Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 5 : Jebakan Albaric


__ADS_3

"Dasar pria tak waras!" umpat Danisa emosi.


Albaric menanggapi umpatan Danisa dengan senyum nakalnya, pria itu nampak mengerti tentang kemarahan Danisa namun ia tak peduli dan meneruskan aksi gilanya. Dengan lancangnya Albaric menindih tubuh mungil Danisa dan mengunci pergerakannya, Danisa nampak gelagapan serta tak suka dengan tingkah Albaric yang grasa grusu.


"Brengsek, lepaskan Aku!" bentak Danisa menatap sinis ke arah Albaric yang kini tak berjarak padanya bahkan Danisa bisa merasakan hembusan nafas Albaric.


Albaric mendekatkan bibirnya ke telinga Danisa, pria itu menghembuskan nafasnya di sana sehingga Danisa merinding merasakan hangatnya hembusan nafas Albaric. Danisa memejamkan matanya merasa geli namun juga penuh emosi, karena pria ini telah lancang menyentuhnya.


"Kenapa kalau Aku brengsek hmm?" ucap Albaric pelan di telinga Danisa, Albaric menyunggingkan sudut bibirnya.


"Jangan kurang ajar, kamu!" bentak Danisa dengan sinisnya seraya memukul dada bidang Albaric.


Bukan marah Albaric malah terkekeh geli, sebab pukulan Danisa tak menimbulkan efek apapun padanya. Bahkan Albaric merasa gemas dengan Danisa, sudah tak sabar ingin menikahi wanita ini agar bisa menghujaninya dengan brutal.


"Why, baby? Aku kurang ajar, karena memang sedari kecil tak ada yang mengajariku sama sekali!" balas Albaric lembut namun menyeramkan bagi Danisa.


Albaric dengan nakalnya menggesekkan pahanya ke paha Danisa, meskipun terlapiskan oleh celana panjangnya, setidaknya ia bisa merasakan rangsangan tipis dari gesekan tersebut. Albaric melirik ke arah jam dinding, sepertinya ia harus pergi lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.

__ADS_1


"Makanlah sayang! Aku akan kembali secepatnya, kau boleh keluar dari kamar, tapi tidak keluar rumah!" ucap Albaric pelan.


Setelahnya pria itu bangkit dan kembali membenarkan kemejanya serta dasi yang sedikit bergeser, lalu pria itu pergi keluar melalui pintu utama kamar tanpa menoleh lagi ke arah Danisa.


Danisa hanya melihat kepergian sang pria gila itu, dadanya masih bergelombang atas perlakuan Albaric barusan. Keringat bercucuran membasahi badannya, pria itu benar-benar sudah membuat Danisa mati kutu dan merasa sangat takut. Demi Allah Danisa tidak akan mau memaafkan Rama sampai mati, karena pria itu telah menjualnya dengan pria kejam seperti Albaric.


Danisa menghela nafas lega setelah perginya makhluk tadi, ia bangkit lalu menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit bekas kepergian Albaric tadi. Sedikit senyum dari wajah cantik Danisa tersematkan, otak cerdiknya mulai memikirkan cara pergi dari rumah ini, ia harus benar-benar menyusun rencana agar bisa pergi keluar dari rumah neraka ini.


Danisa berdiri perlahan melangkah pelan, ia membuka pintu sedikit demi sedikit lalu mengendap ke arah luar ruangan yang nampak sepi, entah takdir yang sedang berpihak padanya atau memang hari ini tak ada penjaga yang mengawasinya? Danisa melangkah keluar lalu menutup pintu kamar pelan, ia berjinjit agar langkahnya tak terdengar oleh orang-orang rumah. Matanya menatap ke kiri dan kekanan, kali ini aman baginya untuk melanjutkan langkahnya.


Setelah terdiam cukup lama sambil memperhatikan area rumah itu, akhirnya Danisa menemukannya terdapat tangga di ujung halaman yang bersandar di tembok, Danisa berjinjit melangkah agar tak di dengar oleh para penjaga. ia perlahan menuju tangga tersebut, namun satu langkah lagi mendekati tangga kakinya mengenai ranjau tikus, alhasil membuat Danisa terduduk lemah di sana.


