Jalan Malaikat Nomor 23

Jalan Malaikat Nomor 23
Pesta Kostum


__ADS_3

Gue melewati hari pertama lomba olahraga dengan gugup karena kata-kata terakhir James.


Esok paginya lomba berlangsung dengan aman, James juga tidak mencari masalah denganku. Waktu yang sama, sekolah sangat ramai bahkan bisa melihat tim biru dan tim merah berjalan-jalan di dalam sekolah. Karena siswa kedua belah pihak sekolah boleh masuk keluar kedua sekolah selama lomba tiga hari ini. Sedangkan “Romeo dan Juliet” yang sudah lama dihalang karena berbeda sekolah juga menggunakan waktu ini untuk kencan bahkan pasangan pun bertambah banyak dalam beberapa hari ini.


“Ah, cepat lihat, pria yang makan roti itu ganteng kali!” Sandy tiba-tiba menarik tangan Evelyn sambil digoyang dengan kuat.


“Tapi…”


“Cukup cukup, gue tahu tapi dia tidak seganteng Juan kesayanganmu!” Evelyn membujuk Sandy, kemudian melirik gue, “Jasmin, kenapa lo? Hari ini, lo sangat cemas.”


“Apa? Ngak ada, haha…” Gue lekas memberi mereka senyuman santai, tapi ini tidak menghilangkan rasa ingin tahu Evelyn.


Sejujurnya, bagaimana gue bisa memiliki perasan senang, masalah foto saja sudah membuat gue pusing. Lalu, semalam bisa-bisanya gue mendengar ide Bastian, kemudian ngak berhasil mencelakai James, akibatnya…


“Gue tahu, gue tahu…” Sandy sengaja melihat gue, “Jasmin, apa lo khawatir akan pesta kostum besok malam? Ngak akan ada masalah! Jika ada Evelyn, maka kami pasti yang tercantik…” Pesta kostum? Pesta kostum apa? Gue menatap mereka dengan bingung.


“Gue benar-benar kalah denganmu. Sesuai tradisi, pada malam terakhir pertandingan kedua sekolah akan mengadakan pesta kostum dan siswa kedua sekolah boleh berpartisipasi.” Evelyn memberengku dengan tak berdaya.


“Apa ibu lo ngak keberatan?” Gue melihatnya dengan kaget karena bagaimana mungkin Kepala Sekolah Lidya yang tertutup menyetujui tradisi begini ada.


“Jika bisa membantah, dia pasti akan melakukannya. Tapi…”


“Wow, itu tiga pangeran dari Sekolah Sunshine!”


“Uuuu, mereka bertiga benar-benar mempesona!” Kata-kata Evelyn tiba-tiba terputus oleh teriakan yang semakin keras, sedangkan gue melihat ke pintu masuk kantin. Lalu melihat James dan temannya masuk ke kantin.


“Juan! Mari mari!” Sandy melompat dari tempat duduknya dan melambai tangannya.


Juan begitu masuk sudah melihat Sandy, jadi dia menyampaikan sesuatu pada James, lalu kabur!

__ADS_1


“Hei ke mana lo?! Tunggu gue…” Sandy mengejar. Sedangkan gue dan Evelyn saling menatap, tapi berkat Sandy, James dan Dylan melirik gue dan Evelyn, lalu mereka berjalan kemari dengan senyum.


“Adik Jasmin, Evelyn, halo!” James menyapa kami seperti menyapa teman lama.


Oh, teman?! Gue merasa sangat lebih jijik mendengar kata ini daripada menelan lalat! Tapi…


Gue diam-diam melirik Dylan, lalu dia menganggukkan kepala pada kami dan duduk di samping James.


 “Pagi hari ini sangat lelah, jadi gue ingin makin daging sapi dan iga di siang ini!” kata James dengan tersenyum, lalu melihat gue dengan penuh makna.


“Apa?” Gue menatapnya dengan bingung, apa dia ngak bisa beli sendiri?


James berekspresi bangga sambil mengangkat alisnya kepada gue, kemudian menatap Dylan.


Huh, Jasmin sabar demi tidak membuat masalah! “Ehem, ini… kalian sudah datang ke Sekolah Budaya maka adalah tamu kami, jadi gue undang kalian makan siang…” Gue harus mengeluarkan uang demi citra gue!


“Nasi steak sapi, makasih.”


“Baik! Ngak ada masalah! Haha, ayo!” Gue menarik Evelyn dan berjalan menuju ke jendela penjualan makan.


“Jasmin! Apa yang lo lakukan?” Evelyn menatap gue dengan bingung.


“Haha, ngak apa-apa!” Gue jawab dengan senyum.


“Apa lo ngak apa-apa? Lo yakin?”


“Iya…”


Gue tentu saja ada masalah, tapi sementara ini ngak ada masalah. Evelyn, hanya saja ngak ada yang bisa menolong gue, wuwuwuwu…

__ADS_1


“Ja… James, nama… namaku Candy, apa aku boleh kenalan denganmu?”


Aih, wanita yang polos lagi!


“Candy, namamu lucu seperti orangnya!”


“Benarkah? Kalau begitu, bisakah kita jadi teman?”


“Tentu saja… paha ayammu terlihat sangat enak!”


“Apa kamu mau? Untukmu!”


“Apa itu juga boleh kasih aku?”


“Ah?! Tentu… tentu saja!”


“Ah, kami sudah datang, maaf sudah menunggu lama!” Gue menaruh makan siang itu di meja dengan kuat, lalu melihat wajah polos itu dan bisa-bisanya dia menipu paha ayam orang!


“Dylan, paha ayamnya sangat enak, ini!” Pria polos tapi hatinya licik dan bisa-bisanya memberi paha ayam yang ditipunya ke orang lain!


Gue melihat teman sekelas yang senang dan piring kosongnya dengan simpati, seolah-olah seperti melihat diri sendiri ketika di Hy House hari itu!


“Ngak perlu, lo makan saja!” Dylan lebih manusiawi daripada bocah itu!


“Ih? Sup hari ini adalah sup sayur asem, bagus sekali!” James makan dengan lahap dan tidak peduli dengan tatapan gue.


Evelyn melihat gue dan melihat James dengan gugup karena takut gue akan melakukan hal yang parah. Sedangkan James menatap gue dengan senyum penuh makna, lalu menundukkan kepala untuk makan dan tidak mengatakan apa-apa.


Tapi, gue merasa hal yang terjadi nanti akan melampaui beban hati yang bisa gue terima.

__ADS_1


__ADS_2