
“Ah…” Wah! Pantatku sakit sekali! Aku terjatuh ke tanah dan menggosok pantatku yang hampir hancur.
“Brengsek! Apaan ini! Malah menghalangi di tengah jalan!” Diriku yang sudah marah sampai kepalaku pusing pun mengeluarkan sifat asliku, duduk di tanah dan marah-marah.
“Wah! Wanita ini sangat galak! Padahal kelihatannya sangat cantik!”
“Jangan menilai dari penampilan saja!”
Orang yang lewat berbisik-bisik di atas kepalaku.
“Sungguh cerewet!!” Aku mengatakannya dengan suara rendah. Tetapi, hari ini benar-benar hari yang buruk! Seperti dibangkitkan oleh dewa kematian! Mengapa bisa begitu sial! Semua gara-gara James!! Orang gila serta bodoh itu! Heh!
Sekali teringat nama James ini, aku sangat kesal, aku sangat ingin menggigitnya! Kugigit jadi kentang tumbuk!
Tiba-tiba, sebuah tangan berwarna kuning langsat terulur ke depanku. Ha? Apa yang terjadi?
“Kamu baik-baik saja?” Sebuah suara nyaring berbunyi di atas kepalaku.
Aku mengangkat kepala dan melihat! Ma… malaikat……
Astaga! Di dunia ini benar-benar ada malaikat? Malaikat yang sangat indah! Setelah menembak Daniel, aku tidak pernah memiliki perasaan pusing seperti ini dalam sepuluh tahun dan sekarang mulai menyerangku sekali lagi!!
Seluruh otakku menjadi kosong, tidak tahu bagaimana bereaksi.
“Kamu baik-baik saja!” Dia membungkukkan punggungnya, melihatku dengan tersenyum manis.
Hmm… sungguh menusuk mata!! Wajah tersenyum malaikat itu seperti memancarkan cahaya keemasan, dan menusuk mataku sampai sakit! Ternyata semua malaikat itu begitu indah? Tidak hanya indah, bahkan, bahkan jika tersenyum sangat…
“Kenapa? Apakah kamu tidak sehat?” Intonasi dalam suara malaikat terdengar sedikit khawatir.
“Ya… A? Apa…” Aku merasa wajahku sangat panas seperti terbakar, suaraku juga bergetar.
Tidak disangka aku wanita cantik yang pernah menghancurkan beribu-ribu hati pria, hari ini justru bisa merasa gugup di depan malaikat ini! Jangan-jangan, apakah ini jodoh yang sudah ditakdirkan untukku?!
Mataku berbinar-binar dan jantungku berdetak lebih cepat. “Kalau begitu aku akan menarikmu berdiri! Tidak baik bagi wanita yang memakai rok duduk di tanah!”
“Iya… baik… baiklah…” Aku menundukkan kepala, lalu aku mengangkat tanganku dengan lembut seperti seorang putri.
Malaikat memegang tanganku dengan lembut dan menarikku dengan perlahan dari tanah. Wah! Bagaikan mimpi… seperti putri dan malaikat (Catatan, aku tidak pernah memasukkan pria dalam imajinasiku!! Aku mabuk dalam imajinasiku sendiri.
Detik dimana aku hendak berdiri dengan tegap, tiba-tiba aku memutar kepala dan melihat wajah malaikat sekilas…
Astaga! Senyuman emas itu lagi!!
“Puh…”
Apa ini? Aku merasa ada sesuatu seperti air keran yang menyemprot keluar dari hidungku.
“Kamu baik-baik saja, kan…” Tanyaku dengan tatapan kosong.
“Ini…Seharusnya aku yang bertanya padamu, kan?”
“Kenapa ada bercak-bercak warna merah di lenganmu? Di wajahmu juga ada…” Jari tanganku menunjuk-nunjuk wajahnya.
“Karena kamu darahmu terciprat ke tubuhku tadi…” Malaikat masih tetap tersenyum dengan lembut.
__ADS_1
“Tidak… tidak mungkin…” Aku berkata dengan ekspresi wajah yang sama, aku mengusap bagian bawah hidung ku dengan jari secara perlahan, lalu melihat dengan teliti.
“Wah, benar-benar mimisan…”
“Apakah dia gila? Cepat antar dia ke rumah sakit!” Seorang pria yang menyebalkan justru menghalangi di depan malaikat, mengganggu komunikasi jiwaku dengan malaikat! Tetapi… apakah malaikat akan menganggapku makhluk aneh dan membenciku?! Apa yang telah kulakukan! Ke mana semua sikapmu yang biasa sopan dan elegan itu!! Mengapa bisa begitu bodoh di saat yang genting!! Dia pasti telah menganggapku sebagai orang bodoh! Hu hu hu hu…
Aku sedikit terluka, mataku tertunduk, dan berjongkok dengan menyedihkan, lalu air mata jatuh dari sudut mataku.
