
“Lo!! Hmph! Sudahlah, malas keberatan dengan junior seperti lo, sebentar lagi lo akan melihat kehebatan gue. Oh ya, gue ingin memberitahu lo berita luar biasa, gue… Bastian adalah kapten legendaris tim basket Sekolah Budaya! Apa lo takut? Hahahaha…”
“Oh? Ternyata kapten legendaris itu adalah lo! Ngak heran begitu buruk! Jika Sekolah Budaya sudah menantang Sekolah Sunshine, maka kita akan melihat hasilnya di lapangan!” James tersenyum ceria, gue sudah melawannya beberapa kali, jadi gue paham makna dari senyumannya. Tapi Bastian si bodoh ini sama sekali tidak merasakan aura kejam dari James, sedangkan terus-menerus memberi gue kode. Kode? Benar…
Gue berpura-pura menatapnya dengan polos, sedangkan si bodoh itu terus menatap ketel di tangan James, lalu tertawa terbahak-bahak! Ya Tuhan, bahkan babi pun tahu ada sesuatu di dalam!!! Gue menatap James dengan gugup, sepertinya tidak melihat dia minum…
“Sayang! Dukung gue ya, hahaha…”
Kata Bastian, lalu berjalan ke lapangan dan diikuti oleh James. Gue menenangkan suasana hati yang gugup, memanglah. Jasmin, ujian SMA saja lo ngak begitu gugup!
Akhirnya dia menyeka keringat di dahinya, James membuka ketel, lalu meletakkan di mulutnya…
Dia sudah minum, dia benar-benar minum… yeah! Berhasil! Gue menatap ketel di tangannya dengan senang, tapi…
Ngak tahu kenapa gue tiba-tiba merasa menyesal ketika melihat senyum cerianya…
“Dor!”
Setelah mendengar semua tembakan ini, semua pemain bergegas berlari dari garis start seperti panah yang meninggalkan busur!
“Saat ini James dari Sekolah Sunshine berada di posisi terdepan! Lalu yang di belakangnya adalah Bastian dari Sekolah Budaya!” Penyiar melaporkan kondisi lomba dari podium. Wow! Tampan… sekali!
Aku menatap James yang berlari di lapangan, meskipun pada saat seperti itu, dia tetap tersenyum, rambutnya berterbangan, tatapan juga penuh percaya diri… yang susah dibayangkan orang adalah anggota tubuhnya yang tampaknya lemah bisa-bisanya memiliki kekuatan yang begitu besar! Seketika itu, gue tiba-tiba merasa dia seperti Apollo si dewa matahari yang di dongeng Yunani…
“Wow… James! James!”
“Semangat! James semangat!”
“Bastian semangat… semangat…”
“Ah…” Setelah melihat pria tampan teriakan gadis itu langsung menyebabkan reaksi kimia yang hebat dan seluruh lapangan menjadi meriah.
“Bos, semangat!”
__ADS_1
“Juan… ngak usah begitu keras, lagi pula James akan menang!”
Suara ini… gue menolehkan kepala melihat, ternyata Juan dan Dylan!
Dylan seolah-olah menyadari gue sedang melihatnya, jadi tersenyum pada gue sehingga membuatku kaget.
“James, akhirnya mendapatkan juara satu lomba lari pria 400 meter!” Begitu suara di podium berakhir, semua wanita dari Sekolah Sunshine yang kagum pada James pun berlari ke sana.
“James! Gunakan handuk gue untuk menyeka keringat…”
“James, gue membawakan air untuk lo…” Mengapa dia bisa baik-baik saja setelah minum air itu? Gue menatap James yang sedang mengambil handuk dan botol air di depanku dan dia terlihat baik-baik saja!
“Bantu gue ambil! Total ada 20 handuk, 15 katel! Ngak boleh hilang satu pun!” James tiba-tiba melemparkan barang di tangannya ke arahku, sehingga gue terhuyung-huyung dan hampir jatuh ke lantai. Gue melihat sekitar, untungnya ngak ada yang lihat…
A… apa? Begitu banyak ketel? Ngak heran dia tidak terjadi masalah?!
