
Rama hanya diam tanpa perlawanan, namun dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Sebenarnya bukan sebuah keinginan untuknya menceraikan Danisa, dan merelakannya pergi bersama pria kejam itu.
Tubuh Danisa digotong oleh pria berbadan besar itu masuk ke dalam mobil bersebelahan dengan Albaric, beberapa kali Danisa memukul tubuh pria itu memberontak namun sepertinya pukulan Danisa hanya dianggap seperti angin lalu oleh sang pria tersebut.
"Lepaskan aku brengsek!" sentak Danisa mencoba lagi dan lagi
"Diamlah, kalau tidak mau mulutmu saya jahit!" titah pria itu dengan suara tegas dan menyeramkan.
Danisa hanya bisa menangis pasrah atas kejadian buruk ini, malam pertama yang di dambakan kini telah hancur dalam waktu sekejap. Semua itu karena Namira, Rama yang rela menukar Danisa dengan uang demi menebus Namira dari penjahat yang entah tidak tau dari mana asalnya?
Danisa meremas ujung baju tidurnya saat di paksa duduk bersama dengan Albaric, mata Danisa tak henti-hentinya mengeluarkan air mata atas paksaan Albaric terhadapnya. Isakan kecil terdengar menyeruak indra pendengaran Albaric, hal itu membuatnya merasa kesal. Albaric paling tidak suka mendengar suara tangisan, apalagi tangisan itu berada di dekatnya.
"Diamlah! atau mulutmu akan saya robek menjadi beberapa bagian?!" cetus Albaric tanpa menatap ke arah Danisa
Danisa menutup mulutnya ia menggeser dirinya agar menjauh dari Albaric, namun keterbatasan ruang yang membuatnya masih berdekatan dengan Albaric si pria kejam itu. Setelah menempuh perjalanan cukup panjang malam ini, akhirnya Danisa dan Albaric sampai di sebuah gedung bertingkat tiga itu dengan nuansa Eropa, mobil yang mereka naiki melambat perlahan berhenti di depan parkiran mobil. Mata Danisa mengerling takjub betapa indah dan mewahnya bangunan yang ada di hadapannya saat ini.
Albaric turun tanpa memperdulikan Danisa, pria itu melangkah dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah gedung itu. Sedangkan Danisa masih terdiam membatu di kursi penumpang, ia bahkan enggan untuk turun dari mobil. Namun seketika lengan Danisa ditarik kuat oleh tangan besar bodyguard Albaric, tubuh mungil Danisa terseret mengikuti langkah pria bertubuh besar nan tegap itu.
"Lepasin Aku!" sentak Danisa memberontak
Namun ucapannya sama sekali tak di tanggapi oleh sang pria, malahan pria itu semakin kuat menarik tangan Danisa sehingga membuat sang pemilik badan mungil itu kesulitan bahkan hampir terjatuh menuruti langkah pria berbadan besar itu.
Brugh….
Tubuh mungil Danisa dilempar masuk ke dalam sebuah ruangan gelap nan menyeramkan, setelahnya pria itu menutup rapat pintu ruangan membuat Danisa berteriak ketakutan bahkan histeris.
"Buka! tolong jangan kurung saya di sini! Tolong keluarkan saya!" teriak Danisa menepuk-nepuk daun pintu berharap akan dikeluarkan dari ruangan menyeramkan ini.
__ADS_1
Glep…
Cahaya langsung mengisi ruangan tersebut, Danisa sontak kaget dan terduduk bersandar di daun pintu. Matanya terbelalak menatap setiap inci ruangan besar dan mewah ini, seluruh isinya terbilang barang-barang elite dan berkualitas tinggi.
Segera Danisa bangkit dan berlarian mencari celah untuk keluar dari kamar itu, tapi sepertinya memang kamar ini sudah dirancang tanpa celah untuk kabur. Buktinya saja tak ada jendela sama sekali di ruangan besar itu, Danisa kembali duduk di lantai dengan wajah dan tatapan datar tak tahu harus berbuat apa lagi?
"Selamat datang di kamarku nona!" ucap Albaric dengan senyum menyeringai.
Posenya benar-benar mendominan seperti mafia, bahkan aura kekerasan terpapar pada wajah pria itu nampak sangat jelas sekali. Danisa yang mendengar suara itu sontak langsung mendongak bingung, karena pintu tak terbuka tiba-tiba pria itu muncul.
"Brengsek!" umpat Danisa menatap sinis ke arah Albaric
Albaric tersenyum sengit setelah itu ia melepaskan jas yang semula terpakai di tubuhnya, kemudian Albaric melempar jas itu ke arah Danisa. Benar saja jas yang Albaric lempar tepat kena sasaran ke wajah Danisa, hal itu menambah emosi di dalam diri Danisa.
"Kenapa? tak suka dengan caraku?" tanya Albaric menaikkan satu alisnya, lalu Albaric melangkah mendekat ke Danisa.
Albaric berjongkok lalu ia mengangkat dagu Danisa secara paksa agar sang wanita menatap ke arahnya "Dengar!saya paling tidak suka, jika ada orang yang tak menatap ke arah saya, ketika saya sedang berbicara!" tegas Albaric menatap sinis Danisa.
"Lalu? apakah harus saya peduli? tentu saja tidak! kamu bukan siapa-siapa saya, lantas tak ada usut saya harus patuh padamu!" balas Danisa dengan suara lantang "Satu lagi, tak ada hak bagimu untuk menyentuh kulitku!" lanjut Danisa menunjuk lancip ke arah Albaric.
