
Seharian David menghabiskan waktunya bersama Sri. Hingga tak terasa waktu kini telah berganti Sore.
Pada awalnya Sri menolak David mengantarkannya pulang sampai depan rumahnya.Tapi bukanlah David jika tidak keras kepala dan memaksa namanya.
"Disini?" tanya David yang baru berhenti di depan pagar rumah Sri.
"Iya, Tuan." Sri mengangguk dan kini mulai turun dari mobil David.
"Hei gadis manis, apa kau tidak mengajaku untuk sekedar duduk dan minum kopi di teras depan rumahmu?" David berharap Sri berbaik hati mengajak masuk ke dalam rumah.
Sri mengedarkan pandanganya ke arah rumah tetangganya. Ia takut kedatangan David malah akan menjadi gosip terbaru.
Tanpa menunggu persetujuan dari Sri si pemilik rumah. David kini turun dari mobil dan merangkul pundak Sri.
Dari kejauhan Rohana si Ratu rumpi tersenyum penuh kemenangan.
"Wah ... ada berita terbaru nih." ucap Rohana.
Rohana melangkah mlipir dengan hati hati mendekati mobil mewah milik David. Dirinya benar benar terpukau karena seumur hidupnya, baru kali ini bisa melihat secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.
"Foto dulu ah." Rohana berselfie ria dengan gaya berdiri di samping mobil mewahnya.
Saking asyiknya berselfie. Tak sengaja tangan Rohana menyenggol mobil mewah David hingga membuat alarm mobilnya menyala.
David yang sedang duduk di ruang tamu yang berukuran kecil rumah Sri. Seketika keluar dan berlari untuk memastikan keamanan mobilnya.
"Hei ... mau apa kau? apa jangan jangan kau ingin mencuri mobilku?" selidik David dengan mata tajam menghunus.
Rohana bergetar ketakutan sampai tak terasa terkencing kencing di dalam celananya.
"Tidak ... tidak mas Bule. Saya bukan maling, nama saya Rohana, saya warga disini yang kebetulan lewat dan tidak sengaja menyenggol mobil mewah anda mas Bule." jelas Rohana.
Sri yang mendengar kegaduhan di depan rumahnya itu. Kini dirinya melangkah dan bergabung di samping David.
"Ada apa toh mas?" tanya Sri pada David yang berkacak pinggang menatap tajam pada Rohana.
"Wanita ini mencoba mencuri mobilku. Sri." ucap David.
"Tidak ... tidak Sri, Saya berani bersumpah saya cuma tidak sengaja menyenggol mobil masnya ini." Ungkap Rohana.
Sri memegang tangan David dan meminta agar segera menyudahi kesalah pahaman ini.
__ADS_1
"Baiklah ... kali ini kau ku maafkan, lain kali jika terjadi seperti ini lagi maka Kekkkk ..." David menggunakan tanganya sebagai isyarat memenggal kepala di lehernya.
Rohana yang ketakutan lebih memilih kabur dan menyelamatkan dirinya.
"Tuan, ayo masuk. Kopinya sudah dingin." ajak Sri yang melangkah mendahului David.
Kenapa kau tidak memanggilku dengan sebutan mas lagi, Sri. Oh, tidak. Apa ini yang dinamakan sandiwara cinta sesaat.
David menggeleng kepala dan menepuk nepuk pipinya agar segera sadar dari lamunan sesaatnya.
Dan kemudian ia berlari kecil mengejar Sri yang sudah memasuki rumahnya.
"Jadi kau hanya tinggal disini berdua dengan adikmu?" tanya David sekaligus mengawali obrolanya.
"Iya, Tuan." jawabnya.
"Terus ... Mama dan Papamu, kemana mereka?" selidik David yang ingin mengetahui latar belakang gadis yang mulai di sukainya.
"Bapak meninggal ketika Cipto baru di lahirkan. Dan Ibu meninggal lima bulan yang lalu karena penyakit lever yang di deritanya." jelas Sri yang tanpa sengaja meneteskan air matanya.