“Hi James, lo memang hebat!” Juan meninju ke pundak James.
“Juan, sakit!” jawab James dengan tawa sambil meninju Juan.
“Benarkah? Gue ngak peduli, haha…”
Hmmph! Ngapain begitu sombong, hanya memecahkan rekor saja! Kalau hebat, maka pecahkan rekor dunia. Berpura-pura ngak angkuh!
“Jasmin! Kok lo ada di sini? Gue terus mencari lo, tapi ngak ketemu! Ngapain lo ambil begitu banyak handuk dan ketel?” Evelyn berlari dari lapangan ke arah gue dengan marah. Ah, astaga! Gue lupa Evelyn juga ada lomba hari ini!
“Ah, Evelyn maaf! Apa lomba lo udah selesai? Gue membantu orang mengambil ini, haha…”
“Jasmin, ternyata lo ya! Ngak heran gue merasa familiar, hahaha…” Juan brengsek, apa gue dan lo ada dendam karena membunuh ayahmu di kehidupan sebelumnya?!
“Apa yang lo katakan? Juan, si idiot!” Evelyn menatapnya dengan benci!
“Apa yang gue katakan?! Gue bilang dandanan Jasmin tadi mirip bibi, juga membelikan kami minuman, benarkan James?!” Gue ngak menyangka tanggal kematian gue begitu dekat…
__ADS_1
“Lo harusnya salah lihat.” Ih? Apa yang Dylan bilang? Dia membantu gue? Gue menatap wajahnya yang tidak ada ekspresi dengan kaget.
“Hai, Dylan.” Evelyn langsung mengubah wajah galaknya menjadi senyum ketika melihat Dylan, wanita ini…
“Hai!” sapa Dylan sambil menganggukkan kepala.
“Ngak mungkin, bagaimana mungkin gue salah lihat? Gue yakin!” Si Juan brengsek masih mempersoalkan hal ini!
“Hei! Juan, apa lo masih mau mempersoalkan ini? Jasmin adalah perwakilan Sekolah Budaya, apa lo mimpi sehingga dia bisa membelikan coca cola untuk lo di depan umum? Bodoh!” Evelyn membereng Juan. Takut pertengkaran di antara mereka berdua akan menarik perhatian banyak orang, jadi gue lekas menarik Evelyn yang antusias dan dengan sikapnya, dia tampaknya sudah mau pukul orang.
“Jasmin, ayo pergi, karena kami akan sial jika ada orang seperti ini di sini!”
“Dia ngak boleh pergi…” James! James yang sedang bicara, gue merasa semua orang menjadi diam dan ada banyak siswa Sekolah Sunshine dan Sekolah Budaya yang menatap kami dengan kaget!
Gue menarik napas dingin! Gawat kali ini! Gue sudah mau menjadi pengkhianat Sekolah Budaya!
“Karena gue ingin meminta Jasmin untuk menjadi saksi gue! Benarkah Bastian?” James tiba-tiba mengubah topik pembicaraan sehingga membuatku bingung karena apa hubungannnya hal ini dengan Bastian?
“Bastian, lo baru saja bertaruh dengan gue, jadi yang kalah harus buat apa? Sekarang gue menang!” James tersenyum senang!
“Ah… ahh… Jasmin…” Bastian meminta tolong padaku!
Bodoh! Jangan lihat kemari! Gue gak kenal dengan lo.
“Silakan dan sekarang!” James mengedipkan mata dengan senyum.
Bastian ditemani Denis merangkak di lapangan sambil bersuara “hmm hmm” sehingga membuat banyak teman memotret foto aneh ini dengan ponsel!
Gue menatap Bastian dengan kasihan, gue benar-benar ngak tega menghubungkan pria malang di depan gue dengan pria tampan.
“Saatnya gue menghitung hutang dengan lo! Jasmin tersayang!” James tiba-tiba berbisik pada gue, “Tunggu telepon gue!”
Gue menatap dia, Juan dan Dylan yang pergi dengan kaget.
__ADS_1
James! Bocah yang mengerikan! Apa dia tahu air itu…