
Danisa terisak tangis bahkan sesenggukan, perkataan Rama tadi benar-benar menyakiti perasaan Danisa.
Persidangan pun berakhir, kini Danisa dan Rama resmi bercerai. Tangis Danisa pecah di dalam ruang persidangan, wanita itu terduduk lesu di lantai menangis histeris.
Rama hanya bisa memandangi dari kejauhan, dia juga ikut menangis melihat Danisa yang begitu terpukul saat perpisahan terjadi. Rama menyeka air mata yang ingin jatuh, karena sudah tidak ada gunanya lagi dia menangisi hal yang sudah terjadi.
"Maaf, Mas sudah menyakitimu sayang!" ucap Rama dari kejauhan.
Albaric yang berdiri di dekat Danisa hanya diam dengan gaya paling cool nya, pria itu tersenyum licik karena akhirnya hari yang paling ditunggu tiba juga. Selepas habis dari persidangan ini, Albaric akan segera menikahi Danisa sesuai syariat yang ada di dalam agama Danisa.
"Sudah, jangan menangisi pria bajingan seperti dia!" ujar Albaric sekilas melirik ke arah Rama dengan sinisnya.
Danisa mendongak matanya menatap tajam kearah Albaric, "Kau pikir, kau hebat? dengan menghina Rama, derajat kehebatanmu akan meningkatkan? Sama sekali tidak, kau bahkan seperti pria yang tidak bermoral. Sampah masyarakat!" ucap Danisa menunjuk lancip ke arah Albaric.
Albaric terdiam kaku dengan tatapan kemarahan, jari-jari tangannya terkepal berancang-ancang akan memukul. Habis sudah kesabarannya, Albaric menatap lekat ke arah Danisa dengan tatapan tajam bak elang yang siap menyilap mangsanya.
"Berdiri sesuai perintahku! Jangan biarkan Aku menjadi kasar, disini! Cepat ke mobil, kita akan kembali!" tegas Albaric dengan suara ditekan penuh ancaman.
"Silahkan! Kau bahkan boleh membunuhku disini, cepat!" balas Danisa dengan entengnya tanpa rasa takut sama sekali.
Albaric meregangkan perototan tangannya, pria itu menarik jasnya dengan gaya paling keren lalu dia berdiri dan menggendong tubuh mungil Danisa. Semua orang menatap ke arah mereka, Albaric tidak peduli karena dirinya saat ini tengah tersulut emosi.
"Lepaskan Aku!" ucap Danisa memberontak mencoba menurunkan dirinya dari gendongan Albaric.
"Diam, atau Rama akan mati hari ini!" ancam Albaric tenang.
Danisa sontak terdiam melemah, benar saja Albaric mengancamnya akan membunuh Rama. Danisa tidak rela jika terjadi apa-apa dengan Rama, meskipun sekarang Rama bukan lagi suaminya.
"Tidak, kau tidak boleh menyentuhnya! jangan, Aku rela melakukan apapun asalkan jangan menyakiti Rama!" mohon Danisa dengan mata berkaca-kaca.
Albaric tersenyum menyeringai, lalu pria itu membanting tubuh Danisa masuk ke dalam mobil. Secepat kilat mobil itu menghilang dari parkiran kantor persidangan, Rama yang baru berancang-ancang akan membututi mereka pun tertinggal jauh dan kehilangan jejak.
__ADS_1
"Bimo, kita ke KUA! cepat, jangan terlambat!" perintah Albaric dengan suara tegasnya.
Danisa langsung mendongak dan melotot, mendengar nama KUA dirinya langsung tak karuan. Pria di sebelahnya ini benar-benar nekat ingin menikahinya, Danisa bahkan belum siap untuk menghadapi pernikahan lagi setelah terpaksa harus bercerai dengan Rama.
"Baik tuan," jawab Bimo cepat
"Dengar, Nisa! apapun yang terjadi di KUA nanti, kau harus tetap menurut! jika terjadi kegagalan atau kesalahan fatal, maka Rama akan tewas dalam hitungan detik!" ancam Albaric melirik tipis ke arah Danisa yang duduk di sebelahnya.
"Dasar pria brengsek, beraninya mengancam!" gerutu Danisa dalam hatinya.
"Hm ya," jawab Danisa pasrah
Albaric mengangguk menanggapi, dirinya senang karena sebentar lagi Danisa akan seutuhnya menjadi miliknya. Dan setelah ini dirinya bebas akan menyentuh Danisa, bahkan menidurinya dengan puas. Membayangkannya saja sudah membuat pipi Albaric bersemu merasa bahagia dengan pencapaiannya saat ini.
Danisa melirik ke arah tubuh Albaric yang begitu kekar dan berotot, hal itu membuatnya bergidik merasa ngeri saat nanti dirinya di paksa oleh pria itu untuk melakukan hubungan layaknya pengantin baru. Ah sudahlah mengingatnya saja membuat Danisa merasa ingin cepat mati saja, agar tidak ada adegan itu yang terjadi di hidupnya.
"Kenapa sayang? Kenapa wajahmu berubah pucat begitu? Kau sakit?" cecar Albaric menertawakan Danisa yang tampak gugup dan gelagapan.
