
Di duniaku Jasmin.
Semua pria adalah pria sialan yang bertele-tele! Ini adalah kesimpulan! Tapi…
Apakah matahari sudah akan terbit dari barat?
Kenapa di duniaku selain pria idiot, bisa muncul seorang malaikat yang membuatku mimisan
Dan pria berjari putih…
Sepulang sekolah, Sandy sudah dijemput oleh mobil mewah yang dikirim oleh keluarganya. Setelah aku berusaha untuk menolak undangan dari sekelompok orang terakhir, aku sangat lelah hingga berbaring di meja. Tapi, melihat surat cinta dan formulir pendaftaran klub di tanganku. Huh, sekelompok pria tengik yang gak pernah melihat wanita cantik, sudah lihat kehebatanku, kan!
“Jasmin, pasar saham juga sedang menguat akhir-akhir ini! Semangat, kamu segera bisa mengejarku! Hehe, kamu pulanglah dulu, aku masih ada kencan hari ini!” Evelyn mengedipkan mata di cermin portabel dengan puas, mengemasi tasnya dan bergegas keluar. Anak ini, pasti pergi menemui teman online ke-89 “Pangeran Tampan” yang ditolak.
Aku menghela napas, demi memenangkan hati guru, aku mendapatkan setumpuk jadwal kegiatan, lebih baik cepat selesaikan! Makan malamku…
Saat mendongak lagi dari jadwal, matahari sudah hampir tenggelam di balik gunung.
Ah, kehidupan SMA-ku yang indah! Semua orang memulai awal yang baik, tapi aku sudah diinjak oleh pria, James begitu masuk sekolah!
Sejujurnya, sampai sekarang aku masih gak percaya bahwa pria idiot yang kutemui di jalan kemarin adalah James, musuh bebuyutanku yang berulang kali menghalangiku! Dunia ini sungguh aneh, ternyata aku kalah dari orang bodoh seperti itu?! Ah…
Sedih… sedih… aku keluar dari gerbang sekolah dengan sedih, sekarang sudah tidak banyak pejalan kaki di Jalan Malaikat, aku berjalan dengan tenang di “Daerah Sekolah Budaya” di Jalan Malaikat.
Sebenarnya Jalan Malaikat tidak termasuk panjang, tapi dua sekolah yang saling bersaing berdiri saling berhadapan di ujung jalan ini. Garis pemisah tipis kuning di tengah jalan menjadi garis pemisah kekuasaan antara kedua sekolah.
Dua tahun ini, sekolah terus memperluas pendaftaran dan jumlah siswa meroket, ditambah waktu pulang Sekolah Budaya dan Sekolah Sunshine kurang lebih sama, jadi membentuk pemandangan yang indah pada jam setengah enam setiap hari.
Siswa-siswa Sekolah Budaya dan Sekolah Sunshine seperti air sungai yang gerbangnya dibuka dan semuanya keluar dari gerbang sekolah.
Siswa Sekolah Budaya cenderung disiplin dan akan langsung berbaris dalam beberapa barisan saat pulang sekolah, membentuk barisan biru dan keluar dengan tertib dari gerbang sekolah. Sedangkan Sekolah Sunshine justru sebaliknya, mereka semua berkelompok, berbicara, tertawa dan ribut keluar dari gerbang sekolah seperti air pasang merah.
Tetapi, tak peduli seberapa ramainya, tidak ada seorang pun di tim merah dan biru yang berani melewati garis pembatas kuning di tengah Jalan Malaikat. Ini adalah aturan tidak tertulis dari dua sekolah. Selama waktu sekolah normal, jika melewati pembatas tanpa alasan, akan dihukum sebagai pengkhianat!
Ada rumor yang mengatakan, seorang kakak kelas jatuh cinta dengan anak laki-laki Sekolah Sunshine, dia diam-diam melewati pembatas kuning dan pergi ke Sekolah SMA Sunshine untuk memberikan surat cinta. Alhasil tindakannya ketahuan dan dikucilkan oleh seluruh siswa sekolah. Lalu, akhirnya dia hanya bisa keluar dari sekolah…
Juga ada rumor bahwa seorang siswa Sekolah Sunshine yang tidak percaya itu dan mencoba untuk menginjakkan kakinya melewati garis kuning. Lalu keesokan harinya, dia datang ke sekolah dengan wajah memar yang parah…
Itu rumor… tentu saja, rumor hanyalah rumor! Tapi untuk membangun citra mulia Sekolah SMA Budaya sebagai “Sekolah terbaik kota”, aku pasti dengan tegas menuntut diriku untuk tidak pernah melewati garis ini!
