Jamu Cinta

Jamu Cinta
RENCANA TERSEMBUNYI OSCAR


__ADS_3

Ke esokan harinya. David kini terlihat duduk di ruang Private room. sebuah ruangan khusus, yang biasa ia gunakan untuk membawa gadis pemuasnya sebelum mengenal Sri.


Setelah puas mengancam Amanda. Kini Oscar kembali menemui David yang sudah menunggunya di private room.


"Masuklah." seru David dari dalam ruangan private roomnya.


Oscar membuka pintu private room dan kemudian masuk dengan tawa yang sudah tidak asing lagi di mata David.


"Apa kau sudah menemukan siapa pelaku yang meracuni makanan di acara pertemuan pentingku tadi malam?" tanya David.


Oscar tertawa renyah sambil mendudukan dirinya di hadapan David.


"Bukan Oscar namanya jika aku tak bisa menemukan siapa dalang di balik kejadian ini." Oscar tertawa membusungkan dada merasa bangga.


"Bagus, cepat katakan padaku! karena aku akan mencincang tubuhnya saat ini juga." ucap David sambil menyangga dagu dengan kedua tanganya di atas meja memandang tajam pada Oscar.


"Jika aku sebutkan namanya, apa kau sendiri yang akan langsung menuntaskanya sendirian?" tanya Oscar yang tak mau rencana manisnya buyar begitu saja.


David bangkit dari duduk dan melangkah menghampiri Oscar.


"Apa maksudmu?" tanya David yang masih merasa bingung dengan pertanyaan Oscar.


Oscar berdiri dan kemudian merapikan jas dan kemeja David.


"Untuk masalah ini, aku sendiri yang akan menuntaskanya, percayalah padaku!" pinta Oscar dengan nada sedikit memaksa.


David memiringkan kepala memandang Oscar sambil tersenyum kecut.


"Rencana apa yang kau sembunyikan dariku hingga bernafsu ingin menyelesaikan ini tanpa campur tanganku?" tanya David menyelidik.


"Ada sedikit keuntungan yang tak bisa aku jelaskan padamu, David. Dan ini adalah keinginan yang yang mencakup angan anganku." jelas Oscar yang masih berkelit tak mau jujur.


Situasi tegang di wajah David kini mencair berubah menjadi sebuah tawa yang mengerikan.


"Lakukanlah apa yang kau mau, Oscar. Hanya satu pintaku padamu ..." pinta David sambil menunduk tersenyum licik.


"Apa itu David?" tanya Oscar.


David mengangkat wajahnya dan kemudian memandang wajah Oscar dengan senyumnya yang menakutkan.


"Hukum orang itu seberat beratnya! Dan buat ia menyesal seumur hidupnya!" pinta David seraya pergi meninggalkan Oscar yang masih tersenyum simpul penuh akan kepuasan.


"Tenanglah David, aku akan memberikan hukuman yang sangat berat, melebihi dariyang kau bayangkan." Oscar melangkah keluar dari private room menuju kamarnya.


Di kamar Cipto. Sri kini bisa bernafas lega, karena Cipto adiknya kini telah sadar dan selamat dari racun yang tak sengaja ia makan semalam.


"Apa perutmu masih sakit, Dek?" Sri mengusap rambut Cipto.


Cipto tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, mba. Cipto sudah sembuh." jawabnya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu membuat Sri dan Cipto menoleh bersamaan.


Tanpa menunggu Sri bangun dari duduknya. David kini masuk ke dalam kamar Cipto untuk melihat kondisi kelanjutan calon Adik iparnya.


"Hai bocah. Bagaimana keadaanmu?" tanya David yang tak pernah berbasa basi.


"Cipto sudah sembuh Bang." jawab Cipto dengan senyum memancar dari wajahnya.


David duduk di sebelah Cipto yang masih terbaring lemas.


"Baguslah, kau tak boleh berlama lama sakit. Itu tidak baik untukmu." ucap David sambil mengacak ngacak rambut Cipto.


"Mas ... kamu itu ngomong apa sih." tegur Sri yang kurang senang dengan candaan David.


David menoleh pada Sri dan hanya tertawa kecil.


"Sayang ... aku hanya bercanda. Jangan serius seperti itu!" ucap Davis dengan santainya.


