Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 4 :Pemaksaan


__ADS_3

Setelah berdiam diri cukup lama di atas kasur, akhirnya membuat sang empu tertidur. Meskipun Danisa tak tenang, tetap saja tak bisa menahan rasa kantuk yang sudah memaksanya untuk tidur beristirahat, dan melanjutkan lagi esok tentang masalah yang tengah terjadi saat ini.


Albaric melihat dari ruang cctv-nya, sosok wanita polos yang terpaksa membayar perbuatan mantan suaminya. Albaric juga tak habis pikir kenapa bisa Rama menyetujui permintaannya hanya demi membebaskan wanita bernama Namira itu? padahal Danisa lebih penting, sebab saat itu Danisa telah menjadi istrinya yang seharusnya Rama lindungi.


Senyum tipis tercetak di wajah Albaric saat melihat dua paha mulus milik sang empu terangkat, benar-benar menggugah selera hasrat ingin bercinta Albaric. Bahkan sudah ada yang berdiri tegak tapi bukan hukum, dia adalah sang Albaric junior yang selalu terbangun ketika melihat sesuatu yang baginya adalah tempat untuk menyeruak sungai yang dalam itu.


Disisi lain, Rama terduduk menyendiri di ruang gelap hanya diisi dengan cahaya lilin saja, pria itu nampak memegang gaun putih yang beberapa saat lalu Danisa kenakan. Cintanya lepas dalam genggaman, padahal Danisa adalah wanita satu-satunya yang Rama cintai.


"Maafin Aku! seharusnya Aku mendengarkan kata-katamu, dan mungkin kejadian ini tak akan pernah ada? Nisa, Mas minta maaf sayang! mas nggak bermaksud buat nyingkirin kamu dari kehidupan Mas, mas terpaksa sayang, tanda tangan dari Namira lah yang membuat Mas harus melepaskan kamu!" ucap Rama dengan lirihnya terdengar begitu ibah untuk seorang pria yang telah berkhayal banyak tentang dunia malam pertama.


Rama mengacak-acak rambutnya depresi, kebahagiaan yang dirasakan hilang dalam kurun waktu beberapa jam saja. Danisa kini bukan menjadi miliknya lagi, dan setelah masa Iddah habis nanti maka dirinya dan Danisa resmi bercerai. Rama adalah pria bodoh yang menjandakan istri demi menyelamatkan janda yang tak lain adalah Namira.


Rama juga dibuat bingung, bagaimana caranya memberitahu keluarga tentang kejadian malam ini? apakah mungkin dia akan berbohong pada orang tuanya? itu tidak mungkin, meskipun berbohong lambat laun akan terbongkar juga? ah entahlah Rama hampir gila memikirkan masalah rumit ini.


**


Pagi yang cerah dengan semerbak sinar mentari menyinari ibu kota hari ini, Danisa sudah sejak beberapa jam lalu bangun dari tidurnya, setelah selesai melaksanakan sholat subuh tadi ia hanya menghabiskan waktu terduduk di ranjang, memeluk kedua lututnya seperti orang yang depresi.


Air mata bercucuran membasahi pipi Danisa, ia masih belum bisa terima jika Rama menceraikannya semalam, apalagi tanpa alasan yang pasti rasanya seperti tidak sah. Danisa juga penasaran dengan seluk beluk yang bisa membuat Rama harus memilih Namira dibandingkan dirinya, tidak mungkin jika Rama melakukan kesalahan fatal itu? Danisa yakin pasti ada alasan di balik itu.


Cklek…


Pintu kamar terbuka, membuat kepala Danisa mendongak ke arah pintu kamar. Di depannya nampak dua pria berbadan besar, dan di tengah-tengah terdapat seorang wanita dengan pakaian kemeja putih dan rok hitam mini. Nampaknya dia membawa nampan stainless di tangannya, lalu setelah perempuan itu masuk pintu kamar kembali ditutup rapat oleh pria tersebut.


"Sudah bangun nona?" tanya si wanita tersenyum sembari meletakkan nampan tersebut di atas meja dekat dengan Danisa

__ADS_1


Danisa mengangguk dengan wajah pucat, tak ada senyum sama sekali di wajah Danisa sejak tadi pagi.


"Nona muda nampaknya ketakutan? apakah semalam tuan memaksa nona untuk melakukannya?" tanya si wanita dengan lancangnya


"tidak, tapi dia menyakitiku," jawab Danisa dengan gelengan kepala.


Si wanita memeluk Danisa mencoba menenangkannya, ia paham betul bagaimana kejam dan kasarnya tuannya. Karena sudah tiga tahun ia bekerja, sehingga tahu bagaimana sikap dan karakter tuan muda dirumah ini.


"Tenanglah! saya ada bersamamu, tak perlu takut!" ucap si wanita mengelus rambut Danisa yang menenggelamkan wajahnya dalam dekapan si wanita.


Danisa terisak tangis, nampaknya ia benar-benar ketakutan setelah perlakuan kasar Albaric tadi malam? setelah cukup lama berpelukan, akhirnya tangis Danisa redah pula. Ia tersenyum sembari berterima kasih pada si wanita sebut saja dia Alana, yang telah berbaik hati membiarkan bajunya dibasahi oleh air mata Danisa.


