
Kakek Adolf morata kini berjalan menuju ruang tamu di bantu beberapa asisten rumah tangganya.
"Kakek ..." Amanda bangun dari duduk dan membungkuk sesaat setelah melihat Adolf sedang berjalan di bantu asisten rumah tangganya menuju ke arahnya.
"Amanda, maaf sudah membuatmu lama menunggu. Bagaimana kabarmu saat ini, nak?" ucap Kakek Adolf sambil mendudukan dirinya di sofa.
Amanda berpindah tempat duduk ke sebelah Kakek Adolf dan kemudian mencium tanganya.
"Aku baik baik saja, Kek. Bagaimana dengan Kakek sendiri?" tanya Amanda berpura pura peduli.
"Yah seperti ini lah, kau bisa lihat sendiri keadaan keadaan Kakek yang semakin kesini semakin menua renta seperti seperti ini." ucap Kakek Adolf dengan nada yang sedikit terdengar sedih dengan keadaanya.
"Kakek, apa benar David akan segera kembali kesini?" tanya Amanda.
"Ha ... ha ... ha. Sepertinya kau sudah sangat merindukan cucuku setelah sekian lama berpisah jauh karena harus menyelesaikan studimu." tebak Adolf sambil tertawa.
"Ah ... Kakek bisa saja." Amanda tersenyum.
"Bagaimana dengan rencanamu ke depan, Amanda?" tanya Adolf dengan nada yang kini terdengar serius.
"Kakek, tadinya Amanda bercita cita ingin memiliki rumah sakit dan mengabdikan diri Amanda untuk menolong sesama. Tapi ..." Amanda menunduk dan berpura pura menangis bersedih di depan Kakek Adolf.
"Tapi apa Amanda? katakan pada Kakek!" Kakek Adolf mengusap ngusap kepala Amanda.
Amanda mengangkat wajah dan mengusap air mata bawangnya.
"Amanda sadar Kek, Siapalah diri ini dapat merubah buih yang membutir menjadi permadani. Seperti mana yang tertulis dalam novel cinta." Amanda bersajak sedikit berharap Kakek Adolf akan tersentuh hatinya setelah mendengarnya
__ADS_1
"Amanda ... jangan menangis apalagi bersedih sedan seperti itu, nak! Kakek akan mengabulkan keinginan mulyamu, percayalah itu." ucap Kakek Adolf sambil tersenyum mantap.
Senyum kebahagian terpancar di wajah licik Amanda. Dia langsung mencium punggung tangan Adolf dan kemudian memeluknya.
"Terima kasih, Kek. Kakek adalah malaikat penolongku " Amanda tersenyum licik dalam pelukan Adolf.
Ternyata bakat actingku tidak seburuk pemain sinetron yang sering muncul di chanel ikan terbang di negara sebelah. Dan tidak sia sia aku mengeluarkan air mata bawangku untuk meraih simpati si Kakek tua bangka ini.
Di indonesia. David dan Sri kini sudah terlihat bersiap menunggu Jet pribadinya datang untuk menjemput dan mengantar mereka terbang dan meluncur ke Inggris menemui Adolf yang sudah lama menunggu kedatanganya.
"Mba ... apakah Cipto tidang sedang bermimpi?" tanya Cipto yang masih belum percaya bahwa dirinya akan meluncur ke Inggris bersama Kakaknya.
Sri wahyuni Atmojo hanya tertawa mendengar pertanyaan dari Cipto sambil mengusap ngusap kepala Adiknya.
"Apa kamu senang, Dek?" tanya Sri.
"Iya, mbak. Cipto seneng banget." Cipto mengangguk anggukan kepalanya.
Sri dan Cipto mengangguk berbarengan.
Pesawat Jet pribadi milik keluarga morata kini telah datang mendarat di sebuah tanah kosong yang letaknya tidak berjauhan dari mereka.
"Wah ... keren." Cipto berlari menuju pesawat tersebut mendahului Sri dan David yang berjalan ke arah pesawatnya.
"Dasar bocah tengil!" ucap David sambil menggeleng heran melihat Cipto yang dengan semangat berlari.
Sri hanya tersenyum sambil mengeratkan pelukanya di pinggang David.
__ADS_1
Sri, David dan Cipto. Kini telah masuk dan duduk di cabin yang telah di sediakan khusus untuk mereka.
"Mba ... Cipto sudah tidak sabar lagi. Cipto sangat penasaran, seperti apa negara Inggris itu."
"Iya, Dek. Mba juga. Memangnya kamu saja yang penasaran!" Sri tertawa dan mentoyor kepala Adiknya.
"Aku senang jika kalian tertawa bersama seperti ini." guman David di dalam hatinya.
David merangkul pundak Cipto dan Sri bersamaan sambil tersenyum bahagia.
"Are you ready go to england?" tanya David sambil memandang wajah Cipto dan beralih memandang wajah Sri kekasihnya.
Sri mengangguk mantap kecuali Cipto Adiknya yang masih terdiam tak memahami.
"Opo iku artine, mba?(apa itu artinya, mba)?" tanya Cipto. Dan David langsung mentertawakanya.
Sri mengusap kepala Cipto dan tersenyum cantik padanya.
"Mas David itu tadi bilang, apa kamu siap pergi ke Inggris." jelas Sri.
Cipto mengangguk dan kini mulai menoleh ke arah David yang masih belum berhenti mentertawakanya.
"Bang ... bang David." Cipto mengguncang guncang lengan David.
David menghentikan tawanya dan kini terlihat serius memandang Cipto calon adik iparnya.
"Kenapa lagi?" tanya David dengan malas.
__ADS_1
"Cipto udah ready Go to England, Bang." ucap Cipto.
"Telat lo ah! David menarik Cipto dan mengucek ngucek wajahnya dengan telapak tangan dan kembali mentertawakanya.