Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 07 : Nafsu..


__ADS_3

Seluruh pekerja hanya bisa melihat dan tidak bisa membantu, bahkan tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar tersebut sebelum mendapatkan perintah dari Albaric.


Sementara itu, Rama nampak seperti orang gila yang berkeliaran di jalanan mencari Danisa. Hatinya tidak rela jika harus kehilangan Danisan, Rama menyesal sungguh menyesal.


"Nisa, pulanglah sayang! Aku merindukanmu?" ujar Rama menggaruk kepalanya depresi.


Rama berdiri di tepi trotoar, melihat sekitar jalanan yang nampak ramai dan sirunya kendaraan lain. Rama berharap bahwa akan ada sosok Danisa yang akan muncul di hadapannya.


Andai tanda tangan Namira tidak melibatkan Rama di dalamnya, tidak mungkin Danisa akan hilang seperti sekarang ini. Rama bingung, entah kemana Albaric membawa Danisa pergi?


1 Minggu telah berlalu…


Begitu cepatnya waktu berlalu, namun tetap tidak ada perubahan sama sekali. Danisa tetaplah Danisa, dan dia sudah berusaha untuk mencoba terbiasa di rumah megah nan mewah itu tetap saja tidak bisa.


Sedangkan Albaric menunggu masa iddah Danisa dan Rama habis, agar dia bisa menikah dengan Danisa. Tujuan utamanya ingin menikmati kemolekan tubuh Danisa yang indah.


Namun semenjak kejadian itu Danisa tidak berani lagi berinisiatif untuk lari, dia tidak mau jika kesalahan itu terulang kembali bahkan kakinya belum sembuh total.


Danisa duduk di tepi teras depan rumah memperhatikan sekitar, Danisa bahkan tidak tahu wilayah rumah ini terletak dimana? sejak pertama kesini dia tidak bisa keluar lagi. Albaric mengurungnya, tanpa memberi celah sedikitpun untuknya keluar.


Suasana halaman yang cukup sunyi, membuat Danisa merasa nyaman entah kemana perginya para pekerja di rumah ini? kenapa hilang semua?


"Baby..!" panggil Albaric seraya mengacak-acak rambutnya yang basah.


Danisa mendongak ke arah suara, seketika wajah Danisa langsung melengos karena kehadiran Albaric sudah pasti akan mengganggunya. Danisa tidak menjawab, dia hanya diam dan tidak peduli pada Albaric yang mendekat.


Albaric yang mengenakan kaos putih dan celana boxer duduk di sebelah Danisa, segera Danisa menjauhkan dirinya dengan bergeser sedikit. Pria aneh, entah apa yang dia inginkan pada Danisa sehingga begitu terobsesi ingin sekali menikahi Danisa?


"Jauh-jauh dariku!" sentak Danisa dengan wajah memerah karena menahan emosi.


"Kenapa hm?" tanya Albaric menyunggingkan sudut bibir.


"Karena kau rumah tanggaku hancur, Aku benci kau!" balas Danisa menatap tajam Albaric.


"Saya menghancurkan? perasaan Rama sendirilah yang memilih, menebus wanita lain dan menjual dirimu, denganku? lalu kenapa sekarang saya yang salah?" ujar Albaric santai.

__ADS_1


"Jika memang kau tidak mau disalahkan, hari ini Aku minta antarkan Aku kembali pada Rama!"


"Waw, takjub. Kau bodoh atau bagaimana? setelah menjadi bahan penjualan beli, sampai sekarang masih ingin bersama dengan pria bodoh itu? cuih, menjijikan. Aku bahkan enggan melihat wajah pria itu lagi, setelah dia melakukan hal itu,"


Albaric terkekeh dengan satu alis terangkat ke atas, kakinya terlunjur ke dekat pinggul Danisa dan sengaja dia mainkan. Dan hal itu membuat Danisa kesal, bahkan emosi.


"Kurang ajar, Aku bukan wanita murah yang bisa kau sentuh sembarangan!" bentak Danisa menepis kaki nakal Albaric.


"Saya bahkan bisa lebih nakal dari itu, jika saya mau. Kamu tahu, milik saya sudah tidak bisa sabar lagi untuk segera bertemu, dengan milikmu! tubuhmu indah, dan pinggulmu sangat cantik. Saya suka, tapi kamu hanya akan jadi pemuas nafsu saya saja. Bukan menjadi istri yang disaksikan semua orang!" tutur Albaric dengan suara seraknya serta mengalun penuh godaan, bahkan matanya juga ikut nakal karena terus melirik ke arah dua gundukan besar yang melimpah dari tempatnya.


Semenjak diam di rumah Albaric, pakaian Danisa menjadi tidak wajar lagi. Karena pria itu hanya menyediakan pakaian tak senonoh itu, yang bisa Danisa pakai. Danisa bahkan malu dengan pakaian yang dia kenakan, karena hampir sebagian mengekspos tubuhnya.


"Gila, kau gila! Aku bahkan tidak sudi, disentuh oleh pria seperti kau. Akan lebih baik mati, daripada hidup menjadi pelacur untukmu!" tegas Danisa dengan mata memerah dan tubuh gemetar karena amarah yang begitu tinggi dan menguasai dirinya saat ini.


Brugh…


Albaric langsung mengunci pergerakan tubuh Danisa dengan menempelkannya ke dinding, dia bahkan bisa merasakan aroma tubuh sang empu yang terasa begitu lembut.


