah Sunshine?
“Shut… Shut… hebat sekali!”
Begitu ritme berhenti, sorakan dan peluit di bawah terdengar sehingga membuat lapangan olahraga menjadi ramai.
“Berikutnya, perwakilan pertandingan dari kedua sekolah bersama-sama menyalakan kembang api untuk menyatakan pertandingan dimulai!!”
Di bawah sorakan, aku dan James bersama-sama memegang satu batang kembang api berjalan pelan ke podium dan menyalakan kembang api.
Tiba-tiba James berbisik padaku, “Pembantu sementaraku, ingat belikan aku sekaleng Air soda nanti…”
Aku harus mengalahkan bocah ini! Harus!
“Bang…”
Cahaya api keluar dari lubang batang kembang api, lalu berubah menjadi percikan api di langit, baru menyebar dengan pelan. Perang pertama antara aku dan James secara resmi dimulai.
Tetapi…
“Pembantu, apa lo sudah membelikanku air soda?” James sedang duduk di pagar lapangan dengan pakaian olahraga putih, rambut hitamnya beterbangan dan tersenyum ceria.
Aku melihat ke para fansnya yang tersipu dan dalam hatinya menghela napas. Pepatah “Menggunakan wajah menggoda” sangat cocok diberi pada pria ini!
__ADS_1
“Pembantu… Jasmin…”
“Iya… iya…” Gue lekas memotong perkataannya, jika orang lain tahu pemimpin spiritual Sekolah Budaya menjadi pembantu Sekolah Sunshine, maka gue… gue… gue… gue akan mati tanpa kuburan.
Memikirkan hal ini, aku hanya bisa menarik mantel besar yang gue siapkan sehingga mantel itu menutupi seragam sekolah gue, selain itu aku sengaja menggunakan topi besar. Tentu saja, pendamping terbaik untuk menyamar adalah kacamata hitam.
“Ngapain?!” Gue menjawabnya dengan suara kecil, benar-benar malu sekali, mati pun ngak boleh diketahui oleh orang!
“Air soda!” James seolah-olah ngak bisa mendengar suaranya, jadi melompat turun dari pagar dan berjalan ke arah gue!
“Ngapain lo berdandan begitu?!” Bocah ini sengaja menepuk topi gue yang sengaja direndahkan, “Ngak ada matahari, ngapain lo pakai kacamata?”
“Apa urusanmu?!” Gue mengambil sekaleng air soda dari ranselku dan melempar ke tangannya. Cepat pergi! Cepat pergi! Ngak boleh diketahui oleh orang, kalau tidak citra gue yang mulai bakal hancur!
“Ih? Ini coca cola, gue ingin minum pepsi. Lalu, kaleng ini harus ada foto artis!”
Masih harus ada foto artis?
“Pembantu tersayang hanya bisa merepotkan lo untuk pergi membelinya lagi! Haha…”
“Lo!”
“Hei, James, kenapa lo punya pembantu lagi?” Gue melihat sesuai dengan sumber suara. Dylan dan Juan sedang duduk miring di pagar pembatas, kok bisa mereka di sini?! Selain itu si monyet itu sedang menatap gue dengan penasaran.
“Gue mendengar lo memanggil Ja… Jas? Jas apa… kok familiar ya…”
Gawat, gue menyusut leher, mungkinkah bocah ini sudah tahu…
“Asal wanita pasti familiar dengan lo, tidak heran.” Terdengar suara yang santai.
“Haha, iya, Dylan, lo jelas-jelas tahu faktanya, tapi jangan katakan dong… hahaha, siapa suruh gue terkenal kali?!” Juan dengan senang meninju baju Dylan, kemudian merasa percaya diri dan melupakan pertanyaan tadi.
Huh… gue menghela napas lega, lalu melihat ke Dylan yang menatap lapangan. Dia yang ditatap olehku seolah-olah merasakan sesuatu, sehingga pelan-pelan melihat ke arah gue. Melihat mata cokelatnya membuat gue teringat malam di Sekolah Sunshine, ngak tahu demamnya sudah sembuh belum? Tampaknya sudah baikkan…
Uhuk huk… Jasmin sadarlah! Meskipun dia pernah menolongmu, tapi ini bukan waktunya balas budi…
“Cepat beli pepsi… tunggu, tiga botol! Sudah tua, jelek, respon lambat, apa ngak bisa lincah sedikit? Memang pelayan yang ngak ada kualitas!!”
Juan si bocah itu malah menggunakan kesempatan ini untuk memerintahku.
Kalian si parah bocah brengsek! Jika ngak bisa menahan dalam hal kecil, pasti akan merusak hal besar, jadi gue harus sabar… aih! Oh ya, gue tiba-tiba ada ide di benak ketika melihat coca cola di tanganku.
Lalu, gue membeli tiga kaleng air soda dan kembali dengan terengah-engah.
“Baik, lain kali baru buat janji, oke?”
“Baik, kalian tunggu saja di sana, bentar lagi gue ke sana!”
__ADS_1