Jamu Cinta

Jamu Cinta
ALL DAY BARENG DAVID


__ADS_3

Tak ada perlawanan yang bisa di lakukan Sri, selain pasrah dan menerima sapuan bibir dan lidah David yang terus memaksa ciuaman menjadi panas dan mendalam.


Sri mendorong sekuat tenaganya hingga David terlepas dari pagutan bibirnya yang memaksa. Nafasnya tersengal sengal merasa lelah dan mencoba mengumpulkan kembali oksigen untuk pernafasanya.


"Aku mohon hentikan, Tuan. Aku bukan boneka yang bisa kau mainkan sesuka hatimu." pinta Sri yang berharap David menghentikan kenakalanya.


"Bagaimana bisa aku berhenti, Sri. Bibirmu sangat manis sekali seperti madu." ujar David.


"Sekarang kau duduklah dengan manis, karena aku akan membawa dan memake overmu habis habisan." David kembali melajukan mobilnya.


Tak ada yang bisa di lakukan Sri. Dirinya hanya bisa mengangguk dan patuh menuruti semua perintah dari David yang sudah mengucurkan dana untuk pengobatan Cipto adiknya.


"Turunlah gadis manis!" titah David.


Sri turun dari mobil dan memandang ke arah sebuah salon yang berada di hadapanya.


"Untuk apa kita kesini, Tuan?" tanya Sri.


David merangkul pundak Sri dan mengajaknya agar segera memasuki salon langgananya.


"Selamat siang, Tuan David." sapa karyawan salon yang tiba tiba menghentikan aktifitas kerjanya untuk menghormati kedatangan David.


"Siang juga. Teruskan kerja kalian!" titah David yang tak mau lama lama menggangu aktifitas karyawan salonya.


David masih mengedarkan pandanganya seperti mencari seseorang.


"Selamat siang, Tuan David." sapa manager salon yang baru saja datang.


"Selamat siang juga." jawabnya dengan nada dingin.


"Maafkan keterlambatanku, Tuan. Saya tidak tahu kalau anda akan datang kesini. Seharusnya anda memberitahu kami dulu agar bisa menyambut kedatangan anda kemari." ucap manager yang merasa tidak enak pada David.


"Jadi maksudmu kau menyalahkan aku, begitu?" David berkecak pinggang dan terlihat siap mematahkan tulang leher manager salon tersebut.


Manager salon tersebut terlihat bergetar ketakutan, Kini wajahnya sudah di banjir keringat dingin yang membasahi bajunya.


"Bukan ... maksud saya bukan seperti itu, Tuan. Maafkan kata kata saya jika telah menyinggung perasaan anda." manager itu mencium punggung tangan David meminta pengampunan.


"Beruntung moodku sedang baik hari ini. Jika tidak, mungkin aku sudah menutup lapak usahamu dan membiarkanmu terlunta lunta mengemis di jalanan." kecam David.


Kalau saja bukan horang kaya no 2 di inggris udah gua bejek bejek ni orang.

__ADS_1


"Kau tahu tugasmu hari ini apa?" tanya David pada manager salon itu.


Manager itu menggeleng tidak tahu, Karena memang David belum memberitahukan tugasnya padanya.


Emang lo pikir gue dewa apa tuhan gitu, yang bisa tahu isi hati dan membaca pikiran eloh.


David menarik lembut tangan Sri dan merangkul pinggangnya di depan manager.


"Kau make over gadis ini! buat dia seperti bidadari yang baru saja turun dari surga karena ingin menemui pangeranya." tegas David di dalam request permintaaanya.


Manager itu mengangguk dan mengajak masuk ke ruangan khusus make over.


Di dalam ruangan khusus make overnya. Manager salon itu langsung turun tangan dan di bantu beberapa karyawanya untuk memake over Sri habis habisan.


Satu orang bertugas mencuci rambut Sri yang nanti rencananya Sri akan di potong menjadi sebahu.


Satu orang lagi bertugas memakaikan cream masker pada wajah Sri. Dan dua orang lagi terlihat sedang melakukan tugas pedicure dan menicure pada bagian tangan dan kaki Sri.