"Iya, mba. Bang David cuma bercanda Kok. Jangan serius seperti itu, nanti cepat tua, loh." Cipto menimpali.


Kalian berdua sama saja." ketus Sri.


Sri bangkit dari duduk dan kini dengan malasnya pergi melangkah meninggalkan Cipto bersama David.


"Bang ... Bang David." Cipto menggguncang lengan David yang sedang menatap Sri keluar dari kamarnya.


David menoleh memandang Cipto dan menggedikan kepalanya.


"Ada apa Cipto?" tanya David.


Cipto meminta tolong pada David untuk mengambilkan handphonenya yang tergeletak di atas nakas.


"Terima kasih bang." ucap Cipto.


David mengangguk dan tersenyum melihat Cipto yang kini terlihat lebih baik dari sebelumnya.


"Bang ... ada sesuatu yang Cipto ingin tunjukan." ucap Cipto dengan serius memandang wajah David.


"Ada apa Cipto, katakan saja." David mengusap kepala Cipto.


Cipto kini terlihat berkutat dengan handphonenya. Dan kemudian ia menunjukan foto Erika yang ia ambil ketika Erika menaburkan racun obat pada makananya kepada David.


"Ini Erika, kan?" David menzoom gambarnya dan memperhatikan dengan seksama.


Wajah David kini berubah menjadi tidak tenang melihat Cipto.

__ADS_1


"Sejak kapan kau mengetahu hal ini Cipto?" tanya David dengan nada serius.


Cipto menunduk takut tak berani memandang wajah David.


"Kemarin sore sebelum acara makan malam, Bang." jawab Cipto yang kini ketakutan.


David memegang kedua bahu Cipto dan mengguncang guncangnya.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku, hah!" tanya David dengan marah.


"Sebenarnya kemarin Cipto ingin menyampaikanya pada mba Sri, akan tetapi ..." Cipto semakin ketakutan dan tak sanggup melanjutkan kata katanya.


David mengusap wajahnya dengan kasar dan kemudian memeluk Cipto meminta maaf.


"Bang ... yang mereka targetkan adalah mba Sri, bukan Cipto dan teman abang yang semalam pingsan." jelas lagi Cipto di dalam pelukan David.


David melepas pelukanya dan dan kini mencoba bersikap tenang agar Cipto tidak merasa ketakutan padanya.


"Darimana kau bisa tahu itu Cipto?" selidik David.


Cipto menceritakan dari awal ketika ia menguping pembicaraan antara Erika dan Amanda sampai dimana Erika menaburkan racun obatnya di dapur kepada David.


"Bang ... Cipto mohon. Lindungilah mba Sri, karena beliau adalah Kakak sekaligus pengganti Ibu untuk Cipto." ucap Cipto sambil menangis.


Ucapan Cipto sungguh menusuk hati sanubari David yang paling dalam, dan telah berhasil membuat David meneteskan air mata kesedihanya.


Mereka berdua harus menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatanya.


"Bang David berjanji dan bersumpah. Bang David akan melindungi kalian berdua. Apapun itu, walau nyawa yang menjadi taruhanya." ucap David sambil meletakan tangan di atas kepala Cipto.


"Terima kasih, Bang." Cipto menangis bahagia sambil menciumi punggung tangan David.


"Sekarang kau beristirahatlah, bocah!" titah David yang kini kembali dengan mode ketusnya.


"Ya elah, bang." Cipto menepuk jidat dan tak habis pikir dengan perubahan David yang selalu memanggilnya bocah dengan ketusnya.


David keluar dari kamar Cipto menuju kamar Oscar.


Di dalam kamar Oscar. David tidak menemukan keberadaan Oscar.


"Dimana dia?" David mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan.


Vroom ... Vroom ...


Suara mobil yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga David dan ia segera melihat dari jendela lantai atas kamar Oscar.


"Oscar ... kemana dia? kenapa dia tidak izin padaku terlebih dahulu?" David berlari keluar dari kamar menuju Oscar.


David terlambat mengejar. Mobil Oscar sudah berlalu membawa Amanda dan Erika meninggalkan kediaman Morata.

__ADS_1


"Sial ... sebenarnya rencana apa yang kau sembunyikan dariku?" ucap David sambil mengusap kasar wajahnya.


__ADS_2