
"Mbok, boleh aku titip Cipto sebentar?" pinta Sri.
Mbok Darmi mengusap kepala Sri dan menyibak rambutnya.
"Ini sudah malam Sri, Kamu mau kemana nak?" tanya mbok Darmi yang khawatir terjadi apa-apa pada Sri.
"Mbok, Sri mau nyoba cari pinjaman sama teman. Siapa tahu saja dia bantu Sri." jawab Sri.
"Ya sudah, hati hati nak."
Sri melangkah pergi keluar dari ruangan Cipto dan meninggalkan rumah sakit.
Dari depan jalan raya rumah sakit. Sri menghadang angkot untuk menuju rumah kediaman temanya.
Dengan handphone Nokia jadul 3315 nya. Sri mencoba mencari nama kontak Rista yang tiada lain dan tiada bukan adalah sahabat sekolahnya ketika masih SMP dulu.
"Rista, kamu dimana?" tanya Sri di dalam sambungan teleponya.
"Ada di rumah, tapi bentar lagi aku mau pergi mangkal nih." jawab Rista.
"Bisa kita ketemu sebentar, ada sesuatu yang aku bicarakan sama kamu." pinta Sri.
"Tumben ... ya udah, aku tungguin kamu. Tapi jangan lama lama, Oke." Rista menutup panggilan masuknya.
Semoga saja Rista bisa bantuin aku cari pinjaman dana untuk pengobatan Cipto.
Angkot yang di tumpangi Sri kini telah berhenti tepat di depan rumah Rista yang letaknya di pinggir jalan raya.
Sri keluar dari mobil angkot dan membayar ongkosnya.
Dengan langkah kaki yang ia percepat. Sri terus melangkah menuju rumah Rista.
Tok ... Tok ... Tok.
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Rista yang sedang berdandan di kamarnya.
"Sebentar." Seru Rista sambil melangkah keluar dari kamar menuju pintu depan rumahnya.
Cklek ...
"Rista ..." Sri berhambur memeluk Rista yang baru saja membuka pintunya sambil menangis.
"Iya ...ya, ada apa ini? jangan nangis! masuk, duduk dulu." Riska menuntun Sri agar segera duduk di sofa ruang tamunya.
Rista adalah sahabat Sri. Atau bisa di katakan sobat kental, tempat dimana Sri selalu mengadu dan mencurahkan keluh kesahnya.
__ADS_1
"Ris ... aku butuh pertolonganmu, aku mohon." Sri kembali menangis.
Rista mengusap ngusap punggung Sri mencoba menenangkanya.
"Iya, tapi bantu apa? cerita dulu sama aku!" pinta Rista yang selalu menjadi pendengar setia.
"Cipto Adiku masuk rumah sakit, Ris. Dokter bilang Cipto harus di operasi karena penyakit Leukimia yang di deritanya. Dan ... dan aku bingung harus kemana mencari uangnya dan aku membayar 300 juta." tangis Sri pecah kembali.
"Aku turut berduka Sri, tapi uang tabunganku hanya sedikit, karena kemarin orang tuaku di kampung minta kiriman." jawab Rista.
"Lalu ... lalu aku harus bagaimana, Ris. Aku mohon tolong aku." Sri bersujud memohon pada Rista.
"Sri, bangun! tidak usah bersujud seperti itu." Rista membantu Sri untuk duduk kembali di sofanya.
"Tunggu sebentar, beri aku waktu untuk berpikir." Rista memandang menerawang ke depan dengan otak yang ia paksa untuk berpikir keras.
Riska menoleh dan memperhatikan Sri yang kini masih menunduk bersedih.
"Sri, apa kau masih perawan?" tanya Rista dengan hati hati agar tidak menyinggung perasaan Sri.
"Iya," Sri mengangguk.
Rista merangkul pundak Sri sambil berpikir cara menyampaikan idenya pada Sri, tanpa harus menyinggung perasaanya, apalagi sampai membuatnya marah.
"Sri, maaf. Kau menyayangi Cipto, kan?" tanya Rista dengan hati hati.
Rista kini menghela nafas merasa sedikit nyaman dengan ide yang akan dia sampaikan padanya.
"Baiklah, mau kah kau menjual ke perawananmu demi menyelamatkan Cipto?" Rista menekankan kata ke perawanan.
"Maksudmu, Ris?" Sri masih merasa bingung.
"Sri, dengarkan aku baik-baik! harga ke perawanan itu sangat mahal, dan harganya itu bisa mencapai puluhan juta, bahkan ratusan juta jika kau bisa sedikit beraksi memuaskan pelanggan yang membeli kehormatanmu." jelas Riska secara gamblang.