Sri sudah seperti Robocop yang sedang di service berkala akibat kelelahanya di dalam bekerja.


Sambil menunggu Sri selesai. David memanfaatkan waktu kosongnya untuk mencarikan kostum untuk Sri yang modelnya agak kekinian.


Letak mall yang tidak berjauhan dari salon. Membuat David dengan cepat sampai di butik ternama dan memilih milih pakaianya.


Setelah mendapatkan pakaian yang ia inginkan. David kini kembali masuk ke dalam Salon yang sedang memake over Sri.


Manager yang di tugaskan David memake over Sri kini baru saja terlihat keluar dari ruanganya.


"Tuan, make overnya sudah selesai." ucap manager itu memberitahu David.


"Berikan baju ini padanya dan katakan kalau aku menyuruh menggunakanya!" titah David yang kini ia kembali duduk sambil melihat sang manager kembali masuk ke dalam ruanganya.


Dan tak berselang lama. Kini manager itu telah keluar dari ruanganya dan menuntun Sri dan memamerkan hasil make overnya pada David.


David bangun dari duduk dengan mata membulat dan bibir ternganga merasakan takjub yang luar biasa dengan mahakarya make over manager salonya.


"Saya berharap anda puas dengan layanan yang telah kami berikan pada anda, Tuan." ucap Manager itu.


David melangkah mengelilingi Sri yang kini tampil benar benar memukau dan spektakuler.


"Dua ratus juta akan masuk ke dalam rekeningmu sebagai bonus rasa puas dari hasil kerjamu." ucap David seraya melangkah menggandeng Sri keluar dari salonya.

__ADS_1


"Terima kasih atas kemurahan hatinya, Tuan." Manager itu membungkuk dan memandang kepergian David bersama Sri.


Dret ... Dret ... Dret ...


Sebuah notifikasi masuk ke dalam handphone si manager salon. Ketika ia membuka ponselnya, kedua matanya langsung berbinar karena David telah mentransferkan dua ratus juta ke dalam rekeningnya.


"Hore ... Hore ..." Si manager bersorak dan langsung mengajak semua karyawanya bertos ria.


"Hari ini salon kita tutup!" titah si manager pada karyawanya.


"Kok, tutup Bos. Ini kan masih siang?" tanya salah karyawan padanya.


Si manager memberitahukan bahwa siang ini dirinya akan mengajak semua karyawanya makan besar di restoran.


Sri.


"Tuan, kita mau kemana lagi?" tanya Sri yang benar sudah merasakan lelah dan lapar di dalam perutnya.


"Memangnya kenapa? kau tidak suka?" tanya David.


Belum sempat Sri menjawab, Suara keroncongan perutnya sudah terlebih dahulu terdengar di telinga David.


"Bhua ... ha ..ha. Kau lapar?" David tertawa lucu melihat Sri yang kini menunduk malu padanya.


Huasssemmm iki weteng. nggawe aku isin ra ndue rai tenan.


Huasssemmm ini perut. Bikin saya gak punya muka saja karena malunya.


David menggandeng tangan Sri dan membawanya masuk ke dalan restoran. sepanjang jalan menuju restoran Sri terus merasakan jantungnya yang terasa tidak sehat karena David terus memegangi tanganya.


David memperlihatkan Book menunya pada Sri agar dia bisa memilih sesuai keinginanya.


"Ada nasi, Tuan? saya hanya ingin makan nasi saja." pinta Sri sambil tersenyum manis.


"Minumnya?" tanya David.


"Teh manis anget saja, Tuan." jawabnya


Dari sekian banyaknya menu yang tercantum di buku menu ini. kamu malah pilih nasi doank, dah gitu minumnya teh manis anget lagi.


Oh, Sri. Aku makin jatuh cinta pada kesederhanaanmu.

__ADS_1


David menutup book menunya dan memesan dua porsi nasi goreng ala Italia. Dan minumya Ice lemon Tea.


MINTA LIKE DONK JANGAN PELIT


__ADS_2