Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 08 : Nekatnya Danisa


__ADS_3

"Bunuh mereka yang berani masuk ke markas, lalu mayat mereka buang ke laut. Jangan lupa, potret wajah mereka!"


"Baik, tuan!" ucap si pria dengan tegasnya.


"Pergila!" titah Albaric.


Lalu anak buahnya pergi, sedangkan Albaric berdecak kesal karena gagal mencium bibir seksi milik Danisa, padahal momen itu sangat sulit diraih.


"Argh– kali ini kau bisa saja selamat, tapi lain kali, kau tidak akan ku biarkan lolos!" gumam Albaric tertawa licik dan penuh kenakalan.


Danisa masuk ke dalam kamar, jantungnya berdegup kencang, keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Albaric, hampir saja menodainya dan itu membuat Danisa merasa takut dan terancam jika berlama-lama tinggal di rumah ini.


Terlihat jelas wajah Danisa pucat pesi, dia nampak sangat ketakutan. Rama yang sudah delapan tahun saja belum pernah berani menyentuhnya, lalu dengan lancangnya Albaric menyentuh bagian-bagian sensitif miliknya.


Danisa gelagapan, segera berlari ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang terkena sentuhan Albaric, keran air menyala Danisa duduk meringkuk memeluk kedua lututnya di bawah siraman air shower.

__ADS_1


"Kenapa takdir sangat buruk padaku? kenapa? apa kesalahan yang sudah Aku lakukan? hiks … hiks … hiks … kenapa?"


Danisa mengelus-elus tangannya dengan tangis hebat dan rintihan yang penuh keibaan, memang benar nasibnya begitu malang. Di malam pertama pernikahan bukannya mendapatkan kebahagiaan, malah sebaliknya lebih menyedihkannya dia di jual oleh suaminya demi menebus wanita lain yang terlilit hutang, dan dengan teganya dia di talak tiga malam itu juga sehingga malam pertamanya ia menjadi janda.


Luka di kaki Danisa kembali basah dan mengeluarkan banyak darah segar, aliran air menjadi memerah karena darah yang begitu banyak. Wajah Danisa mulai memucat, penglihatannya mulai kabur, namun ada satu pikiran lagi yang membuatnya menjadi nekat, Danisa perlahan berdiri meskipun oleng. Dia meraih gunting yang berada di atas wastafel, lalu memegangnya dengan erat dan penuh keyakinan.


"Aku tahu, ini sangat engkau benci. Maaf, Aku tidak kuat jika harus bertahan hidup, seperti ini!" ucap Danisa tersenyum pucat.


Perlahan gunting tersebut Danisa arahkan ke lengannya, dia mulai berancang-ancang untuk menusukkan gunting itu kelengannya.


"Argh– hiks … hiks …—" Danisa berteriak pelan lalu menangis menahan sakit.


Percikan darah berhasil menodai lantai dan dinding kamar mandi, rasa sakit yang luar biasa baru saja Danisa rasakan dan sekarang dia hampir kehilangan kesadaran, karena mengeluarkan banyak darah.


Brukk…

__ADS_1


Tubuh Danisa ambruk ke lantai kamar mandi, tubuhnya jatuh tepat di bawah siraman air shower yang terus menyala. Warna lantai menjadi merah menggenangi tubuh Danisa, tidak ada seorang pun yang tahu kejadian ini bahkan Albaric pun tidak tahu.


Albaric yang melangkah menuju ruang kerja seketika mengurungkan niatnya, pikirannya malah ke Danisa yang saat ini berada di kamar. Albaric malah penasaran sedang apa wanita itu saat ini? ini cukup gila, tapi dia tidak bisa mengelak atas kepeduliannya saat ini.


"Ck, ini gila. kenapa Aku harus peduli padanya?" gumam Albaric merasa kesal sendiri "Tapi, kalau tidak Aku temui, Aku sendirilah yang akan merasa penasaran," lanjutnya lagi menggaruk kepala yang tidak gatal. Albaric terdiam cukup lama entah apa yang tengah di pikirannya?


"Alah, persetan dengan rasa malu. Aku akan ke kamar lebih dulu untuk mengetahui apa yang sedang Nisa lakukan?" gumam Albaric setelahnya langsung berbalik arah menuju kamar.


Pria itu melangkah dengan segala kegagahannya melewati setiap sudut ruangan, dia bahkan bergaya dengan mengacak-acak rambutnya agar Danisa tertarik.


Tak lama, Albaric sampai di depan pintu kamar yang tidak terkunci dan terbuka sedikit. Dia mengendap dari celah tersebut, tampaknya tidak ada orang di dalamnya. Karena Albaric sudah sangat penasaran, dia pun langsung masuk secara perlahan.


Kening Albaric terlipat, karena tidak menemukan sosok Danisa di dalamnya entah pergi kemana wanita itu? Albaric melirik setiap sudut ruangan yang nampak hening, namun satu kejanggalan yang berhasil membuatnya mengetahui keberadaan Danisa. Albaric mendengar suara pancuran air dari dalam kamar mandi.


"O'ho, ternyata bidadariku tengah mandi. Apakah harus diri ini yang nakal, kian juga ikut mandi?" ujar Albaric tersenyum nakal.

__ADS_1


BERSAMBUNG….


__ADS_2