“Kamu baik-baik saja, kan? Apakah kamu sakit?” Sebuah tangan dengan suhu yang hangat mengusap dahiku, akhirnya aku mengerti mengapa setelah orang meninggal harus menjadi malaikat, he he! Aku membuka mataku dengan lebar dan memandangnya, karena air mata, mataku menjadi kabur. Malaikat melihatku sehingga membuatku tercengang.
“Kamu mau masuk untuk istirahat sebentar…”
“Iya!” Malaikat memintaku masuk, dia memintaku masuk! Aku mengangguk-anggukkan kepala, dan berjalan masuk ke dalam restoran cepat saji bersama malaikat.
“Hidungmu masih mimisan, ini tisu, cepat bersihkan!” Tidak disangka malaikat berjarak tidak lebih dari 5 cm dari ku, kulitnya cerah berwarna kuning langsat, rambutnya hitam dan berkilau, alis mata yang hitam dan panjang bak boneka, hidungnya mancung, matanya berkilau bagaikan mutiara hitam, dan bibir yang tipis itu. Hanya saja seragamnya yang berwarna putih ada sedikit semprotan darah berwarna merah, tetapi masih begitu tampan…
Tunggu!!
Astaga!!
Saat ini aku baru tiba-tiba sadar, darahku! Aku! Tidak disangka aku menyemprotkan mimisanku!! Malaikat yang malang, seragam putihnya penuh dengan karyaku yang luar biasa. Jasmin, habislah kamu, benar-benar habis! Tidak disangka perilaku yang hanya muncul pada diri orang mesum juga muncul pada dirimu!
Aku segera menerima tumpukan tisu dalam tangannya, dan menutup hidungku dengan sekuat tenaga.
“Apakah ini sering terjadi?” Malaikat mengedipkan sepasang mata yang menggoda itu dan bertanya dengan penasaran, astaga, di dunia ini benar-benar ada surga!! Astaga, aku pusing lagi!! Menurutku, senyumannya sama mematikannya dengan bom atom! Demi mempertahankan nyawaku yang kecil ini, aku sama sekali tidak berani mengangkat kepala untuk melihatnya!
Malaikat sedang mengkhawatirkanku!! Melayang… melayang. Tetapi, tetapi bagaimana aku menjelaskannya? Bilang karena aku tidak bisa menolak ketampanannya? Atau tubuhnya? Berhenti! Jasmin, kamu benar-benar memalukan!
“Bagaimana? Masih tidak nyaman?” Malaikat menunjukkan kasih sayangnya lagi. “Iya…” Benar! Bukankah banyak adegan seperti ini di televisi?
“Aku, dari kecil aku memang tidak begitu sehat, sering pingsan, dan mimisan...” Demi mencocokkan efeknya aku mulai pusing lagi dengan sengaja.
“Kamu tidak apa-apa, kan? Sudah lebih baik?” Kedua tangan yang memapah bahuku itu, benar, perasaan semacam ini yang kuinginkan! Jangan dilepaskan, jangan sampai dilepaskan!
“Kelihatannya kamu perlu makan sedikit dulu, aku akan pergi mengambilkan sedikit makanan untukmu!”
“Baik…” Aku memandang kedua tangan ramping yang meninggalkan pandanganku itu dengan tidak rela, dan tersadar dari kemabukanku sekali lagi. Hy House? Aku yang sudah sedikit sadar baru menyadari aku sedang duduk di dalam sebuah restoran yang dekorasinya sangat khusus. Dekorasinya sederhana dan hidup, jendelanya menggunakan kain putih yang indah, dan yang paling istimewa adalah di bagian tengah setiap meja ada bola kaca yang bersinar bagaikan bola kristal penyihir.
Bukankah ini surga, di mana malaikatku? Aku memutar badan ke belakang, dan menyadari sekeliling penuh dengan pria yang memakai seragam putih yang sama seperti malaikat, ternyata dia adalah pelayan di restoran ini!!
“Satu porsi kentang gratin, salad, hamburger, dan secangkir air lemon! Cukup?”
“Iya!” Melihat makanan, aku memang sudah sedikit lapar.
“Kamu tidak sehat, kamu harus lebih perhatikan kesehatanmu!” Dia menyerahkan air ke tanganku, sungguh terharu! Kelihatannya aku hanya bisa terus melanjutkan sandiwara ini…
“Kamu sangat baik terhadapku! Biasanya aku selalu sendirian, tidak punya teman…” Pada akhirnya aku mulai menggunakan vibrato frekuensi tinggi dan mengendalikan volume suaraku dari besar menjadi semakin kecil, membuat efek yang tidak berdaya, lemah, menyedihkan… aku sudah bisa meraih piala Oscar!
“Aku kan temanmu! Benar tidak?”
Oh Yeah! Yang kutunggu-tunggu adalah perkataan ini!! Menahan kebahagiaan dalam hati dengan kuat, aku terus bersandiwara dengan professional.