Keduanya tidak berjarak, Danisa bisa merasakan hembusan hangat dari nafas Albaric yang menyapu wajahnya. situasi yang cukup sulit untuk Danisa lalui, pria ini memang suka sekali membuat Danisa hampir gila.


"Ssst, diamlah! nanti si kecil bangun, dan ketika dia bangun kaulah yang harus bertanggung jawab, memangnya kau mau?" goda Albaric tersenyum nakal.


Danisa terbelalak kaget saat tangan Albaric menyentuh bokongnya, seketika nafasnya memburu. Sedangkan Albaric tertawa sengit, ekspresi Danisa berhasil membuatnya merasa senang. Albaric sangat suka jika melihat Danisa ketakutan.


"Demi Allah, Aku akan melaporkanmu ke polisi setelah ini!"


Danisa mengancam Albaric akan melaporkannya ke polisi saat dapat membebaskan diri dari tempat neraka ini, karena Albaric sudah semena-mena padanya bahkan semakin hari pria ini semakin berani menyentuh bagian-bagian sensitif milik Danisa, bahkan Rama yang sudah menikahinya saja belum pernah berani menyentuh bokong dan yang lainnya.


"Polisi? Kau lucu, kau lihat rumah ini! besar bukan?" celetuk Albaric terkekeh, Danisa sungguh membuat hatinya merasa lucu.


Kening Danisa mengernyit saat melihat ekspresi Albaric yang tidak takut sama sekali, terlebih jawabannya sangat tidak masuk akal. Lain yang di katakan Danisa, lain pula jawabannya dasar pria aneh.


"Apa? apa yang dia katakan? pria ini sangat aneh, aku bahkan tidak bisa mengerti setiap sikapnya?" batin Danisa kebingungan.


Albaric menyatukan hidung Danisa dengan hidungnya lalu memainkannya, Danisa yang tak terima terus mencoba menjauhkan dirinya dari pria aneh dan gila **** ini dari tubuhnya.

__ADS_1


"Hidungmu lembut, nafasku wangi. Saya suka," ucap Albaric berbisik suaranya terdengar berat dan seksi hal itu menjadi pemikat dan penuh dengan godaan.


"Jangan kurang ajar! menjauh dariku!" sentak Danisa.


Danisa nampak grogi dan tak nyaman, selain tersipu dia juga merasa jengkel dengan Albaric yang sudah lancang. Entah perasaan gila apa yang sedang merasuki diri Danisa, dia seakan memasrahkan dirinya saat Albaric mulai menyentuhnya. Apakah ini yang dinamakan sebuah rangsangan?


Cuaca yang cukup terik membuat keduanya berkeringat, Albaric nampaknya mulai hilang kendali tubuh Danisa benar-benar menggodanya.


"Kau suka kan sayang?" bisik Albaric menggoda Danisa.


Mendengar itu membuat tubuh Danisa menggelinjang merasa geli karena merasakan kehangatan nafas Albaric yang menyerbu leher jenjangnya. Danisa hanya menggeleng berdiam diri, tidak terima tapi dia suka dengan sentuhan hangat Albaric entahlah ini cukup gila jika dibayangkan?


"Bibirmu seksi, boleh saya mencobanya?" ucap Albaric lembut dengan suara serak yang penuh rayuan.


Danisa melirik ke arah lain, raut wajahnya seketika berubah pucat saat Albaric mengatakan itu. Danisa takut, takut sekali jika pria ini berhasil menyentuh bibirnya dan itu akan membuatnya menanggung dosa yang sangat amat besar.


"Ya Allah, tolong Aku!" mohon Danisa dalam hati.


Deruan nafas Albaric yang bergelombang bisa terdengar jelas oleh Danisa, keringat yang bercucuran membasahi dahi dan tubuh Albaric berhasil menetes ke tubuh Danisa dan itu semakin membuat tubuhnya semakin seksi dan menggoda. Albaric membelai leher jenjang putih dan mulus milik Danisa, Danisa menggelinjang karena merasa geli dan terangsang, sentuhan hangat Albaric seperti akan membunuh perlawanan Danisa.


Wajah tampan dan oriental itu perlahan mendekat, bibir seksi Albaric juga semakin mendekat dan hampir tidak berjarak lagi dengan bibir Danisa. Danisa memejamkan matanya, tidak tahu harus berbuat apa lagi karena tak ada kekuatan lebih baginya untuk melawan Albaric.


"Tuan, maaf. pelacakan hampir berhasil, dan sekarang mereka sedang bersiap-siap menuju markas!" ucap seorang pria berpakaian serba hitam yang muncul dari dalam rumah.


Albaric dan Danisa seketika menjauhkan diri, sungguh Danisa merasa terselamatkan karena sosok pria misterius yang datang tiba-tiba.


"Ck, lalu?"


Albaric nampak kesal namun di simpan, pria itu berdiri dengan segala kegagahannya.


"Apa yang perlu kami lakukan tuan?" tanya pria tersebut.


Albaric menoleh ke Danisa memberi isyarat agar wanita itu pergi dari hadapannya, Danisa yang seolah mengerti langsung berlari masuk kedalam rumah.


"Bunuh mereka yang berani masuk ke markas, lalu mayat mereka buang ke laut. Jangan lupa, potret wajah mereka!"

__ADS_1


BERSAMBUNG…..


__ADS_2