Jalan Malaikat Nomor 23

Jalan Malaikat Nomor 23
Pertandingan Olahraga


__ADS_3

Orang-orang ini benar-benar bencana luar biasa, lihat gadis-gadis malang itu yang tunduk akan bujukan dia, aih! Hanya Dylan yang menatap dengan tenang dan sama sekali tidak menghiraukan para fans itu.


“Ini pepsi lo yang ada foto artis!” Gue terengah-engah, lalu mundur dua langkah setelah memberi air soda yang kupersiapkan kepada James. Haha, bentar lagi ada pertunjukan menarik!


Cepat buka! Cepat buka!


James melihat pepsi di tanganku, lalu melihatku, tiba-tiba tersenyum ceria, “Bantu gue buka!”


“Apa?!”


“Emangnya ada masalah?”


“Ngak… ngak ada kok…”


Gak mungkin ngak ada! Wuwuwu…


“Cepat, emangnya ada masalah?” tanya James.


“Apa?! Ngak ada!” Di bawah senyuman James yang bermakna, gue berusaha menjauhkan kepala gue dan menggigit erat giginya.


Bang!!!


Pepsi di kaleng itu menyembur seperti hidran kebakaran yang tiba-tiba terbuka dan menyembur ke seluruh wajah gue setelah dibuka!


“Hahaha, Adik Jasmin, kenapa lo begitu lucu?!” James tertawa terbahak-bahak ketika dia menatapku yang berantakan ini.


Gue memejamkan mata, merasa pepsi di bulu mataku sedang setetes demi setetes menetes ke bawah.


Wuwuwuwu… Jasmin, lo benar-benar meremehkan kekuatan lawanmu…


Sepuluh menit kemudian, gue berada di kamar mandi.


Melihat mantel dan topi yang lengket gara-gara pepsi, gue hanya bisa melepaskannya, jadi hanya tersisa kacamata dan jika gue terus memakai kacamata mungkin hanya memiliki efek menipu diri sendiri. Lalu menghela napas, gue ngak bisa menghindari takdir, ucapan ini benar! Kedepannya tidak bisa menyamar lagi, jadi hanya berharap dengan keberuntungan…


James! Si bocah bajingan! Kedepannya gue pasti akan membalas semua ini dengan ganda, tidak, balas 10 kali lipat!

__ADS_1


“Telepon! Ring ring ring… panggilan masuk! Ring ring ring ring…” Ponsel gue yang di saku tiba-tiba terus-menerus berdering.


“Halo, halo…” sapaku dengan suara manis.


“Pembantu, gue sudah mau lomba! Cepat datang ke lapangan! Oh ya… hanya dua menit saja ya! Haha!”


“Hei hei! James…”


Huh, bajingan! Nganggep gue sebagai lampu ajaib Aladin? Gue sambil memarahinya sambil berlari ke arah lapangan.


Pertandingan olahraga resmi dimulai, sehingga lapangan menjadi tempat ramai. Tim merah dan biru berdiri di setiap sisi untuk menyemangati sekolah mereka sendiri. Sorakan semakin besar, spanduk besar, bendera sekolah yang melambai dan plakat yang mencolok membuat suasana seluruh lapangan menjadi meriah. Suara sorakan, teriakan semangat datang dari segala arah dan berkumpul di lapangan ini, juga membuat “api perang” berkobar.


Di tengah formasi Sekolah Sunshine ada gendang merah setinggi dua orang, juga sedang dipukul sehingga mengeluarkan suara “tong tong”. Siswa Sekolah Sunshine juga berdiri berkelompok di kursi sambil berteriak untuk menyemangati sekolah sendiri, sedangkan semua siswa tim biru Sekolah Budaya sedang duduk diam di dalam formasi sambil mengibarkan bendera dan slogan di tangan mereka. Akhirnya kami dengan sikap yang beraturan menghadapi Sekolah Sunshine yang tidak beraturan.


Tapi, benar-benar susah mencari James dalam kondisi seperti ini! Tidak usah peduli dengannya lagi…


Ya Tuhan, gue tidak hanya harus memeriksa seluruh kondisi pertandingan, juga harus tiba tepat waktu ketika dipanggil oleh James, ini benar-benar membuat gue lari sini sana! Kemampuan organisasi dan koordinasi yang telah gue latih selama bertahun-tahun akhirnya berguna, kemudian aku mengatur pertandingan berikut dengan tertib. Tiba-tiba suara iblis terdengar ketika ingin rileks.