"Diamlah! Kau adalah pria paling brengsek yang Aku kenal, kau memaksa seorang wanita agar menikah denganmu! Aku sangat bernasib buruk," celetuk Danisan dengan mata berkaca-kaca.
Danisa kaget dan langsung menjauh, rasa takut mulai membara dalam diri Danisa. Dirinya sudah terjebak sangat jauh , entah usaha seperti apa lagi yang akan dia lalui sekarang? Apakah memasrahkan diri akan membuatnya menjadi lebih baik lagi? sepertinya begitu.
"B-berhenti bersikap kasar padaku, kau membuat aku takut!" ujar Danisa yang terisak tangis karena merasa takut.
"Aku tidak kasar sayang, kamu sendirilah yang meminta!" ucap Albaric tersenyum cukup menyeramkan bagi Danisa yang melihatnya.
"Baiklah, Nisa akan mencoba menerima kehidupan aneh ini!" ucap Danisa pelan dengan penuh kepasrahan.
Albaric mendongak dengan tatapan tak percaya, cukup mengejutkan baginya karena Danisa mengalah dengan semua ini? jika dia mengalah maka semua yang dijalani menjadi tidak seru lagi. Albaric suka dengan wanita yang menolak agar dirinya bisa berlaku kasar pada wanita tersebut.
Pria itu hanya diam, setelah perjalanan beberapa menit akhirnya mereka sampai di KUA. Danisa dan Albaric turun dari mobil dan masuk ke dalam, dengan saksi secukupnya dan mereka pun melangsungkan pernikahan sesuai syariat agama Danisa yaitu Islam.
__ADS_1
Setelah acara selesai, Danisa dipulangkan dengan sopir Albaric sedangkan Albaric kembali dengan mobil yang lain. Karena ada urusan yang cukup penting baginya, sehingga tidak mengizinkan siapapun untuk tahu kecuali para anak buahnya.
Kini dirinya dan Danisa telah sah menjadi suami dan istri, entah kenapa minat Albaric menghilang pada Danisa. Niat buruk yang sudah terencana bahkan hilang begitu saja, kini Albaric pun rasanya tidak ingin lagi menyentuh Danisa secuil pun.
Setelah pulang tadi, Danisa mengganti bajunya dengan baju rumahan namun masih mengenakan hijab. Beberapa hari lalu Albaric membelinya empat gamis dan empat daster panjang untuk di pakai di rumah serta hijab yang cukup.
Selesai mengganti baju, Danisa menyapu halaman rumah yang tampak kotor karena daun kayu dari depan pagar yang berterbangan. Entah kemana para pekerja rumah dan taman, kenapa mereka semuanya menghilang begitu saja?
Setelah selesai menyapu halaman rumah, Danisa beralih ke dapur untuk memasak makanan. Kini dirinya pasrah dengan semua takdir yang tengah bermain saat ini, entahlah mungkin memang takdirnya untuk menjadi istri pria kasar seperti Albaric.
Beberapa jam berlalu Danisa tertidur di meja makan menunggu kepulangan Albaric, entah kenapa pria itu tiba-tiba hilang dari peradaban? biasanya setiap hari dia selalu berada di dalam rumah dan mengganggu Danisa.
Danisa terbangun saat mendengar suara adzan yang berkumandang, dia bangkit dan segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai sholat ashar, Danisa kembali menunggu di depan pintu melirik ke sana kemari menunggu Albaric pulang.
"Dasar pria aneh, ditunggu nggak pulang-pulang! giliran nggak di tunggu nongol terus!" kesal Danisa
Sementara itu di sebuah gedung tua yang kusam dan nampak akan segera roboh itu, ternyata tempat markas milik Albaric. Yang diisi oleh para manusia-manusia yang cukup hebat dan tersembunyi karena mereka adalah segerombolan mafia kelas kakap.
Dibalik topeng CEO Albaric ada sebuah keburukan yang cukup mengejutkan. Perusahaan yang Albaric dirikan hanyalah topeng untuk menutupi aksi ilegalnya, yang menjual barang-barang terlarang.
"Al, Lo kenapa nggak pulang?" tanya Aryo melirik ke Albaric yang duduk santai di tepi meja kekuasaannya.
"Bukan urusan Lo," jawab Albaric cepat
"Hm, katanya ada cewek cakep di rumah Lo? Kok nggak ngasih tau gue?" canda Aryo terkekeh.
"Berani nyentuh dia, gue nggak akan segan-segan buat bunuh Lo!" tegas Albaric menatap sinis ke arah Aryo
"Yaelah cewek doang bro, bagi-bagi napa? gue pengen nyobain rasanya bekas Lo, ya meskipun udah longgar!" lanjut Aryo dengan santai.
"Ck brengsek, Lo mau mati?" cetus Albaric emosi
__ADS_1
Albaric tampak emosi mendengar ucapan Aryo, jujur saja dia saja belum pernah mencoba merasakan tubuh Danisa secara mendalam. Lagipula Danisa adalah miliknya, dan haram bagi siapapun yang berani menyentuh milik Albaric karena jika miliknya tersentuh maka kematian menunggunya.
BERSAMBUNG….