
Dengan terpaksa Sri menggunakan pakaian kurang bahan dan sepatu hak tinggi yang memang benar benar membuatnya tidak merasa nyaman.
"Rista ... apa baju ini kurang bahan?" tanya Sri yang memang katro dengan mode pakaian yang sering di gunakan seorang kupu-kupu malam.
"Ha ... ha ..., Sri ... sri. Pakaian yang kau pakai memang di rancang dan di desain seperti itu oleh desainernya." jelas Rista.
Sri memperhatikan bagian pundaknya yang terbuka hingga ke bagian dadanya. Hingga gunung kembar yang memiliki size 36 nya itu terkesan lebih menyembul karena saking ketatnya.
"Tapi Ris ..." Keluh Sri.
"Sudahlah, lama lama kau akan terbiasa Sri. Ayo, madam sudah menunggu kita di ruanganya." Rista melangkah menggandeng tangan Sri menuju ke ruangan madam Sahara.
Tok ... Tok ... Tok ...
Madam Sahara yang asyik menghitung uang. Seketika menoleh ke arah pintunya dan segera memasukan semua uang Bonus yang di berikan David padanya ke dalam laci mejanya.
"Masuk." seru madam Sahara dari dalam ruanganya.
Rista membuka pintu dan memasuki ruangan madam Sahara dengan tangan yang masih menggandeng tangan Sri.
"Selamat malam madam," sapa Rista sambil tersenyum karena sebentar lagi dirinya akan mendapat japuk atau bonus dari gremonya.
"Malam, Ris." Madam bangkit dari duduk dan menghampiri Rista dan Sri.
Madam Sahara melangkah mengelilingi Sri dan memperhatikan setiap inchi tubuhnya.
"Ini loh Sri yang aku ceritakan sama Madam tadi di telepon." ucap Rista yang di angguki puas dan mendapat acungan jempol dari madam.
"Benar kau masih perawan?" tanya Madam tanpa basa basi kepada Sri.
Dengan wajah menunduk Sri mengangguk mengiyakan jawabanya.
"Angkat wajahmu dan jawab pertanyaanku!" tegas madam.
Sri mengangkat wajah dan kemudian memberanikan diri menatap madam Sahara.
"Iya, Bu." jawab Sri namun Madam langsung tertawa mendengarnya.
Madam Sahara memegang kedua pipi Sri dengan tanganya.
"Sejak kapan aku menikah dengan Bapakmu, hah?" tanya madam yang kembali tertawa.
Rista menyenggol bahu Sri dengan tanganya.
"Panggil beliau madam, Sri!" bisik Rista di telinga Sri.
"Maaf, maksud saya madam." Sri mengulang jawabanya.
Madam sahara melangkah kembali dan duduk di mejanya.
"Rista kesini kamu!" panggil madam.
"Iya, madam." Rista melangkah dan berdiri di samping madam yang terlihat mengambil uangnya di laci.
Madam sahara mengambil beberapa lembar uang dan kemudian menghitungnya.
"Ambil ini! itu bonus 10 juta untukmu karena telah membawa gadis ini padaku." madam memberikan uangnya pada Rista.
"Makasih madam." Rista mencium pipi kiri dan kanan madam.
"Sri kemarilah!" titah madam.
__ADS_1
Sri pun melangkah dan kini berdiri tepat di sebelah madam setelah Rista menggeser posisinya.
"Sri dengarkan aku! tugasmu malam ini adalah memuaskan seorang millioner, aku tak ingin kau membuatku kecewa, camkan itu!" ucap madam dan dengan berat hati dan penuh keterpaksaan Sri pun mengangguk.
Madam sahara menoleh ke arah Rista yang kini asyik menghitung bonusnya.
"Rista, cepat antarkan Sri ke ruangan VVIP sekarang juga!" titah madam yang tidak mau di bantah.
Rista segera memasukan uang yang telah di hitungnya ke dalam tas. Dan segera bergegas menuntun Sri agar segera mengikutinya.
"Ayo, ikut aku." Rista melangkah sambil menggandeng Sri meninggalkan madam Sahara yang kini tersenyum puas padanya.
Sri mengikuti kemana langkah kaki Rista melangkah.
"Kita mau kemana, Ris?" tanya Sri yang merasa bingung dan bising dengan suara Dj dan remang remangnya club malam.
"Sudah ikuti saja aku, jangan banyak tanya." ujarnya.
Kini Rista dan Sri telah sampai di depan pintu ruangan VVIP yang di jaga oleh dua bodyguard berbadan kekar.
"Ingat Sri! kau tak boleh sampai membuatnya kecewa, karena dia adalah seorang millioner." Rista kembali mengingatkan Sri.
"Tapi Ris ..." Sri bingung dan ragu.
Rista mengangguk dan mengusap kepala Sri.
"Sri ... ingat! nyawa Cipto ada di tanganmu, jika kau gagal membuat pelangganmu puas, kau tahu sendiri akibatnya." tegas Rista yang tak ingin Sri mengurungkan niatnya.
Rista menggedikan kepala pada kedua bodyguard yang sedang menjaga pintu VVIP agar segera membukakan pintunya.
