Jamu Cinta

Jamu Cinta
DIA YANG TANAM DIA JUGA YANG PANEN


__ADS_3

Tanpa mengetuk pintu kamarnya lagi, Cipto langsung menerobos masuk dan ingin memberitahukan apa yang sudah di temukanya pada sang Kakak.


"Cipto, kamu darimana, Dek?" tanya Sri yang sudah berdandan cantik di depan meja riasnya.


Dengan nafas terengah engah. Cipto kini mulai melangkah dan berdiri di samping sri.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Sri yang heran melihat Cipto.


"Mba ... tadi ... hah ..hah." Cipto terbata karena nafasnya yang terengah engah.


Belum sempat Cipto memberitahu apa yang di lihatnya. Tiba tiba saja sesekrang mengetuk pintu kamar Sri dari luar pintu kamarnya.


Sri menoleh ke arah pintu dan bangkit dari duduknya.


"Dek, cepetan ganti bajumu. Itu bajunya sudah Mba siapkan di atas tempat tidur." titah Sri dan kemudian ia melangkah pergi untuk membukakan pintunya.


Ceklek


"Kau sudah siap, sayang?" tanya David.


"Sudah, tapi tunggu sebentar lagi. Cipto masih berganti baju." jelas Sri.


Dan tak berselang lama. Kini mereka bertiga keluar dari kamar dan menuju ruang makan di mana Adolf beserta beberapa kolega pentingnya sudah menunggu.


Bagaimana ini? aku belum sempat memberitahu rencana jahat mereka yang akan mencelakakan mba Sri.


"Dek, jangan melamun seperti itu." tegur Sri pada Cipto.


David hanya tersenyum simpul sambil menuntun Cipto dengan tanganya.


Semua kolega atau tamu penting, kecuali Amnda tentunya. Kini berdiri menyambut kedatangan CEO Morata company yang di dampingi Sri yang tampil ayu dan cantik dan Cipto yang mengikutinya dari arah belakang.


Semua kolega mengajak David berjabat tangan, dan tak sedikit orang yang memuji muji kecantikan Sri, dan mengatakan bahwa Sri adalah pasangan yang sangat cocok untuk di jadikan sang pewaris tahta morata family.


"Terima kasih, silahkan duduk kembali." ucap David yang merasa senang dengan sambutanya.


"Sialan ... kehadiranku sepertinya tidak di hargai sama sekali disini." gumam Amanda dengan wajahnya yang kecut.


David duduk di apit sang Kakek dan Sri di sebelahnya, dan kemudian di susul Cipto yang duduk di sebelah kiri Kakaknya sebagai pembatas antara Sri dan Amanda.


Adolf menepukan tangan sebagai isyarat pada para pelayanya agar segera membawa menu makan spesialnya.


Dari tempat duduknya. Cipto sudah bisa melihat Erika yang kini sedang melangkah dan kemudian membisikan sesuatu di telinga Amanda.


Saatnya Detective Conan sucipto beraksi.

__ADS_1


Cipto tersenyum penuh siaga dan memasang kedua matanya, dan memperhatikan makanan mana yang akan di suguhkan Erika pada Kakaknya.


"Silahkan di nikmati." ucap David mempersilahkan pada beberapa kolega pentingnya.


Di menunya Sri mendapat steak Italia. Dan dengan taktiknya, Cipto pun meminta menu yang sama pada pelayan lainya.


Sri terlihat baru selesai memotong motong steak Italia dengan pisau dan garpunya.


"Mba ... tukeran donk.Cipto gak bisa motongin dagingnya." pinta Cipto sambil mengguncang lengan Kakanya.


"Iya, Dek." Sri mengambil piring steak milik Cipto dan menukarnya dengan dengan piring miliknya.


Akhirnya aku berhasil menukar menu makanan yang sudah orang jahat itu berikan pada mba Sri.


David menoleh pada Cipto yang sedari tadi belum menyentuh makanan di hadapanya.


"Hei ... bocah. Apa kau tidak menyukai makananmu?" tanya David sambil tertawa.