"Terima kasih mbak, sekarang Nisa merasa sedikit lega," ucap Danisa tersenyum


Kening Danisa terlipat mendengar ungkapan dari Alana "Kenapa? bukankah mbak sama halnya juga manusia seperti Aku? rasanya tak ada hal yang aneh disini, sehingga melarang pelayan berlama-lama di kamar ini? Mbak, duduklah sebentar, disini untuk menemaniku!" usul Danisa sedikit merasa aneh dengan yang Alana katakan.


Alana menggeleng kuat "Mbak nggak bisa Nis, nanti kalau punya waktu, mbak kesini lagi!" ucap Alana tersenyum


"Yaudah deh kalau gitu, mbak harus sering-sering kesini, biar Nisa ada teman. kalau sendirian di kamar ini, rasanya membosankan, kalau ada mbak jadinya bisa terhibur!" tutur Danisa dengan semangatnya


Alana tersenyum dengan anggukan, lalu ia berpamitan pada Danisa untuk meninggalkan kamar itu. Danisa melambaikan tangan pada Alana, setelahnya Alana menghilang di balik daun pintu itu. Danisa kembali murung, entah berapa lama lagi ia akan mendekam di dalam kamar ini? tak cukup membahagiakan jika harus terkurung di kamar besar nan mewah ini, sebab tak ada kebahagiaan di dalamnya selain kesedihan hati dan pikiran bagi Danisa.


Danisa membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan pose ala-ala galau para remaja, nampak menyedihkan. Kehidupan Danisa benar-benar sudah di hancurkan dan di buat kacau oleh Rama dan Albaric, entah takdir seperti apa yang tengah Allah persiapkan untuknya sehingga begitu rumit?


"Kenapa tidak di makan sarapannya nonaku?" tanya Albaric seraya membenarkan dasinya di depan cermin besar kamar.

__ADS_1


Danisa sontak langsung mendongak saat mengetahui Albaric juga ada di dalam kamar ini, segera ia bangkit menutup sebagian tubuhnya yang terekspos karena ketipisan baju yang dikenakan. Danisa menarik selimut lalu bergulung di dalamnya, ia menatap sinis ke arah Albaric lalu berbalik badan tak ingin memandangi pria itu.


Albaric masih fokus membenarkan dasinya, ia tak memandang kearah Danisa sama sekali. Tapi ia tahu kalau Danisa marah padanya, rasa-rasanya sudah tak sabar ingin cepat-cepat menikahi Danisa agar bisa melahap tubuh itu sepuasnya. Tak sadar Albaric mengangkat sudut bibirnya saat membayangkan pernikahan itu terjadi, ini gila tapi dia suka.


"Nona, kau bisa keluar jika bosan di dalam sini! tapi hanya bisa bersamaku, kau bisa mengatakannya kapan saja kau mau!" tawar Albaric sembari melipat lengan kemejanya.


Danisa menoleh sekilas ke arah Albaric setelahnya ia kembali memandangi ke arah lain "Lebih baik Aku mati, daripada menghabiskan waktu bersama denganmu!" cetus Danisa dengan angkuhnya sepertinya ia belum kapok dengan perlakuan kasar Albaric semalam.


Albaric tersengeng sekejap mengangkat satu alisnya "Yakin?" tanya Albaric memastikan sembari melangkah mendekat ke ranjang, sedetik kemudian pria itu duduk tepat di belakang Danisa memandangnya dengan tatapan nakal dan bergairah.


Danisa memejamkan matanya ketakutan, dia juga menenggelamkan wajahnya masuk ke dalam selimut separuh. Jantung Danisa berdegup kencang, saat satu tangan kekar milik si pria kejam itu menyentuh bokongnya.


"Dagingnya kenyal, di balik selimut saja nampak keindahan. Apalagi saat tanpa busana? itu pasti sangat memukau sang junior yang tengah tertidur ini," ucap Albaric dengan suara serak yang menggoda


"Singkirkan tangan kotor itu!" titah Danisa menegaskan pada Albaric agar melepaskan sentuhannya pada bokong Danisa.


Albaric terkekeh geli, bukannya melepaskan tangannya Albaric malah mengelus bokong Danisa bahkan dengan nakalnya ia meremas pula. Sontak Danisa langsung terduduk menjauhkan dirinya dari sosok Albaric yang gila **** itu, langsung Danisa menatap tajam ke arah Albaric.


"Haram bagimu, menyentuh kulitku!" ucap Danisa menunjuk Albaric dengan tatapan sinis serta wajah yang bergetar.


"Haha— Apakah saya terlihat takut? tentu saja tidak, di dalam kehidupanku halal dan haram sama saja, tak ada bedanya! perlu kamu ketahui nona! banyak wanita yang ingin disentuh olehku, anggaplah saya ini raja!" ucap Albaric dengan santainya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Dasar pria tak waras!" umpat Danisa emosi.


BERSAMBUNG….

__ADS_1


__ADS_2