Sri kini masuk sendiri ke dalam ruangan VVIP tanpa di antar Rista sahabatnya.
Dengan tubuh yang bergetar hebat Sri terus memberanikan diri melangkah mendekati David yang terlihat masih duduk menikmati sampanye(minuman anggur kelas elit).
"Duduk." seru David dengan menepuk kursi di sebelahnya.
Sri mengangguk dan kini duduk bersebelahan dengan David.
David terus memperhatikan Sri yang terus menunduk dan tak berani memandang wajahnya.
Dengan tatapan lapar dan penuh nuafsu. David mengangkat dagu Sri sambil tersenyum penuh kebuasan.
"Siapa namamu gadis manis?" David kembali tersenyum lapar memandang Sri.
"Sri ... namaku Sri, Tuan." jawabnya dengan lirih.
CUPsss
Sri membulatkan matanya merasa kaget ketika David dengan cepat membungkam bibirnya dengan ciuman panasnya.
Epppoook
Sri mendorong dada David hingga pagutan bibir mereka terlepas dengan paksa.
"Jangan kurang ajar kamu, Tuan!" ujar Sri yang merasa kecewa dengan ciuman pertamanya di rampas paksa.
Bukanya marah. David malah merasa tertantang dengan kepolosan Sri yang di anggapnya sangat menarik dan membuatnya penasaran.
"Berapa usiamu gadis manis?" David mencoba membuang ketegangan di wajah Sri dengan melontarkan sebuah pertanyaan.
"Dua puluh tuan," Sri menjawab sambil menggeser duduknya.
__ADS_1
David kini berdiri dari duduk dan melepas sabuk dari celananya. Dan kemudian ia mengambil sebuah gelas kosong dan mengisinya dengan sampanye.
"Minumlah!" David memberi Sri gelas yang berisi sampanyenya.
"Saya tidak minum, Tuan. Saya biasa minum jamu." ungkap Sri dan David pun malah tertawa mendengarnya.
"Apa kau bilang! jamu?" David merasa kikuk mendengarnya.
"Cepat minum anggur itu!" bentak David.
Dengan terpaksa dan takut. Kini Sri mulai meminum anggur yang di berikan David padanya.
Sri mengerutkan dahinya dalam dan merasakan tenggorokanya mulai panas seperti terbakar.
"Ayo, minum lagi!" David menuang kembali gelas kosong yang di pegangi Sri dengan anggur mahalnya.
David mengajak Sri bersulang dan langsung meminumnya tanpa menunda lagi. Dan terus menerus, David mencekoki Sri dengan minumanya.
Kepala Sri kini terasa pusing bersamaan dengan matanya yang kini sedikit kabur.
"Kepalaku pusing sekali." Sri memijit mijit kepalanya dengan tangan.
David hanya tersenyum dan tinggal menunggu mangsanya jatuh pingsan karena mabuknya.
"Biar aku saja saja yang memijit kepalamu, Sri." ujar David yang malah kini dengan berani menjamah dan meraba bukit kembar milik Sri dengan ganasnya.
Dalam keadaan mabuk berat, Sri masih mencoba memberontak mendorong David agar menjauh dari dirinya.
Dengan sempoyongan Sri memaksa dirinya bangun.
"Berikan uangnya dulu padaku! aku sangat membutuhkanya." pinta Sri yang langsung jatuh namun David langsung berhasil menyangganya.
"Aku mohon ... berikan dulu uangnya. Aku membutuhkan sekali untuk operasi Adiku." dalam keadaan mabuk, Sri menangis di dalam pelukan David.
Sedikit rasa iba muncul di hati David yang terkenal dengan si raja kejam.
Sambil mengeratkan pekukanya, Kini David menciumi ceruk leher Sri yang putih dan mulus rahayu.
"Berapa uang yang kau butuhkan untuk operasi Adikmu?" bisik David di telinga Sri.
David kini membopong Sri dan merebahkanya di atas tempat tidur panasnya.
"300 juta, Tuan." jawab Sri.
"300 juta? memangnya adikmu operasi apa?" selidik David.
"Adiku mengidap Leukimia." Sri kembali menangis di hadapan David.
David menghela nafasnya kasar. Pikiran teringat dengan anak kecil yang di ceritakan Oscar pada tadi siang di rumah sakit.
David turun dari tempat tidurnya dan mengambil cek dari dalam saku jasnya. Dan kemudian mengisinya sesuai dengan jumlah yang di minta Sri padanya.
"Ini ceknya, ambilah! dan pergilah sebelum aku berubah pikiran memperkaosmu." titah David.
Sri turun dari tempat tidur dan mengambil cek yang diberikan David padanya.
"Terima kasih, Tuan." ucap Sri yang kemudian menciumi punggung tangan David dan kemudian pergi keluar dari ruanganya.
David menunduk melihat bonteng jumbonya yang masih berdiri tegak dari dalam celana.
"Sabar, Tol. Mungkin lain kali saja, Oke." David menyentil bonteng dari dalam celananya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan hati dan pikiranya.
__ADS_1