Danisa langsung menutup mulutnya, ia menangis tanpa suara perih dan sakit sekali rasanya saat kakinya terjepit ranjau itu. Darah segar berceceran di rumput, tubuh Danisa berkeringat serta gemetar akibat menahan sakit yang luar biasa. Danisa perlahan melepaskan jepitan di kakinya itu, setelahnya ia mencoba untuk berdiri meskipun sedikit oleng, ia menetralkan nafasnya kembali lalu melanjutkan langkahnya walah sedikit pincang.


Danisa memegang anak tangga, lalu perlahan naik ke atas tangga sehingga nampak lah turunan menuju keluar dari rumah besar itu, ia memperhatikan seluruh tempat di luar rumah tampak sepi dan menyeramkan sepertinya tidak mungkin jika luar rumah ini tidak dijaga ketat oleh Albaric, Danisa yakin pasti ada sesuatu yang tersembunyi seperti ranjau tadi?


Benar saja Danisa menemukan sebuah jebakan di penghujung jalan, dan ia juga menemukan sebuah senapan tersembunyi yang terkekeh dari arah barat. Danisa menunduk berpura-pura tidak melihat, lebih baik mundur lebih dulu daripada tidak bisa keluar dengan selamat.

__ADS_1


Danisa kembali melangkah menuruni anak tangga, ia tak jadi akan keluar setelah melihat banyak penjaga di luar pagar rumah. Saat ia menginjak rumput, kakinya kembali di jepit oleh ranjau tikus tersebut dan melukai kaki kanannya pula.


Danisa menjerit kesakitan, lagi-lagi cairan merah kembali berceceran mengenai rumput. Sakit, sangat sakit sekali rasanya, bahkan Danisa hampir kehilangan kesadarannya saat melihat banyak darah yang keluar dari kedua kakinya.


Albaric yang baru pulang dari luar, melihat kamar yang kosong tak menemukan Danisa di sana, bukan marah ia malah tersenyum. sebab rencana yang ia mainkan berhasil, Danisa pasti saat ini tengah kesakitan akibat terkena ranjau.


Albaric langsung berlari keluar kamar, dan menuju tempat Danisa berada, benar saja ia menemukan Danisa yang sudah tergeletak tak berdaya di dekat tangga. Albaric mendekat, lalu merangkul tubuh mungil Danisa yang sudah lemah. Sedangkan kakinya terus mengeluarkan cairan merah.


"Sekarang kau akan tahu, tak akan muda untuk melarikan diri dari rumah ini, meskipun tak ada orang yang menjagamu, tetap saja kau tak akan bisa!" ucap Albaric dengan suara serak dan jakun yang baik turun


Danisa tak merespon sebab penglihatannya mulai kabur, seluruh tubuhnya terasa kaku sekali entahlah mungkin kehabisan darah karena terlalu banyak keluar dari tubuhnya? air mata terus mengalir membasahi pipi Danisa, rasa sakit dan nyeri pada kakinya seakan-akan membunuhnya secara perlahan.


Albaric tak khawatir sama sekali, karena ia tahu bahwa Danisa adalah wanita yang kuat sehingga tak akan tumbang hanya karena jepitan benda tajam itu. Sebentar lagi setelah diobati, ia akan kembali bangun dan kembali mencari cara untuk pergi dari rumah ini Albaric yakin itu.


Albaric masuk ke dalam kamar, lalu membaringkan tubuh Danisa di atas kasur. Setelahnya ia mengobati kaki Danisa dengan lembut, senyum licik tercetak sejak tadi ketika melihat Danisa terluka. Setelah mengobati kaki Danisa, Albaric duduk di sebelah pembaringan Danisa sambil menatap lekat ke arah wanita polos ini. Ada pria seperti Rama yang rela menjual istri demi wanita lain? pria tak tahu diuntung, sudah diberikan spek bidadari seperti Danisa malah dibuang seperti sampah.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2