
Dengan kilatan kemarahan di mata. David menyeret Sri dengan kasar dan membawanya ke sebuah kamar khusus kedap suara. Yang merupakan salah satu fasilitas spesial dari pesawat Jet milik keluarga Morata.
"Lepas ... mas. Lepaskan tanganku sakit!" Sri mencoba berontak dari cengkraman tangan David.
Di dalam kamar khususnya. David langsung melemparkan Sri ke atas tempat tidurnya.
"Mas ... aku mohon jangan lakukan itu padaku." Tubuh Sri bergetar ketakutan memandang David yang kini dengan buas melepas kemejanya.
"Kau yang memulai dan kau pun yang harus mengakhiri!" David menerjunkan tubuhnya dan sukses mengunci Sri di dalam kungkunganya.
Sri mengambil bantal dan menjadikan jeda atau jarak untuk menutupi wajahnya dari David yang kini makin buas memburu.
David mengambil paksa bantal penghalang tersebut dan kemudian mengunci kedua tangan Sri dengan tanganya.
"Mas ... jangan. Aku mohon jangan nodai aku." Sri menangis tersedu.
Alih alih menggubris apa yang di mohonkan Sri padanya. David kini malah makin ganas menghujani Sri dengan ciuman hasratnya yang membara.
David terus menciumi leher Sri dan berpindah mencium bibir dan menyesapnya dengan paksa tanpa ritme atau irama.
Sri terus menangis dia tak menyangka bahwa aksi goyang patah patahnya akan membuat Kekasihnya itu menjadi kalaf dan lupa daratan.
David kini mulai melepas sabuk ikat pingganya dan melepas celana menyisakan boxernya saja.
Bugh ...
Entah kekuatan dari mana datangnya. Sri kini menendang bonteng Jumbo ke punyaan David hingga membuatnya terjungkal jatuh dari tempat tidurnya.
"Haduhhhh ..." David memekik menahan rasa sakit dan linu yang teramat sangat di bagian vitalnya.
"Maaf ... mas. Sri tidak sengaja." ucap Sri yang melihat David berguling guling kesakitan.
Sri turun dari tempat tidurnya dan langsung merengkuh David dalam pelukanya.
"Maaf ... mas. Aku gak sengaja melakukanya." Sri menenggelamkan wajah David di kedua gunung kembarnya.
Bukanya makin adem. Tapi rasa pusinglah yang kini David rasakan di bagian kepala atas dan bawahnya.
"Minggir kau!" David bangkit dan kini melangkah menuju kamar toiletnya sambil memegang kepala atas dan bawahnya.
David masuk ke dalam kamar toilet dan mengunci pintunya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Sri mengetuk ngetuk pintu kamar toilet David.
"Mas ... mas David. Kamu tidak apa apa, kan?" tanya Sri dengan cemas dari luar pintu toiletnya.
Dari dalan kamar toilet. David menggelengkan kepala merutuki kebodohanya yang hampir saja lepas kendali memperkaos calon istrinya.
"Aku tidak apa apa, Sri. Kepalaku hanya terasa pusing saja seperti mau pecah." David masih memegangi bontengnya yang terasa linu.
"Tunggu ... tunggu sebentar, Mas. Sri akan ambilkan obatnya." Sri pergi meninggalkan David yang masih menyiram bontengnya dengan shower.
__ADS_1
Di luar ruangan kamar khusus Sri segera melangkah mencari pramugari yang biasanya selalu stand by menunggu perintah dari David.
"Maaf, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pramugari yang mendapati Sri terlihat cemas di matanya.
"Maaf, mba. Tuan David kepalanya terasa pusing. Bisakah saya meminta obat untuk meredakan sakit kepala Tuan David?" pinta Sri pada Pramugarinya.
Pramugari itu mengangguk dan menyuruh Sri agar menunggunya sebentar.
Di dalam ruangan P3K. Pramugari itu mengedarkan pandanganya mencari obat pereda sakit kepala untuk David.
"Hei ... kau cari apa?" tanya Pramugara yang baru saja datang dan berdiri di sampingnya.
Pramugari itu menjelaskan pada rekanya bahwa Tuan David kini sedang sakit kepala. Dan Pramugara itu malah tertawa dengan tangan yang langsung mengmbil obat dengan nama"Viagra" dan memberikaya pada si Pramugari.
"Kau berikan obat itu pada Tuan David. Maka sakit kepalanya akan cepat sembuh." titah si pramugara pada rekanya.
Pramugari itu mengangguk dan kini berlari kecil untuk kembali menemui Sri yang sudah menunggunya.
"Maaf, membuat anda lama menunggu, Nona. Ini obatnya." Pramugari itu menyerahkan obat yang di bawanya pada Sri.
Sri mengangguk dan langsung berlari kecil menuju kamar khusus untuk menemui David tentunya.