"Maafkan aku, Sri. Bukan niatku membuatmu bersedih." David merasa bersalah dan menyesali apa yang telah di tanyakanya pada Sri.
Dret ... Dret ... Dret ...
Dan tak berselang lama. Obrolan di dalam handphone David pun berakhir.
David menoleh ke arah Sri yang masih menunduk bersedih.
"Sri, ada kabar baik untukmu." ucap David dan Sri pun langsung mengangkat wajahnya.
"Kabar baik apa, Tuan?" tanya Sri dengan antusiasnya.
"Adikmu sudah melewati tahap operasinya. Dan kini dia telah di pindahkan ke ruangan khusus VVIP yang sudah di sediakan pihak rumah sakit." jelas David.
Sri menangis bahagia dan secara tidak sadar ia memeluk David dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang David.
"Terima kasih, Tuan. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang telah anda berikan kepada kami." ucap Sri dan sukses membuat David meneteskan air matanya.
David mengangguk dan kini membalas pelukan Sri dan mencium kepalanya.
Seumur hidupku. Baru kali ini aku merasa hidupku berarti untuk orang lain. Dan ternyata tidak semua wanita itu kejam dan menyebalkan.
__ADS_1
Sri yang kini tersadar dari tangisnya. Kini dirinya mencoba melepaskan pelukan hangat David yang mencengkram seolah tak mau melepaskanya.
"Tuan, bisakah anda melepaskanku?" Sri memohon namun David hanya menggelengkan kepalanya.
"Biarkan aku begini untuk sebentar saja Sri." David memohon sambil menciumi kepala Sri yang yang terasa aroma therapy.
Sri terus memberontak mencoba mendorong tubuh David yang masih betah memeluk dirinya.
Sungguh kasihan Sri. Dirinya kini sudah seperti sang kancil yang sedang di lilit kuat oleh seekor ular besar, yang kapan saja bisa memakanya sesuka hatinya.
David melepas pelukannya dan dengan cepat kembali meraih tengkuk Sri dan menariknya.
Cupsss ...
Lagi lagi Sri tak kuasa menolak. Bibir dan tubuhnya seolah mengizinkan Sri agar terus menikmati alunan permainan David yang terus bermain dengan epic.
Epppookkkk ...
David melepas pagutan bibirnya setelah merasa puas menghisap manisnya madu yang berada pada bibir Sri yang Seksih.
Wajah Sri memerah malu mendapatkan perlakuan lembut David padanya.
"Cepat kau mandi! kita harus pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Cipto Adikmu!" titah David sambil tersenyum puas mengelap sisa saliva yang masih menempel di bibirnya.
Sri mengangguk dan kini berlari menuju kamar mandi kecilnya.
Apakah esok aku masih bisa merasakan manisnya madu pada bibir Sri.
David melangkah keluar dan kini duduk di amben teras depan rumah Sri.
"Besok Kakek menyuruhku pulang ke inggris, itu artinya aku tidak bisa menikmati manisnya bibir Sri." keluh David yang tak mau berada jauh dari Sri.
Oh tuhan. Tolonglah hambamu ini yang baru saja mencicipi arti sebenarnya dari manis surgawi.
David menutup wajah dengan kedua tanganya.
Di rumah sakit. Cipto kini sedang berbaring di temani mbok Darmi yang selalu setia menjaganya.
"Mbok, mba Sri dimana? kenapa Cipto tidak melihat seharian ini?" Cipto merasakan sedih di dalam hatinya.
"Cipto, mbamu itu sedang bekerja, berkeliling jualan jamu. Jadi Cipto jangan bersedih, mungkin sebentar lagi mbamu akan datang menjengukmu." mbok Darmi mencoba memberi pengertian pada Cipto.
__ADS_1
Cipto kini bersedih dan menangis. Dirinya merasa bersalah.
Seharusnya Cipto tidak boleh sakit. Karena ini pasti membuat mba Sri harus cari uang untuk bayar rumah sakit.