“Hai, Jasmin tercinta!”


“Kenapa lo lagi sih?” tanya aku dengan tak senang.


“Oh sayang! Gue ini sangat mendukung pekerjaanmu, lihat, gue sudah mendaftar tiga pertandingan, apa lo sangat terharu? Hahahaha…”


Kali ini, tangan Bastian memegang bunga gerbera dan mengenakan pakaian olahraga putih berdiri di depanku.


Apa bocah ini buka toko bunga? Kenapa setiap kali dia muncul tangannya pasti muncul bunga yang berbeda?


“Be… benarkah?” Hanya ikut kompetisi saja, apa yang perlu dibanggakan? Lo juga harus bisa menang! Idiot, tapi demi citra gue, gue berusaha tersenyum ala kadarnya.


“Sayang, lo tahu siapa pria itu?” Bastian sama sekali ngak peduli dengan ekspresi gue, lalu dia menunjuk ke arah yang dibencinya dengan bunga, “Bisa-bisanya ada wanita yang suka pria jelek sepertinya, gue lah pria tertampan! Kudengar James adalah jagoan Sekolah Sunshine dan nilainya lebih tinggi 1 poin darimu di ujian masuk SMA! Jasmin tercinta, senyumannya sangat menyebalkan, kan?”


James memang menyebalkan! Dalam hati gue merasa jijik ketika melihat senyuman ceria itu!


“Haha, Jasmin tercinta, maukah lo bekerja sama denganku untuk mengalahkannya?” kata Bastian dengan suara kecil.

__ADS_1


“Mau… apa yang lo katakan?” Gue tiba-tiba ada firasat buruk ketika melihat senyuman Bastian yang aneh itu.


“Ambil ini, lalu berikan ke dia sebelum lomba, asalkan dia minum, maka pertandingan hari ini… hahaha…” Bastian menatap James yang di kejauhan, tatapan juga sangat galak. Tampaknya bocah ini sangat membenci James.


“Gue…” Gue pun mulai tersentuh ketika melihat ketel di tangan gue.


“Pembantuku! Apa lo jatuh di toilet?” James tiba-tiba muncul dari belakang gue sambil menepuk pundakku dengan keras, “Apa ini untuk gue? Pembantu memang lo yang paling baik pada gue! Ih? Apa cangkang kura-kura lo lepas?”


“Ah, lepasin gue!” Gue kenapa pusing lagi ketika melihat senyuman cerianya yang murah hati, gawat gawat…


Aku berusaha menyingkirkan tangan James, sedangkan ketel yang Bastian berikan padaku sudah ada di tangannya.


“Lari pendek 400 meter akan segera dimulai, lo tunggu saja gue di sini! Kemudian menggunakan suara paling keras untuk mendukung gue!”


“Pria tampan dari Sekolah Sunshine ini, lo sudah salah, Jasmin tercinta ke sini untuk menyemangati gue!”


Gue melihat ke belakang. Ih Bastian? Dia bukannya sudah pergi, kok kembali lagi?!


“Aih! Sayang sekali, gue juga ikut dalam lomba lari pendek 400 meter! Chhh, mungkinkah bocah yang begitu lucu akan menangis karena kekalahan nanti?”


“Bisa!” James menatap ke arah Bastian dengan senyum, “Tapi, jika awalnya memang sangat jelek, bahkan kalah dalam lomba lari pendek, apa dia akan bunuh diri?”


“Tentu saja! Tunggu, lo bilang gue jelek ya? Beraninya lo menghina gue?! Nak, tahukah lo siapa gue? Gue adalah Bastian yang terkenal di Sekolah Budaya!” Bastian menyeka rambutnya dengan narsis ketika berkata sampai sini.


“Oh… gue ngak tahu…” James menunjukkan tatapan bingung.


“Lo!” Bastian marah sampai mata membelalak, tapi dia tiba-tiba tenang dan berkata dengan senyum jahat, “James, beranikah lo bertaruh dengan gue?”


“Taruh apa?”


“Siapa yang kalah, maka perlu merangkak satu putaran di lapangan sambil mengeluarkan suara babi!”


“Suara babi? Suara babi itu seperti apa?”


“Lo ngak tahu ya? Lo benar-benar kesepian sekali, suara babi itu kek gini, heng heng…”

__ADS_1


“Oh! Ternyata suara babi kek gitu! Gue sudah mengerti!” Melihat ekspresi Bastian yang ingin mencekiknya sampai mati. Si bodoh ini! Aih!


__ADS_2