Janda Di Malam Pertama

Janda Di Malam Pertama
Bab 13 : Dendam


__ADS_3

Setelah pulang dari markas, Albaric kembali kerumah sakit untuk menjenguk keadaan Danisa saat ini. Saat sampai di rumah sakit, Albaric menemukan Rama berada di dalam ruangan Danisa. Entah tahu dari mana pria itu Danisa masuk rumah sakit?


"Ck, kurang ajar. Sedang apa pria itu disana?" umpat Albaric dengan kesalnya.


Albaric berdiri didepan pintu dengan tatapan sinisnya, sebagai suami Danisa Albaric sangat berat hati jika Rama dengan lancangnya menemui Danisa.


"Nisa, bangunlah sayang! mas disini, datang buat jengukin kamu. Ayo bangun sayang!" ucap Rama memegang tangan Danisa yang terlihat pucat pesi dan banyak luka lebam di tangan nya.


Albaric emosi saat Rama dengan lancang menyentuh Danisa, pria itu langsung berlari masuk kedalam menjauhkan tangan Rama dari tangan istrinya.


"Akan ku potong tangan lancang itu, jika kau berani menyentuhnya lagi!"


Ancam Albaric dengan tatapan sinisnya, dia tidak rela jika pria lain menyentuh perempuannya meskipun dia tidak mencintainya. Tetap Albaric tidak suka jika orang lain dengan berani menyentuh miliknya, karena hakikatnya perempuan yang bersamanya saat ini adalah ratu dan Albaric melarang keras siapapun yang akan menyentuh ratunya.


Rama berbalik lalu menatap sinis Albaric, keduanya beradu pandangan sengit dengan situasi yang cukup meyakinkan keadaan saat ini.


"Bangsat, kamu apakan Nisa?" bentak Rama dengan tangan terkepal kuat.


"Kenapa? Apa urusannya dengan kau?" balas Albaric yang kian juga ikut membentak.


Rama menarik kerah baju milik Albaric, keduanya saling menatap dengan sinisnya. Sama-sama tidak terima, dengan apa yang dilakukan.


"Kau apakan Nisa? Kenapa sampai begitu parah? Aku tau, saat ini Nisa memang milikmu. Tapi tidak seharusnya dan sepantasnya kau kasar padanya, dengar! aku bisa saja membunuh kau, jika Aku mau. Hanya saja Aku tidak ingin membuat Nisa menjadi menderita!" tegas Rama dengan tatapan tajam bak elang dan wajah yang memerah.


Albaric tersenyum menyeringai " Cuih, dasar tidak tau malu! Kau pikir perbuatanmu itu sudah benar? kau adalah pria paling bejat yang saya kenal, kau dengan tega menjual istri yang baru saja dinikahi, demi seorang wanita murahan! Kau pria brengsek!"


Albaric mendorong tubuh Rama agar menjauh darinya, pria bajingan itu tidak seharusnya menarik baju mahal miliknya.

__ADS_1


"Aku tau jika itu kesalahanku, tapi kali ini bukan lagi kesalahanku. Melainkan kesalahan kau! Demi tuhan jika terjadi yang tidak-tidak pada Danisa, maka Aku tidak akan segan-segan akan membunuh kau!" sentak Rama dengan pipi bergetar penuh kemarahan.


"Sama sekali tidak berpengaruh, kau hanyalah kotoran kecil bagiku. Sehingga tidak ada waktu untuk menanggapi orang bodoh seperti kau!" balas Albaric


Keduanya saling menatap dengan sengitnya, sama-sama tidak ingin kalah. Keduanya sama-sama dikuasai oleh emosi, akibat melihat keadaan Danisa yang tengah kritis saat ini.


"Jangan macam-macam!" ancam Rama dengan tatapan tajam.


"Kamu yang jangan macam-macam, saya tidak akan segan-segan memerintahkan anak buah saya untuk membunuh kamu!?"


"Kalian kenapa?" tanya Danisa yang baru saja siuman melirik ke arah dua laki-laki yang nampak akan segera adu tonjok.


Albaric dan Rama, menoleh kearah Danisa yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu, Danisa tampak mencari-cari sesuatu namun tak ditemukan olehnya?


"Nisa," ucap Rama yang segera meninggalkan perdebatan dan mendekat ke ranjang.


"Ngapain kamu, disini?" tanya Danisa dengan suara serak dan intonasi tinggi.


"Aku mau liat kamu, Aku khawatir sama kamu!" ungkap Rama dengan wajah memelas.


"Aku nggak butuh, belas kasihan dari kamu!" ujar Danisa memejamkan matanya menahan sesak.


"Nisa, kenapa kamu ngomong gitu sayang?" ucap Rama mencoba meraih tangan Danisa, namun di tepis oleh Danisa.


"Jangan sentuh Aku, pria brengsek seperti kau tidak pantas ada di sini!" cetus Danisa dengan mata berkaca-kaca, serta nafas yang memburu.


"Nisa, maafin mas sayang!"

__ADS_1


Rama membujuk Danisa dengan raut wajah memelas, pria itu berlutut memohon maaf pada Danisa atas kesalahan yang sudah dia lakukan.


"Pergi!" perintah Danisa dengan tegas mengusir Rama dari ruangan itu


Rama menoleh kebelakang melirik kearah Albaric yang hanya berdiam diri tanpa ekspresi, Rama kesal melihat keadaan saat ini karena dirinya sudah tidak bisa bebas lagi bertemu dengan Danisa seperti waktu dulu.


"Nisa,"


Rama memohon pada Danisa agar tidak mengusirnya dari ruangan tersebut, karena Rama masih ingin mengetahui lebih dalam lagi siapa dalang dibalik kejadian ini. Dan Rama ingin tahu apakah Albaric lah yang melakukan ini semua?


"Pergi, Aku nggak Sudi liat kamu ada disini!" bentak Danisa dengan tatapan sinis serta nafas yang terlihat memburu menahan sesak.


Rama menghela nafas kecewa lalu dia menunduk dan berbalik kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan tempat dimana Danisa dirawat. Tak lupa Rama menatap tajam kearah Albaric yang masih setia berdiri di tempatnya.


Setelah perginya Rama dari tempat itu, Danisa menoleh ke arah Albaric yang berdiri jauh darinya. Wanita itu melengos memandang kearah lain, dirinya kecewa karena Albaric datang terlambat untuk menyelamatkannya.


"Kemana kau semalam?" tanya Danisa dengan suara bergetar menahan tangis


Albaric diam membisu, pria itu memandang dingin Danisa lalu tanpa basa-basi dia pergi meninggalkan ruangan tersebut. Danisa semakin terdiam kaku, saat memandangi kepergian Albaric.


"Gila, dasar pria gila! dia bahkan tidak peduli padaku, tidak waras, jika bukan karena ancaman Aku tidak akan mau menikah dengan pria tidak waras seperti dia!?" gerutu Danisa dengan penuh kekesalan melihat Albaric yang pergi begitu saja tanpa menanyakan apapun padanya.


Albaric meneguk segelas wine dengan kasarnya, pria itu menggenggam erat gelas kecil di tangannya. Kobaran api dendam nampak jelas di mata Albaric, pria itu telah hilang kendali dan siap akan memusnahkan apapun yang mengganggunya.


"Siapapun yang sudah berani menyentuh Danisa, maka tanganku tidak akan segan-segan untuk membunuh tangan kotor yang telah berani itu!" ucap Albaric penuh dendam dan kemarahan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2