Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 10 : Persidangan


__ADS_3

"Pergi, jangan ganggu saya!" bentak Rama mengusir Namira agar menjauh darinya.


"Maaf, karena Aku. Kamu harus menanggung derita ini!" ucap Namira lalu dia pun bangkit lalu pergi menjauh dari Rama.


Rama melirik sekilas kepergian Namira, entahlah Rama sudah tidak respect pada Namira karena kesalahan yang dia buat. Dahulu Namira adalah teman baik,namun sekarang bukan dia adalah wanita penghancur kebahagiaan bagi Rama.


3 bulan telah berlalu…..


Hari ini adalah hari dimana Danisa dan Rama akan resmi berpisah di pengadilan setelah melalui tiga bulan perpisahan. Danisa tak henti-henti menangis meratapi nasib buruk yang dialaminya, meskipun tiga bulan sudah berlalu Rama tetaplah menjadi cinta pertamanya.


Delapan tahun yang berakhir di perpisahan bukan lah suatu kesenangan bagi Danisa dan Rama. Danisa terlihat amat cantik hari ini, dengan balutan gamis berwarna Sage dan hijab berwarna senada.


Danisa duduk di depan cermin kamar, sejak tadi dia terus menangis karena masih belum terima jika harus berpisah dengan Rama.


"Hey cantik, kenapa nangis?" tanya Albaric dengan suara beratnya yang menggoda.


Pria itu berdiri di belakang Danisa dan sama-sama memandangi pantulan wajah mereka di cermin. Danisa mencoba menepis tangan Albaric yang mencoba memegang bahunya.


Danisa hanya diam tidak menanggapi apapun yang Albaric katakan, dia bahkan mencoba mencoba menjauhkan Albaric dari dekat dirinya. Danisa masih sangat membenci Albaric, karena dia semuanya hancur tidak tersisa.


"Kenapa sayang? Apakah hari ini tidak cukup menyenangkan untukmu?" ucap Albaric tersenyum manis.


Pria itu juga tampil sangat tampan hari ini, dengan jas yang hampir senada dengan baju Danisa. Serta gaya rambut setengah panjang dan tubuh yang tegap semakin menambah ketampanannya.


"Menyenangkan. Apa maksudmu? Aku bahkan berharap kalau hari ini, adalah mimpi. Sehingga saat perpisahan itu tiba Aku terbangun dan memeluk cintaku!" tegas Danisa dengan suara bergetar dan air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulus nan cantiknya.

__ADS_1


Albaric tersenyum tipis namun dapat diartikan bahwa pria itu tidak suka, bisa dibilang dia cemburu.


"Nisa, berhenti menyebut Rama adalah cintamu! dia adalah pria yang tidak bertanggung jawab, apa yang kau harapkan padanya?" ujar Albaric


Danisa mengerutkan keningnya lalu berbalik dan berdiri menghadap Albaric " Bagaimana bisa Aku melupakan cintaku?Delapan tahun Aku dan Rama melalui suka duka bersama, dan kau datang menghancurkan semua kebahagiaan yang sudah kami bina! Kaulah pria yang sebenarnya tidak bertanggung jawab, karena merebut cinta orang lain!" tegas Danisa menunjuk lancip ke arah Albaric yang berdiri di hadapannya.


Albaric mengangkat satu alisnya, lalu pria itu membelai wajah Danisa dengan lembut namun langsung di tepis sang pemilik wajah.


"Dengar! Sekarang Rama bukan lagi cintamu, Kau bukan lagi milik Rama, melainkan sekarang kau adalah milikku! Milik Tuan Albaric Dragones Tristan, kau paham!" tegas Albaric menatap sinis ke arah Danisa.


"Hey, kau memang memiliki tubuhku, tapi tidak untuk hatiku. Karena hatiku hanya untuk Rama, dan kau tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Rama!" sentak Danisa memukul dada bidang Albaric.


"Terserah. Nisa,Nisa, kau bodoh. Rama tidak pernah mencintaimu, buktinya sudah tiga bulan kau menghilang dari hadapannya, tidak ada usaha sama sekali darinya untuk mencarimu!" ujar Albaric terkekeh dengan tatapan mengejek.