"Tidak, bang. Saya suka." dengan terpaksa Cipto memakan sedikit steaknya.


"Sial ... kenapa malah bocah ingusan itu yang memakanya." gumam Amanda yang kecewa karena tidak sesuai rencana.


Erika kini terlihat kembali mendekat dan menuang gelas kosong dengan anggur sampanye.


Kini Cipto terdiam dan berpikir. Tidak mungkin dirinya menggunakan strategi yang sama untuk menyelamatkan Kakaknya.


Oh tuhan. saya minta pertolonganmu, berikanlah seribu akal untuk menyelamatkan mba Sri.


Cipto mengedarkan pandanganya dan tak sengaja melihat kolega David terlihat mencari minum karena makananya terlalu pedas.


Cipto turun dari tempat duduk dan mengambil gelas minum Sri yang berisi anggur tanpa permisi lagi, dan kemudian memberikanya pada kolega David yang kepedasan.


"Just for you." hanya kata itu yang Cipto bisa.


David yang tadinya hampir marah mendadak reda. Setelah tahu alasan Cipto mengambil anggur minuman kekasihnya.


"Thank you verymuch." kolega David tersenyum pada Cipto.


Lagi lagi Amanda mendengus kesal dengan kegagalan rencananya.


Cipto kini kembali duduk di tempat duduknya sambil tersenyum.


Obat yang telah di taburkan pada makanan Sri yang tadi sempat di makan Cipto, kini mulai bereaksi di dalam perutnya.


Wajah Cipto kini terlihat memucat. Cipto mengambil segelas air putih yang ada di hadapanya dan langsung meminumnya sampai habis.

__ADS_1


"Pelan pelan minumnya, Dek." tegur Sri dengan lembut.


Kepala Cipto kini mulai terasa sakit sekali. Pandanganya pun kini mulai berkunang kunang.


Sri yang melihat keadaan Cipto memburuk kini mulai terlihat tegang.


"Dek, kamu kenapa sayang?" tanya Sri yang cemas.


"Nggak tahu mba, kepala dan perut Cipto sakit sekali." jawab Cipto.


Cipto oleng dan dengan sengaja tanganya menepis spageti hingga menumpahi gaun yang di kenakan Amanda.


"Oh ....Fack!" Amanda mendengus kesal dan marah.


Cipto turun dari tempat duduk berlari kecil dengan oleng menghampiri Erika yang terlihat berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Gendong aku! dan bawa aku ke kamar!" titah Cipto yang langsung meloncat ke punggung Erika.


Erika memandang wajah David meminta persetujuan.


"Lakukan saja Erika." titah David.


Semua kolega penting David dan Kakek Adolf terdiam melihat Cipto yang kini berada di dalam gendongan Erika.


Dengan sangat terpaksa. Erika kini melangkah menggendong Cipto dan membawanya ke kamar.


Sedangkan Sri. Dirinya langsung pamit dan meminta izin pada Kakek Adolf dan David untuk menyusul adiknya.


Di dalam kamar. Cipto yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Dirinya tak langsung melepas Erika begitu saja.


"Tuan muda, lepaskan saya." ucap Erika yang mencoba melepas cengkraman tangan kecil Cipto di lehernya.


Cipto terus memeluk Erika dan mendekat bibirnya di ceruk leher Erika.


Perutnya yang semakin mual memaksa Cipto untuk segera memuntahkanya. Dan ...


Uwoooo Sorrrr


Cipto berhasil mengeluarkan isi perutnya dan memuntahi leher Erika dan mengotori semua pakainya.


"Cipto!" Sri masuk ke dalam kamar dan langsung merengkuh Adiknya.


Sri tak sengaja tertawa melihat Erika yang kini bagian leher dan pakaianya di penuhi muntahan Adiknya.


"Maafkan Adik saya." ucap Sri.

__ADS_1


Erika mengangguk dan dengan sangat terpaksa memaafkan walau dalam hatinya gedek segedek gedeknya.


Hai semua ... jangan lupa tinggalkan like rate dan commentnya jika kalian suka.


__ADS_2