Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 12 : Pencarian


__ADS_3

"Tenang bro, gue cuman becanda!" tukas Aryo merasa takut saat melihat Albaric marah, Aryo tahu betul bagaimana sikap pria dihadapannya saat ini.


Albaric hanya menanggapi dengan senyum sengit mematikannya, Albaric tahu betapa liciknya Aryo kalau soal perempuan. Dan hal itu akan membuat posisi Danisa terancam, Aryo bisa kapan saja datang kerumah dan melihat Danisa ada dirumah.


"Ngapain Lo nyembunyiin anak orang dirumah?" tanya Aryo penasaran


Albaric menoleh sinis "Bukan urusan Lo!" cetus Albaric


Setelahnya pria itu melangkah pergi meninggalkan ruangan, Aryo hanya menatap punggung Albaric yang perlahan menghilang ditelan pintu. Aryo penasaran, apa yang terjadi sehingga membuat Albaric harus menyembunyikan seorang wanita di rumahnya.


"Aku harus mencari tahu, apa yang dia sembunyikan?" gumam Aryo penuh percaya diri.


Albaric melangkah menuju mobil, lalu dia masuk kedalamnya dan mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi. Albaric terlihat memikirkan sesuatu yang cukup membuatnya kebingungan, wajah tampan pria itu nampak lelah dan penuh tekanan.


"Kita kemana tuan?" tanya sopir melirik dari kaca spion.


"Pulang," jawab Albaric cepat


"Baik"


Setelah beberapa menit dalam perjalanan yang cukup melelahkan bagi Albaric akhirnya dia sampai di rumah, keadaan halaman rumah yang nampak gelap gulita tanpa secercah cahaya sedikitpun yang menerangi rumah besar itu.


"Kenapa tidak ada yang menyalakan lampu?" tanya Albaric pada sopirnya.


"Tidak tahu tuan, sebentar saya akan menyalakannya lebih dulu!"


Sang supir pun berlari keluar dari mobil untuk menghidupkan lampu halaman depan rumah, namun saat dia masuk kedalam ruangan tempat pencitan lampu yang terlihat sudah rusak. Tampak seperti sengaja dihancurkan, hal itu membuat sopir Albaric terkejut.

__ADS_1


"Tuan, tuan.. ada yang tidak beres di rumah ini!" teriak sopir itu gelagapan


Albaric yang mendengar langsung tercengang dan segera keluar dari mobil dengan sigap.


"Apa? Apa yang terjadi?" tanya Albaric dengan kecemasan "Kau amankan seluruh tempat, Aku akan kedalam!"


Tanpa aba-aba lagi Albaric langsung berlari masuk kedalam rumah dengan bantuan cahaya senter ponselnya, pria itu cemas karena istrinya ada didalam sana. Meskipun dia tidak mencintai Danisa, tapi sekarang Danisa adalah tanggung jawabnya.


"Nisa… Nisa….dimana kau?" teriak Albaric memenuhi ruangan.


Rumah besar nan mewah itu nampak berantakan, seluruh barang-barang yang ada disana berhamburan di lantai. Albaric kesulitan melangkah, karena pecahan kaca berhamburan di lantai. Entah perbuatan siapa ini?


"Apa yang terjadi? Kenapa barang-barang berhamburan?"


Albaric semakin khawatir melihat kondisi rumah yang gelap dan banyak barang di lantai tergeletak tak beraturan. Albaric berlari ke kamar, saat sampai di depan pintu kamar Albaric terkejut karena tidak menemukan Danisa berada didalamnya. Albaric masuk kedalam, barang-barang didalamnya juga berhamburan tak beraturan.


"Ck kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini?" kesal Albaric langsung berlari menuju gudang yang berada di bawah.


Seluruh anak buah Albaric telah sampai di rumah untuk membantu mengamankannya, sebagai penjaga dan membantu untuk menangkap para penjahat yang menyusup masuk ke rumah Albaric.


Albaric sampai di pintu gudang, tampak terbuka. Pria itu perlahan masuk ke dalam, saat sampai di dalam gudang Albaric menemukan Danisa yang tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pria itu segera merangkul tubuh mungil Danisa, tampak kaki dan tangan Danisa penuh lebam dan cakaran kuku. Sebagian baju yang tersobek-sobek, membuat Albaric semakin marah.