Sri berdiri dan kini wajahnya berubah menjadi emosi.
"Apa kau bilang! Kau menyuruhku seperti itu." Sri berbalik badan dan kini tanganya mengepal marah.
Seandai bukan sobat kentalnya. Mungkin Sri sudah menampar Rista.
Dengan hati hati Rista memeluk Sri dari belakang. dan menyenderkan dagunya di pundak Sri.
"Sri asal kau tahu! uang 300 juta itu bukanlah jumlah yang sedikit, dan tidak mungkin kita sebagai orang miskin bisa mendapatkanya hanya dalam hitungan beberapa hari." ucap Rista sesuai fakta.
Rista memutar tubuh Sri agar menghadap pada dirinya. Dan kemudian memegang kedua pundaknya.
__ADS_1
"Yang terpenting sekarang adalah keselamatan nyawa Cipto, apa kau tega membiarkan Cipto kesakitan seperti itu? bahkan ..." Rista tak tega melanjutkan ucapanya.
"Bahkan apa Ris, katakan padaku!" Sri mengguncang guncang pundak Rista.
"Bahkan ... nyawa Cipto bisa jadi melayang. Kau pasti tahu bahwa Leukimia bisa merenggut nyawa pasien penderitanya.
Bagai makan buah simalakama. Sri makin bingung. Dia di hadapkan diantara dua pilihan antara nyawa Cipto atau mengorbankan kesucianya yang selama ini ia jaga dengan segenap nyawanya.
"Aku tidak bisa memaksamu Sri, Semua aku kembalikan lagi padamu." ucap Rista.
Dengan berat hati akhirnya Sri mengangguk dan mau mengikuti ide atau saran dari Rista sahabatnya.
"Oke tunggu sebentar. Aku akan menghubungi madam sahara dulu." Rista meninggalkan Sri untuk menghubungi mami gremonya.
Di tempat Lain. David dan Oscar terlihat tak jadi pulang ke rumah. Oscar membelokan arah mobilnya hingga menuju Club malam atas permintaan siapa lagi kalau bukan Bos atau sahabatnya, David.
"Apa kabar Tuan tampan, sudah lama sekali kalian tidak mampir kesini, kemana saja Tuan tampan selama ini?" madam sahara menyapa David yang memang ke tampananya melebihi di atas rata rata.
David menoleh ke arah madam sahara yang kini duduk menyilang kaki di sebelahnya.
"Kabarku baik, madam. Apa ada barang baru? aku sudah muak dan tak mau barang bekas." tegas David yang siapa pun segan pada ucapanya.
"Maaf, Tuan belum ada." madam sahara tertunduk tak berani memandang ke arah wajah David yang kini terlihat murka padanya.
"Apa kau ingin aku menutup bisnis malam mu!" ancam David yang merasa telah di kecewakan dengan layanan di club malam sahara punya.
"Ampun Tuan, jangan tutup bisnis saya." madam Sahara melipat tangan memohon kemurahan hati dan belas kasihan.
Di kala kebingunganya untuk menghindari amukan David. Beruntung handphone di dalam bajunya bergetar, memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin menghubunginya.
"Maaf, Tuan. Saya harus menjawab panggilan penting saya sebentar." Madam sahara berlalu pergi meninggalkan David yang masih emosi padanya.
"Halahhh ... alasan saja. Lihat saja kalau sampai dia tidak kembali lagi kesini, maka aku tidak akan segan segan untuk langsung menutup lapak usahanya!" ancam David yang berdecih kesal.
Dan tak berselang lama. madam Sahara kini telah kembali dengan wajah berbinar.
"Darimana saja kau? kenapa lama sekali?" bentak David.
Madam sahara mengusap ngusap dadanya yang kaget karena bentakan David yang menggelegar.
"Sabar, Tuan. Dengarkan saya." ucap madam dan kemudian dia berbisik di telinga David bahwa baru saja dia mendapatkan barang baru yang masih original dan patut di coba di tentunya.
"Aku akan memotong lidahmu jika kau sampai berani menipu atau membohongiku!" ancam David.
"Tidak Tuan, mana berani saya berbohong pada anda." madam Sahara kini bisa tersenyum lega.
__ADS_1
"Baiklah, bawa dia ke kamarku. Jika ia sudah datang, Dan ini ambil bonus untukmu." David melempar segepok uang senilai 100juta, yang langsung dengan gesitnya di tangkap dan dimasukan ke dalam gunung kembar milik madam sahara.
Hai ... jangan lupa Like dan commentar. Dan jangan lupa klik favouritekan.