Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 06 : Milik Tuan


__ADS_3

Entah seperti apa wanita yang Rama tebus sampai merelakan Danisa yang memiliki kesempurnaan di segala sisi dirinya? Albaric hanya menggeleng kepala dengan sudut bibir terangkat.


"Ck, dasar pria bodoh!" umpat Albaric


Setelahnya Albaric bangkit, dan menuju keluar melalui pintu rahasia yang tidak diketahui oleh Danisa. Sedangkan Danisa masih terbaring tidak sadarkan diri, entah berapa menit lagi dia akan tertidur di kasur empuk itu?


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya Danisa tersadar, saat pandangan redupnya terbuka yang pertama kali masuk dalam pandangannya adalah Albaric, si pria kasar dan egois yang tengah duduk menatap ke arah Danisa.


Seketika Danisa langsung melengos, matanya pun langsung beralih ke arah lain. Albaric hanya tersenyum tipis, lalu menarik dagu Danisa agar memandang ke arahnya.


"Sekarang kau tahu kan nona? betapa menakutkannya saya! kakimu bisa saja terpotong, jika terus mencoba melarikan diri!" ucap Albaric dengan suara serak dan sedikit berbisik.


Danisa menghela nafas takut, bahkan dia tidak berani memandangi mata Albaric. Tubuhnya gemetar, keringat bercucuran membasahi dahi Danisa.


"Why baby? takut, atau bagaimana?" ujar Albaric tersenyum menyeringai.


Danisa diam membeku, hembusan nafasnya memburu bak habis lari marathon sepuluh kali keliling lapangan.Danisa menarik nafas panjang lalu memejamkan mata, dia sudah memasrahkan hidupnya hari ini. Jika memang harus mati di tangan Albaric ia pasrah, dan sangat rela.


"Menjauh dariku!" bentak Danisa seraya mendorong Albaric agar tak duduk di atas ranjang dekat dengannya "Aku tidak sudi, jika tangan kotor menyentuhku!"lanjutnya dengan tatapan sinis, sebenarnya Danisa tidak mau melawan tapi ia marah karena Albaric meremas pahanya.


"Nanti kau akan terbiasa ku sentuh, maka dari itu belajarlah dari sekarang!" goda Albaric dengan nakalnya.

__ADS_1


"Cuih, kau pria bodoh yang mau menikahi wanita bekas sepertiku, munafik, dasar kau bajingan!" teriak Danisa memaki Albaric dengan tunjukkan lancip dari tangannya serta kemarahan yang luar biasa ia tampakkan.


Albaric menarik paksa lengan mulus milik Danisa, lalu dia melempar tubuh mungil itu hingga terpental ke dinding ruangan menghasilkan luka di dahi Danisa akibat benturan yang begitu keras.


"Aku bisa membunuhmu hari ini juga, jika Aku mau. Dan mulut kotormu itu, bisa Aku robek-robek menjadi hancur dan tidak akan bisa membuatmu bicara seumur hidup! seharusnya kau menjadi budak, bukan untuk dijadikan istri! Kau benar, kau memang bekas, dan selamanya akan tetap menjadi sampah bekas dengan segala kehinaanmu!"


Albaric nampak begitu marah, entah kata yang mana membuatnya sangat marah dengan Danisa. Rahangnya bahkan berkedut tampak begitu jelas wajahnya memerah serta tatapan yang menyala-nyala bagaikan kobaran api.


"Ternyata ini alasan kenapa suamimu memilih untuk menjual kau, dan memilih wanita lain. Karena kau adalah wanita busuk dan kotor, kau menjijikan!" lanjut Albaric meremas pot bunga yang tergeletak di atas meja di hadapannya.


Danisa menghapus darah yang menetes di dahinya, dia meremas ujung gaunnya saat melihat Albaric yang sudah berubah menjadi iblis menakutkan. Binar mata ketakutan tertancap di wajah Danisa, kakinya yang terluka juga mengeluarkan darah yang begitu banyak akibat perlakuan kasar Albaric barusan.


Danisa langsung terdiam duduk di lantai, dengan menundukkan pandangannya dia merasa malu saat Albaric mengatakan pasal yang Rama lakukan padanya. Jantung Danisa seakan runtuh bersama dengan hatinya, sepertinya Albaric benar, karena Rama dengan tega menceraikannya hanya untuk menyelamatkan seorang wanita bernama Namira itu.


Danisa tidak menjawab, dia bahkan hanya terdiam membisu seribu bahasa. Perlawanannya hilang begitu saja, Albaric berhasil membunuh mentalnya. Albaric senang karena merasa menang melawan wanita polos seperti Danisa, setelahnya ia melangkah keluar dengan dasi yang ia hamburkan ke lantai.


Danisa mendongak saat mendengar suara ketukan sepatu yang mulai menjauh dari kamar, tarikan nafas legah terlihat. Danisa mengelus dadanya yang terasa sesak, karena ucapan Albaric yang berhasil menusuk relung hatinya yang terdalam.


Sepertinya sudah tidak ada jalan yang lain lagi, sekarang sudah saatnya Danisa mulai membiasakan diri hidup di gedung mewah rasa neraka ini, karena tidak akan ada celah untuknya keluar dari tempat ini. Dan sudah seharusnya Danisa lebih memilih untuk menghormati Albaric sebagai tuan rumah ini, agar tidak di siksa di sini.


Danisa memeluk kedua lututnya menangis histeris, entah takdir yang sedang memainkan perannya? atau memang kesialan hidupnya menjadi janda di malam pertama.

__ADS_1


"Mas, kenapa kamu tega? kenapa Mas? Nisa nggak nyangka, Mas tega ngejual Nisa demi wanita lain?!" lirih Danisa yang terisak tangis.


Setelah terduduk beberapa jam di lantai, akhirnya Danisa tertidur membaringkan tubuhnya di atas lantai tanpa alas itu. Tubuhnya teringkuk karena hawa yang cukup dingin hari ini, cuaca yang semulanya panas seketika berganti mendung.


Bahkan Danisa sedikit menggigil karena kedinginan, suhu tubuh Danisa panas ia demam tinggi namun tak seorangpun yang menyadarinya di rumah tersebut.


Sedangkan Albaric sibuk mempersiapkan proyeknya, di ruang kerja dan tidak peduli dengan Danisa. Rasa marah masih meluap-luap di dalam hati Albaric, sehingga kepeduliannya hilang begitu saja.


"Tuan, maaf. Saya mau memberitahu, kalau nona muda sedang demam tinggi, suhu tubuhnya naik!" ucap seorang wanita berbaju kemeja putih dan rok hitam yang berdiri menunduk di depan meja kerja Albaric.


"Biarkan saja, jangan ada yang berani menyentuh wanita itu!" tegas Albaric dengan tatapan sedingin salju.


"T-tapi tuan–" terpotong.


"Tidak ada tapi! patuhi perintah saya, atau kamu saya pecat?!" tegas Albaric dengan suara membentak.


"Ba-baik tuan," jawab si wanita cepat dan langsung berlari meninggalkan ruangan kerja Albaric.


Prinsip Albaric, tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh miliknya apapun itu kecuali dengan alasan yang tertentu, jika ada yang melanggarnya maka kematianlah sebagai bayaran karena telah berani menyentuh milik nya.


Meskipun Danisa saat ini belum sah menjadi istrinya, tetap saja wanita itu telah dalam genggamnya dan artinya sudah menjadi miliknya dan orang akan dilarang menyentuhnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG….


__ADS_2