Saking rajinya. Sri langsung membuka cangkang obat Viagra itu dan mengambil segelas air minum untuk di berikan pada kekasihnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Sri mengetuk kembali pintu kamar toiletnya dari luar.
David membuka pintu kamar toilet dan menggedikan kepala heran.
"Obat apa ini?" tanya David yang sudah merasa tidak asing lagi.
"Sudah, sekarang mas David cepat minum obatnya!" titah Sri sambil menyerahkan obat itu dan segelas air minumnya.
David sejenak terdiam memperhatikan obat yang kini di genggamnya.
"Sepertinya aku tahu obat ini." gumam David yang masih ragu.
Karena lama. Sri langsung mengambil obat itu dari tangan David dan kemudian langsung memasukanya ke dalam mulut kekasihnya.
"Tinggal minum aja, Kok repot!" ucap Sri sambil mendekatkan air minumnya ke mulut David.
"Tapi ... tapi Sayang." David terpaksa menelan obat yang masih berada di dalam mulutnya karena dorongan air yang Sri berikan padanya.
Ah ... sial. malah makin runyem jadinya.
David menyuruh Sri agar segera keluar dari kamar Khususnya. Sedangkan David kembali masuk ke dalam kamar toiletnya sambil menangis.
Dengan perasaan berat dan memusingkan kepala. Akhirya David Duduk di bawah guyuran Showernya. Berharap siraman Shower itu mampu mendinginkan kepala atas dan bagian bawahnya yang kini berdiri tegak akibat reaksi Viagra yang di minumnya.
Sudah hampir 30 menit Sri duduk menemani Cipto yang terlihat asik dengan game di handphonenya.
Tak enak duduk dan pikiranya kini gelisah bercelaru. Memikirkan David yang sampai saat ini masih saja belum keluar dari kamar khususnya.
__ADS_1
Sri bangkit dari duduk dan meninggalkan Cipto yang masih saja sibuk dengan game di handphone barunya.
Ceklek ...
Sri membuka pintu kamar khusus dan kembali mendekatkan dirinya ke pintu kamar toilet dan menempelkan telinganya.
"Tak ada suara." gumam Sri.
"Mas ... mas David. Mas baik baik saja di dalam?" Sri mengetuk ngetuk pintunya.
Merasa tidak mendapat jawaban. Akhirnya Sri memberanikan dirinya untuk masuk dan memastikan keadaan kekasihnya.
Di dalam toilet. Sri mendapati David yang hanya menggunakan Boxernya, sedang berdiri menangis sambil membelakanginya.
"Mas David, kamu kenapa, Mas?" tanya Sri.
Sri tak tega dan kini lebih mendekatkan dirinya pada David.
"Anu ... anu ... anu sakit sekali, sayang. Rasanya seperti akan meledak." ucap David dengan tangan yang Author tebak sedang bersolo karir.
"Mas David!!!" Sri tersentak kaget dan membulatkan matanya. Ketika tahu dan melihat apa yang sedang di pegang kekasihnya.
Sri berbalik dan hendak berlari keluar dari toilet namun David langsung menahan tanganya.
"Sri ... aku mohon. Tolong aku, Sri. Rasanya sakit sekali." David menangis layaknya anak kecil yang merengek minta jajan pada orang tuanya.
Tanpa membalikan badan Sri kini terlihat tegang dan ketakutan.
Busetttt ... yang tadi aku lihat itu sebenarnya apa?
"Sri ... mengapa engkau diam? apa kau tega melihatku menderita seperti ini?" David kembali memohon kemurahan hati Sri.
"Tapi ...tapi mas. Apa yang harus Sri lakukan? Sri tidak mau. Kita belum nikah, Mas." tolak Sri tanpa berani membalikan badanya.
David menghela nafasnya kasar. Dirinya bingung dan menemui kebuntuan.
"Sayang ... gunakan saja tanganmu, aku yakin kau pasti bisa." pinta David sambil mengguncang guncang lengan Sri.
Sri berbalik dan kini memejamkan matanya tak berani memandang.
Dengan lembut David menarik lengan Sri dan mengarahkanya pada Bonteng ke pemilikanya.
"Tenanglah! tidak usah tegang seperti itu sayang." ucap David sambil menggerakan tangan Sri ke depan dan belakang bontengnya.
Sri masih saja memejamkan matanya. Tanganya tak berani memandang wajah David yang kini terlihat merem melek menikmati sentuhan lembutnya.
SPRUTTTT ...
"Ahhhh ..." pekik David yang berhasil melakukan pelepasanya.
Sri kaget karena baru pertama kali ini melihat bonteng jumbo yang berhasil menyemburkan cream vanilanya.
Hai jangan lupa klik rate dan favourit kan. Ok
__ADS_1