Hm? Aku yang sedang berjalan tiba-tiba dihalangi oleh pembatas di depanku. Ada beberapa kata merah yang tertulis pada papan kuning.
__ADS_1
“Sedang perbaikan, silakan memutar.” Astaga! Gak mungkin, kan! Pihak sekolah bahkan merenovasi tembok pada saat ini, bahkan menggunakan jaring pengaman untuk mengelilingi tembok. Dan kebetulan sekali, pagar itu berada tepat di dalam garis kuning…
Ini satu-satunya jalan keluar dari Jalan Malaikat! Di ujung lain adalah jalan buntu No. 23, apakah aku harus terbang?!
“…” Sungguh menyebalkan, ketika aku sedang mencari jalan keluar, dua pria berseragam Sekolah Sunshine berjalan kemari sambil mengobrol.
Huh! Apa lagi yang bisa dikatakan, pasti hanyalah omong kosong!
“James…” Hm?! Apa yang sedang mereka bicarakan! Telingaku langsung menjadi tajam. Dan melihat ke arah suara…
Ah?! Bukankah pria berambut tegak itu adalah James, orang idiot parah itu?!
Jelas dia juga melihatku dan bergegas kemari dengan penuh semangat.
“Ah … bukankah kamu gadis waktu itu? Oh iya, kata-kata yang kutitipkan padamu, apakah kamu sudah sampaikan pada Jasmin?” Aku sedang berpikir bagaimana menjawabnya, tak disangka ekspresinya tiba-tiba menjadi ganas.
“Ah… jangan-jangan, jangan-jangan… kamu lupa?! Atau kamu ngak ingin menyampaikannya?!” Dia melihat papan konstruksi di depanku dan tiba-tiba tertawa keras, “Oh, hahaha… sudah kubilang, Tuhan akan menghukummu! Lalala! Tak bisa lewat, tak bisa lewat!”
Pria sialan itu bertepuk tangan di depanku dengan gembira dan alisnya yang tebal juga bergerak-gerak gembira. Kucubit kau sampai mati! Kucubit kau sampai mati! Aku dibuat menggila oleh pria ini beberapa kali. Huh! Apakah aku Jasmin begitu mudah dikalahkan?! Kamu bilang tak bisa lewat, aku malah akan melewatinya untukmu!
Aku secara visual memeriksa jarak antara jaring pengaman dan garis kuning, kurang lebih masih ada 30 sentimeter yang cukup lebar untuk satu kaki. Jika semuanya berjalan lancar, cukup pegang pagar pembatas di luar jaring pengaman dan bisa berjalan di jalan yang sempit itu.
James “Rambut tegak” sialan itu tertegun dengan tindakanku, tapi segera, dia berjalan kemari sambil tersenyum jahat dan berjongkok dengan gembira untuk menonton lelucon.
“Ah, menarik… ke sana sedikit, ke sana sedikit… ah ya, kakimu hampir menginjak garis. Ayo, ayo…” Pria itu benar-benar keterlaluan! Tak tahu dari mana dia mendapatkan ranting, saat aku “ngak sengaja” hampir menginjak batas, dia dengan “baik hati” mengetuk kakiku.
Ya ampun, pria sialan ini benar-benar kecanduan bermain, bahkan berani menyentuh kakiku?! Aku tahan!
“Jalanlah… oh… cepatlah…” Aku tahan lagi!
“Ah, ya. Kenapa kamu lambat sekali… ah, hati-hati, hati-hati…”
Aku harus tahan! Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi… ah! Apa! Kepalaku yang miring ke satu sisi melihat tonjolan di depan, mataku hampir keluar karena terbelalak! Aku dengan hati-hati mempertahankan keseimbangan tubuhku dan mencondongkan tubuhku sedikit.
Gak mungkin, kan! Langit ingin memusnahkanku!
Pagar pembatas di depan lebih menonjol dan membuat tempat yang hanya bisa meletakkan satu kaki menjadi semakin sempit. Huhuhu… apa yang harus kulakukan?!