Danisa langsung terdiam seribu bahasa, pikirannya langsung mencerna ucapan Albaric barusan. Apakah benar apa yang Albaric ucapkan? tapi jika itu tidak benar, lalu kenapa Rama tidak mencarinya? Entahlah Danisa juga tidak tahu apa yang terjadi di balik semua ini?


Rama menatap lekat ke arah Danisa yang nampak kurusan, begitupun sebaliknya. Pertemuan terakhir sebagai pengobat rindu yang telah lama terpendam di antara keduanya. Albaric terus mengawasi dari jarak dekat, karena dia tahu kalau Rama dan Danisa pasti akan berpelukan dan dia tidak ingin itu terjadi.


"Apa kabar?" tanya Albaric memicu agar tak ada lagi pandang memandang di antara Danisa dan Rama.


"Baik," jawab Rama dengan wajah memelas


"Kau nampak kurus, apakah selama tiga bulan ini kau tidak pernah makan?" ujar Albaric terkekeh agar terlihat asik di hadapan Rama dan Danisa.


"Sepertinya begitu," tukas Rama cepat

__ADS_1


Danisa hanya diam di samping Albaric dengan sorot mata berkaca-kaca, terdapat rasa rindu disana yang terpaksa ditimbun karena suatu keadaan yang sudah tidak berpihak di antara mereka berdua.


"O'ho, kau tersiksa pastinya. Karena kehilangan sosok, bidadari seperti Nisa!" celetuk Albaric dengan sinisnya " Sudah! Nisa sekarang sudah bahagia bersama saya, dan kamu tidak perlu lagi masuk ke dalam hidupnya!" lanjut Albaric menegaskan.


Pandangan Rama langsung pucat dan beralih ke arah Danisa yang hanya diam tak bersuara, terdapat sebuah pertanyaan besar dari tatapan Rama pada Danisa. Apakah mungkin dia begitu bahagia dan begitu cepat melupakan cintanya selama delapan tahun lalu?


"Bagus, Aku senang kau bisa membahagiakannya. Aku juga sudah tidak berharap dengan Nisa, karena hatiku bukan untuknya lagi. Ada wanita lain yang sudah menggantikan Nisa," ucap Rama berbohong pria itu tersenyum kecut melirik Danisa.


Danisa menelan ludahnya kasar, menahan air mata agar tidak keluar melewati pipi ini. Sakit sekali rasanya mendengar pernyataan dari Rama, padahal Danisa sama sekali tidak pernah melupakan atau berpindah ke lain hati.


"Kamu pria brengsek Rama! Aku benci kamu, dasar pria brengsek!" hardik Danisa memukul Rama dengan tasnya kemudian wanita itu berlari menuju kursi.


Rama terdiam karena merasa bersalah, Danisa adalah korban dan dia sudah cukup menderita selama ini karena dirinya. Sedangkan Albaric tersenyum licik, rencananya berhasil. Dia berhasil membuat Danisa membenci Rama, meskipun itu hanya separuh setidaknya ada sebuah kenyataan yang membuat Danisa tidak berharap lagi dengan Rama.


"Akan ku balas semua yang sudah kau lakukan, Al!" tegas Rama menatap nanar dan penuh dendam ke arah Albaric.


Albaric hanya menyunggingkan sudut bibirnya dengan santainya pria itu mengedipkan mata.


"Buktikan, sehebat apa kau ingin mengalahkanku! Raja tetaplah raja, dan saya adalah pemenang!" jawab Albaric cepat


"Kejahatan tidak akan pernah menang, akan ku pastikan kau akan menangis berlutut di hadapanku!" lanjut Rama penuh dendam


"Saya selalu menunggu saat itu, tapi ingat jangan terlalu berharap! Kau tahu siapa saya? oleh karna itu, tetap berhati-hati!" jawab Albaric lagi santai tanpa beban dan merasa takut mendengar ancaman Rama barusan.


Setelahnya mereka saling menatap dengan sinisnya, lalu pergi mengambil tempat duduk masing-masing.

__ADS_1


Danisa terisak tangis bahkan sesenggukan, perkataan Rama tadi benar-benar menyakiti perasaan Danisa.


BERSAMBUNG….


__ADS_2