Albaric menatap nakal dan mencoba mendengarkan saat Danisa mengoceh di hadapannya, pria itu bukannya marah ia malah tersenyum licik.
"Oh begitu, harus punya usut lebih dulu agar kamu mau patuh pada saya? Baiklah, akan saya kabulkan! setelah habis masa Iddah nanti, kamu akan saya jadikan istri!" ucap Albaric menegaskan.
"Cuih, lebih baik saya mati daripada menjadi istrimu! hidup saya lebih berguna mati, daripada hidup, untuk mengabdi pada pria seperti kamu!" hardik Danisa
Danisa nampak emosi mendengar ucapan Albaric ia tak setuju jika pria ini akan menjadikannya istri. Jujur saja ia lebih baik mati daripada hidup bersama dengan pria tak waras seperti Albaric.
__ADS_1
Lagi-lagi Albaric tersenyum penuh arti, pria itu tak menampakkan kemarahan di wajahnya saat Danisa mencelanya habis-habisan entah berapa stok sabar yang ada di dalam diri Albaric saat ini? Albaric membelai rambut panjang Danisa lalu menyisipkannya ke telinga, Albaric tersenyum tipis menampakkan lesung pipi di wajah tampan sang CEO muda itu.
"Nonaku, sayang sekali jika kecantikan ini harus disantap oleh cacing tanah. Lebih baik saya lebih dulu menyantapnya, tapi saya masih memikirkan bahwa kamu punya agama yang melarang perbuatan itu, sehingga saya berusaha menahan diri untuk tidak bermain bersamamu dulu. Mendengar pernyataanmu barusan membuat saya berubah pikiran, ingin rasanya secepat mungkin, saya melahap tubuh indah ini!" tutur Albaric dengan tatapan nakal serta menakutkan bagi Danisa.
Pandangan Albaric juga menatap setiap inci lekuk tubuh seksi Danisa saat ini, nampak sangat indah dan membahenol. Albaric yang selama ini begitu penasaran dengan tubuh ini, akhirnya bisa melihat jelas hanya tertutup benang jarang itu.
Danisa memalingkan pandangannya, ia menjauhkan wajahnya dari tangan Albaric. Tak Sudi jika pria itu menyentuh kulitnya, kebencian mendalami peran Danisa saat ini.
"Disantap cacing tanah lebih baik, daripada saya harus melayani pria brengsek sepertimu! Entah rahim siapa yang telah melahirkan pria tak bermoral sepertimu?" celah Danisa dengan wajah emosi dan merengut.
Degh…
Kedua manik hitam pekat milik Albaric langsung terbelalak saat Danisa menyebut pasal rahim yang melahirkannya, ia sungguh tak sudi mendengar hal itu. Refleks Albaric langsung tersulut emosi yang tak terkendali, pria itu dengan kasarnya menarik kuat rambut Danisa sehingga kepala Danisa terpesong menuruti tarikan tangan Albaric. Pria itu nampak lembut sebelumnya, namun setelah perkataan lancang Danisa merubah semuanya, Albaric seakan berubah menjadi sosok dirinya yang sebenarnya.
"Jangan sebut tentang rahim yang melahirkanku! Itu tak ada sangkut pautnya denganmu, saya sudah cukup sabar menghadapi sikap rendah mu, tapi nampaknya kau sejak tadi memancing emosiku?" tegas Albaric menatap tajam Danisa serta menarik kuat rambut panjang Danisa.
Danisa meringis kesakitan, tarikan Albaric menghilangkan seluruh tenaganya sehingga hanya bisa membuatnya menangis saja. Tak ada lagi perlawanan selain menangis, seharusnya sejak tadi ia tak memancing amarah Albaric.
"Dengar nona! wanita sepertimu tak ada harganya di mataku, kau itu tak lebih hanyalah sampah di jalanan, Aku terpaksa memunguti sampah sepertimu, agar kau bisa layak disebut wanita mahal! tapi nyatanya, itu semua tak mengubah derajatmu, kau dan ibumu sama saja, pelacur!" cetus Albaric dengan suara serak yang dipenuhi amarah.
Danisa memejamkan matanya ia pasrahkan seluruh hidupnya malam ini, bahkan Danisa tak bisa lagi angkat bicara saat Albaric menguatkan tarikan pada rambutnya. Albaric hanya bisa mendengar ringisan dan isakan kecil dari Danisa, seketika mulut Danisa terkunci untuk menjawab perkataan.
Tak sampai di situ, Albaric berdiri bersama dengan Danisa yang ia tariks secara paksa dan penuh kekasaran. Lalu pria itu membanting tubuh mungil sang empu ke kasur di belakangnya, Danisa terpental di atas kasur dengan raut wajah ketakutan serta nafas yang memburu.
Albaric berdiri dengan tatapan psychopaths membuat bulu kuduk Danisa berdiri, pria itu nampak sangat menyeramkan dengan ekspresi dingin dan mematikan itu.
"Jangan biarkan tangan ini membunuh tubuh itu! Selagi bisa menurut, tetaplah menurut, apapun yang saya katakan!" ujar Albaric setelah helaan nafas berat darinya pria itu pun melangkah pergi dari pintu tersembunyi.
__ADS_1
Danisa terdiam membatu menatap ke langit-langit kamar, dadanya nampak bergelombang saking takutnya ia saat ini. Nampak kegelisahan dalam diri Danisa setelah melihat sosok Albaric yang sebenarnya.
Bersambung…