Nafas pria itu tampak bergelombang karena menahan emosi, kedua rahangnya mengeras dan penuh gelombang.


Setelah membawa Danisa ke rumah sakit, Albaric kembali dengan penuh kemarahan. Albaric mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari tahu siapa dalang di balik ini, karena para pengecut itu telah berani menyentuh istrinya.


"Saya tidak ingin alasan apapun dari kalian semua, saya tidak mau tau, pokoknya para penjahat itu harus ditemukan dalam 24 jam ini!" sentak Albaric dengan suara keras penuh kemarahan.

__ADS_1


Semua pria berbaju hitam berbaris hanya menunduk mendengarkan kemurkaan Albaric, tuan mereka tampak begitu marah bisa dilihat dari caranya berbicara saat ini.


"Ini semua terjadi karena kelalaian kalian, jika kalian tidak menemukan penjahat itu, maka kalian akan bertanggung jawab!" lanjut Albaric melempar kursi plastik ke arah taman bunga.


Setelahnya pria itu masuk kedalam mobil dan pergi entah kemana, situasi saat ini menghancurkan semua rencana yang ingin Albaric lakukan. Albaric mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata, mobil hitam itu melaju dengan kencangnya melewati pengendara yang lain.


"Arghhh…. brengsek, berani-raninya orang itu menyentuh Danisa! Aku tidak akan tinggal diam, dimanapun persembunyian kalian akan aku cari sampai di lubang semut sekalipun!" ucap Albaric penuh dendam yang luar biasa.


Albaric murka, pria itu berjanji pada dirinya sendiri akan menghancurkan siapapun yang telah berani mengobrak-abrik rumah dan Danisa. Selama ini sudah menjadi ancaman jika siapapun mengganggunya maka akan mendapatkan imbalan setimpal dari Albaric.


"Gue yakin Al, pasti Ilham pelakunya. Soalnya tadi siang, mereka nggak ada di markas. Mereka nggak ngasih tau gue mau kemana, tapi yang mencurigakan, gue liat Leon memegang kunci duplikat rumah Lo!" tutur Aryo dengan yakinnya.


Albaric diam dengan rahang mengeras dan tatapan tajam bagaikan elang, nafas yang memburu penuh kemarahan.


"Kunci duplikat? maksud Lo?"


Albaric langsung meraba jasnya, benar saja kunci yang ada di dalam kantong jasnya menghilang. Hal itu menambah keyakinan apa yang Aryo ucapkan.


"Gue benarkan, kunci Lo ilang? Gue yakin, mereka yang ngelakuin!" lanjut Aryo meyakinkan Albaric agar percaya apa yang dia katakan.


Albaric terlihat tengah memikirkan sesuatu, tapi apa yang Aryo ucapkan tidak cukup menguak bukti kalau Ilham dan Leon pelakunya.


"Gue nggak yakin kalau mereka pelakunya, karena sudah dua hari full gue nggak ketemu dua anak itu. Nggak mungkin mereka, meskipun mereka memegang kunci duplikat itu, tetap saja gue nggak percaya mereka yang ngelakuin!" tutur Albaric bingung


Aryo terdiam sejenak lalu pria itu bangkit dari duduknya "Lalu siapa? Siapa lagi yang dendam sama Lo? Lo mikir Al, Leon sama Ilham itu sakit hati sama Lo. Karena Lo nggak .b bagi hasil, barang yang mereka jual semua hasilnya Lo ambil," tutur Aryo dengan penuh percaya dirinya.


"Gue tetap nggak mau percaya, karena bukti belum tertuju pada mereka. Biar gue nyari tau sendiri, siapa dalang di balik ini!"

__ADS_1


Albaric dengan santai pergi meninggalkan Aryo, entah kenapa Albaric tidak curiga pada Ilham dan Leon atas tuduhan dari Aryo. Dan Albaric lebih merasa Aryo pelakunya, firasatnya sangat kuat bahwa Aryo lah pelaku utama.


__ADS_2