Aku menopang daguku dengan lembut menggunakan tangan dan memandangnya dengan getir seperti putri bangsawan dalam suatu cerita. He he~ini adalah salah satu gerakan khas wanita cantikku yang dikenal dengan keanggunannya! Orang yang melihat ekspresiku ini, belum ada satu pun yang tidak memujiku!
Lihatlah diriku! Lihat diriku…
__ADS_1
“Pegang baik-baik, ini adalah hamburger yang kamu mau!”
“Em?”
“Jangan bilang, kamu makan begitu sedikit saja sudah kenyang!” Malaikat itu melirik makanan yang tersusun menyedihkan di depanku.
“Tetapi…” Aku sedikit kesulitan dan mengerutkan keningku. Sebenarnya aku tidak membenci hamburger sapi! Hanya saja kalau mau makan hamburger harus membuka mulut dengan begitu… besar! Sama sekali tidak elegan! Apalagi… karena sejak kecil aku suka makan permen, beberapa gigiku sudah rusak, bukankah sangat memalukan kalau ketahuan…
Ha? Mengapa hamburger tiba-tiba terbang dan berhenti di samping mulutku? Baunya sangat menggoda! Yah, tiba-tiba aku sangat lapar! Aku tidak dapat menahan dan menggigitnya.
Tetapi, tunggu… malaikat sedang menyuapiku makan hamburger?! Sungguh! Bahagia sekali!!
“Kamu benar-benar sangat lucu, bisakah kamu memberitahuku namamu?”
Aku benar-benar tenggelam dalam pujian malaikat dan langsung menjawab, “Jasmin Sutandy!”
“Jasmin Sutandy! Nama dan orangnya sama-sama lucu! Kamu dari Sekolah Menengah Budaya?”
“Iya…” Otakku telah berubah menjadi bubur, satu-satunya tindakan yang kulakukan adalah mengunyah hamburger.
“He he, he he!” Tiba-tiba malaikat mengeluarkan suara tertawa yang aneh, lalu tiba-tiba mendekatiku dan tersenyum padaku.
Bang…
Aku tertembak dengan tepat sekali lagi!!
Berita… berita heboh!! Jarak dengannya sangat dekat. Dia sungguh sangat tampan… seluruh wajahnya seperti sedang mengeluarkan cahaya yang berkilauan! Apalagi seluruh tubuhnya menyebarkan aroma mint yang ringan. Mataku kehilangan titik fokus, menatapnya dengan lurus, kebahagiaan yang datang secara tiba-tiba ini membuat otakku kosong, sama sekali tidak mendengar apa yang dia bicarakan. Belum menunggu aku bereaksi, pria tampan sudah mengangkat daguku, dan memasukkan dua gulungan tisu ke dalam hidungku!!
Apa… apa yang terjadi?!
“Tidak baik jika kamu mimisan terus seperti ini! Meskipun penampilan dengan tambalan tisu tidak cantik, tetapi akan lebih baik dalam memberhentikan mimisanmu…” Aku melihatnya dengan aneh, malaikat justru mengeluarkan ponselnya, apakah dia mau meminta nomorku?
Astaga, cepat sekali! Melayang lagi… terus melayang lagi…
“Mari, lihat kemari, senyum…”
“Hah?” Aku yang masih belum siap mental, menyadari ternyata malaikat sedang menggunakan ponsel untuk memotretku? Yah, tidak disangka perkembangannya begitu cepat? Semua ini seperti mimpi.
“Ckrek Ckrek” beberapa kali, sepertinya sudah selesai dipotret…..
Malaikat memandang fotoku dengan wajah tersenyum, dia pasti menganggapku sangat lucu! Meskipun wajahku tidak termasuk yang paling cantik di negara ini, tetapi pasti termasuk yang paling cantik di tingkat provinsi dan kota. Memikirkan sampai sini, aku mulai melayang-layang lagi. “Kring… kring…”
Di waktu yang penting ini, ponsel malaikat justru tiba-tiba berbunyi tanpa kenal waktu!
“Halo? Dylan! Sekarang? Baiklah, aku akan ke sana!” Dia menutup telepon.
“Maaf, aku mau keluar sebentar, tidak bisa menemanimu lagi, kamu bisa sendiri, kan?” Dia berkata sambil memberikan tisu padaku, sungguh hangat!
“Iya, bisa!” Aku menyeka mulut sambil mabuk, lalu mengantar kepergiannya, seperti suami istri, he he… Suami istri? Bagaimana aku bisa memikirkan kata ini? Tetapi jika ada seorang suami seperti malaikat pasti akan sangat menyenangkan…
“Ah, Nona, kamu mau bayar sekarang?”
“Ba… bayar...” Aku terbangun dari kebahagiaanku, ah! Bayar! Benar!! Malaikat sudah pergi?! Menatap makanan semeja yang belum habis, aku mulai sakit hati, “Be… berapa harganya?”
“50.000 ribu!”
__ADS_1
“…” Aku mengeluarkan dompet dari tasku, apa pun layak asalkan bisa melihat malaikat, he he!