
Sesaat David terdiam dan kini menoleh ke arah Cipto dan si kepala bodyguard yang masih memandangi kaget setengah heranya.
David meletakan kembali tangan Sri dan kemudian membalas tatapan kedua orang yang masih setia memandanginya.
"Kenapa kalian memandangiku seperti itu?" tanya David dengan nada yang kini sedikit di buat berwibawa.
"Paman ini siapa?" tanya Cipto yang masih belum mengenali wajah David secara langsung karena ia hanya sepintas melihat dari handphone Kakaknya.
"Paman? sejak kapan aku menikahi bibimu bocah?" ketus David.
Cipto mengepal tangan dan menatap tajam ke arah David.
"Aku bukan bocah Paman. namaku Shiva, eh Cipto Paman." tegas Cipto.
"Berhentilah memanggilku Paman karena aku bukan Pamanmu, bocah!" ujar David yang tak terima Cipto memanggilnya Paman.
"Lantas kau siapa?" tanya lagi Cipto menyelidik.
"Aku ... aku ... calon kekasih dari Sri." David memalingkan pandanganya sedikit malu dengan pengakuanya yang baru saja calon.
"Bhua ... ha ... ha." si kepala Bodyguard tertawa.
"Diammm! tak ada yang menyruhmu tertawa." ucap Cipto dan David yang menoleh bersamaan pada si kepala Bodyguard.
Si Bodyguard kini menutup mulut dengan tanya merasa malu.
"Ingat! urusan kita belum selesai!" ucap David dengan tatapan tajam menghunus pada si kepala Bodyguard.
David dan Cipto kembali fokus menatap tajam satu sama lain.
"Bocah, kelas berapa kau sekarang?" tanya David.
"Kelas 2 SD Paman." jawabnya.
"Sudah ku katakan. Jangan panggil aku paman!" ucap David.
"Dan hentikan juga memanggilku bocah!" balas Cipto.
Perdebatan tak penting antara Cipto dan David. Sukses membuat Sri merasa terganggu dan kini mulai terbangun mengerjapkan matanya.
"Kenapa kalian berisik sekali." ucap Sri memandang ke arah dua lelaki yang masih bersi tegang dalam adu tatap.
David dan Cipto kini menoleh bersaman ke arah Sri yang baru saja sadar dari pingsanya.
"Mba ... mba Sri. Bagian Mana yang sakit?" Cipto yang senang kini mulai memijat mijat Kaki Kakaknya.
"Sayang ... kau baik baik saja? Maafkan atas kesalahanku yang tak bisa melindungimu." David menciumi tangan Sri tanpa henti.
"Jadian belum kok manggilnya sayang?" ejek Cipto yang membuat David terbungkam malu.
__ADS_1
"Diam kau bocah! sebentar lagi Sri akan menerima cintaku dan menjadikan aku sebagai kekasihnya. Kau harus yakin itu!" bisik David di telinga Cipto dengan percaya dirinya.
Cipto tertawa sambil memegangi perutnya.
Lah mending kalau mba Sri mau dan menerima Paman. Lah, kalau tidak?" ejek kembali Cipto dan telak membuat David terdiam.
Sri hanya bisa tertawa kecil melihat dua lelaki di hadapanya yang terus berdebat tanpa ada yang mau mengalah.
Sri mencoba bangkit dan duduk di atas bad hospitalnya.
"Aduh." Sri memekik sakit.
"Kau tidak apa apa Sri?" tanya David yang benar benar cemas dan mengkhawatirkan Sri.
"Saya tidak apa apa Tuan." Sri menggeleng tak mau membuat David cemas dan gelisah dengan keadaannya.
David memeluk dan mencium kening Sri di depan Cipto dan si kepala Bodyguard.
"Lebih baik aku melipir saja." gumam si kepala bodyguard di dalam hatinya. Dan kemudian mengendap ngendap keluar dari ruanga Sri tanpa di ketahui Cipto dan David.
Sedangkan Cipto hanya menunduk dan menutup wajah dengan kedua tanganya.
"Maaf ... maafkan aku sayang. Mulai saat ini, aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi." ucap David.