Apakah aku harus mundur lagi di depan dua pria sialan ini?! Tidak, aku tidak mau meskipun dibunuh!
“Jalan, jalanlah… tidak bergerak lagi, tidak menarik…” Pria sialan itu mengeluh tidak puas sewaktu melihatku terdiam di tempat. Menarik? Wajahku mungkin sangat suram saat ini dan gigiku terasa gatal karena marah.
__ADS_1
Aku tiba-tiba merasa seperti seorang martir revolusi yang siap mengorbankan nyawa, berdiri tegak di jaring pengaman besar dan menghadapi provokasi “Musuh yang kejam”, mati pun tidak ingin menjadi pengkhianat…
“Bukankah kamu buru-buru? Hati-hati dimarahi kalau terlambat…” Tiba-tiba terdengar suara teredam. “Ah…” Terdengar teriakan keras. Jika tanganku tidak mencengkram pagar pembatas di belakangku, aku pasti akan menutupi telingaku.
“Matilah, matilah. Aku pasti sudah terlambat!” Lalu aku melihat embusan angin dengan debu, membuatku tersedak hingga air mata hampir keluar.
“Dia sudah pergi, kamu pergilah juga!” Aku baru menyadari pria yang bersama James masih berdiri di hadapanku, “TerimaKasih!” Aku menggertakkan gigi dan menekan dua kata ini. Huh, ingin aku menjadi pengkhianat! Pria sialan ini jangan bermimpi.
“Ah…” Aku mendengarnya mendesah pelan, “Kamu sungguh gadis yang aneh.”
Gadis aneh? Dia… dia mengatakan hal yang sama dengan malaikat itu. Aku hendak melihat lebih cermat pria di depanku, lalu aku melihat sepasang tangan putih terulur di depanku. Sepasang tangan yang sangat indah! Jari yang ramping, tulang jari yang proporsional, juga mengenakan cincin di jari kelingking tangan kiri.
“Berikan tanganmu padaku.” Suara teredam itu terdengar lagi.
Tampaknya disihir, aku bahkan mengulurkan tanganku padanya. Pertama kali bersentuhan dengan pria, tangan yang jauh lebih besar dan sentuhan yang sedikit dingin membuatku merasa sedikit bingung, tubuhku sedikit tidak stabil dan bersandar padanya.
“Injakkan kakimu di atas kakiku.” Ah?! Aku mendongak curiga, hanya melihat garis dagunya yang halus dan sehelai rambut di tepi telinganya.
“Jika kamu ingin lewat, dengarkan saja aku.”
Aku menurutinya dengan sedikit ragu. Ya ampun, apa yang dia lakukan?! Dia ternyata membawaku ke depan. Aku menginjak kakinya, jadi tidak bisa dianggap aku menginjak garis.
Tuk, tuk…
Jasmin, kamu bodoh ya! Dia adalah seorang pria, seorang pria yang kamu benci! Ta… tapi… dia tidak menindasku… bahkan masih membantuku…
Tolong! Bisakah jangan begitu tidak berprinsip? Kenapa masalah kecil seperti ini sudah membuatmu goyah, mungkin dia melakukannya untuk konspirasi yang lebih besar.
Tapi… dia tidak mirip orang jahat, “Sudahlah.”
Aku tiba-tiba pulih kembali, sewaktu sisi baik dan jahat hatiku sedang bertarung, aku sudah dibawanya sampai ke “area normal”.
“Terima… terima kasih.” Aku menatapnya malu-malu dan topeng “pria” yang kuberikan padanya hancur setelah dia membantuku.
Cantik… cantik sekali! Kulitnya lebih putih dari anak laki-laki biasa, fitur wajah yang indah dan matanya berwarna… cokelat!
“Tak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya dalam suasana hati yang baik hari ini.” Setelah selesai berbicara, dia berbalik dan pergi. Astaga, kenapa ada yang tidak beres di awal SMA-ku! Di duniaku Jasmin dulu, hanya ada pria selain wanita! Tapi sekarang…
James, seorang “pria” yang mirip orang idiot.
Seorang malaikat yang membuatku mimisan begitu melihatnya. Bahkan muncul seorang pria dengan jari yang putih dan ramping.
__ADS_1