"Anda tidak perlu meminta maaf, Tuan." ujar Sri yang merasa tidak enak.
Cupsss
David mencium Sri dan sukses membuat Sri membulatkan matanya kaget menerima perlakuan romantisnya.
"Tidak ... tidak. Oh tuhan, mata suciku kini telah ternodai oleh mereka." gumam Cipto di dalam hatinya.
Cipto lebih memilih pergi meninggalkan ruangan ketimbang harus menikmati pemandangan yang memang belum sesuai dengan usianya.
David tak memberikan jeda nafas pada Sri. Dia memegang pundak dan mengunci tengkuk Sri dalam membungkam bibirnya.
Eppppokkk
David melepas pagutanya setelah merasa puas menikmati manisnya bibir Sri yang telah menjadi candu berat baginya.
"Tuan ... saya mohon jangan lakukan itu lagi pada saya." Sri menutup wajahnya merasa malu.
"Maafkan aku Sri. Aku tadi benar benar terbawa suasana." ujar David yang kini kembali memeluk Sri boneka hatinya.
Deg ... Deg ... Deg
Degup jantung Sri semakin kencang tak beraturan. David benar benar telah sukses membuat Sri terguncang di bagian hatinya.
"Cepatlah sembuh, karena setelah itu aku akan membawamu menemui Kakek di inggris." ucap David.
__ADS_1
"Inggris?" Sri mengulang apa yang telah di katakan David padanya.
"Iya, inggris. Kenapa, kau tidak mau?" tanya David.
Sri sejenak terdiam menunduk sedih.
"Apakah itu artinya Tuan akan memisahkan saya dengan Cipto?" tanya Sri.
"Sri ... dengarkan aku! aku berencana akan memindahkan sekolah Cipto kesana. Dan aku harap kau tidak keberatan dengan keputusanku." ucap David.
"Tapi Tuan ..." Sri tak bisa melanjutkan kata katanya karena David kini kembali membungkam Sri dengan bibirnya.
Sri terpejam menikmati alur permainan dan sentuhan lembut yang di lakukan David padanya.
Dengan lembut kini David mulai menyesap manisnya bibir Sri, mengabsen semua gigi putihnya. Hingga tak sadar, kini Sri mulai mengalungkan kedua tanganya ke leher David.
Epppokkk
David kembali melepaskan pagutanya. Memberi jeda agar Sri bisa menghirup oksigen untuk mengisi paru parunya.
"Aku mencintaimu, Sri. Aku mohon. jangan tolak cintaku!" ucap David dengan menekankan kata jangan tolak.
Tak ada yang bisa di lakukan Sri selain diam dengan keraguan hati yang masih menyelimutinya.
Cup
David kembali mencium bibir Sri mencoba meyakinkan bahwa iya benar benar mencintainya setulus hati.
EPOKKKSS
"Ihhhh ..." Sri mendorong dada bidang David hingga membuatnya melepas pagutanya dengan paksa.
Tak ingin menjadi korban keganasanya kembali, Sri memilih berbaring dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut hingga ke muka.
"Sebaiknya Tuan pergi saja. karena saya ingin beristirahat kembali." ucap Sri dengan nada yang berpura pura marah.
David yang masih ingin menemani Sri. Dirinya kini tersenyum licik.
"Baiklah ... kalau begitu, aku pamit kembali ke rumahku dulu." ujar David sambil melangkah menuju pintu.
Di depan pintu. Ide cemerlang mendadak melintas di pikiranya. David membuka pintu kamar dan kemudian menutupnya kembali, berpura pura keluar dari ruangan Sri namun sebenarnya tidak.
Ia dengan cepat kembali mengendap ngendap dan bersembunyi membungkuk di samping bad hospital Sri.
Satu menit berlalu Sri tak merasakan adanya David lagi disisinya. Ia kini membuka kembali selimut yang telah menutupi sedari tadi.
"Huh ... akhirnya." Sri menghela nafas lega.
Namun Sri kaget tidak kepalang saat ia memiringkan wajahnya kesamping. Dia melihat David yang sudah berdiri dengan mulut yang sudah ia monyongkan kepada Sri sambil tersenyum penuh kelicikan.
__ADS_1