
"O'ho, ternyata bidadariku tengah mandi. Apakah harus diri ini yang nakal, kian juga ikut mandi?" ujar Albaric tersenyum nakal.
Pria itu membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk, dia memandangi langit-langit kamar yang di desain dengan indahnya. Albaric tertawa, karena membayangkan betapa indahnya tubuh Danisa tanpa sehelai benang. Meskipun ini gila, tapi Albaric suka karena sudah pasti itu sangat menggodanya.
Tak terasa sudah hampir setengah jam Albaric berbaring, menunggu Danisa keluar dari kamar mandi. Namun penantiannya tak kunjung diobati, terdengar air terus menyalah dari dalam kamar mandi.
"Kenapa dia lama sekali?" gumam Albaric bertanya sendiri.
Albaric bangkit lalu melirik ke arah pintu kamar mandi, pikirannya jadi tak nyaman dan seperti ada yang tidak beres saat ini.
"Seharusnya sudah sejak tadi, dia keluar. Lalu kenapa sekarang dia belum juga keluar?" lanjut pria itu lagi mengoceh sendiri.
Albaric pun langsung berdiri dan melangkah ke dekat kamar mandi, ia menempelkan daun telinganya ke pintu dan sama sekali tidak mendengar suara Danisa di dalamnya dan hanya mendengar pancuran air saja.
Bragg….
Pintu kamar mandi didobrak secara paksa, sehingga daun pintu yang terpasang lepas pada tempatnya. Seketika Albaric langsung kaget bukan main, saat melihat kondisi Danisa yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi dengan luka di tangannya.
"Dasar wanita, bodoh!" decak Albaric merasa kesal melihat kelakuan nekat Danisa.
Segera dia berlari dan merangkul tubuh mungil Danisa, Albaric tampak kesal karena kenekatan Danisa yang telah berani menyakiti diri agar terbebas dari rumahnya.
Albaric membaringkan tubuh Danisa di atas kasur, meskipun dia tahu tubuh wanita itu basah kuyup dan itu akan mengotori kasur mahalnya. Dia bahkan tidak ada inisiatif ingin membawa Danisa kerumah sakit, untuk diselamatkan.
"Aku mau lihat, seberapa kuatnya dirimu!" ucap Albaric membelai wajah pesi Danisa.
__ADS_1
Albaric mengusap tubuh Danisa dengan handuk, pria itu tampak lembut namun nyatanya dia adalah sosok yang kasar. Buktinya saja dia tidak takut, jika Danisa tidak bisa diselamatkan lagi karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Albaric melihat sekali lagi wajah cantik Danisa saat tidak sadarkan diri, perincian matanya tak sengaja memandangi dua gundukan kenyal yang nampak sempit dan berbakat akibat bajunya basah.
"Hey boy, tenanglah!Ini belum waktunya," gumam Albaric seraya menepuk si kecil yang tengah terbangun di bawa sana.
Tubuh Danisa yang putih dan mulus, nampak menggoda, Albaric bahkan hampir gila karena menahan rasa nafsu yang dia rasakan saat ini. Albaric mencoba menepis pikiran gilanya saat ini, lalu dia mulai menyibukkan dirinya dengan membersihkan tubuh Danisa dan mengobati luka yang ada di tangan dan kaki Danisa.
"Kenapa kau begitu nekat?Padahal kau bisa hidup dengan bahagia, ketika bersamaku. bodoh, kau pasti masih ingin hidup bersama dengan pria itu!" rutuk Albaric dengan alis terangkat.
***
Beberapa jam yang lalu Albaric membersihkan luka dan mengobatinya, sekarang pria itu tertidur dalam pelukan Danisa. Mereka bahkan tidak sadar jika sudah tertidur satu ranjang, Danisa yang semulanya belum sadarkan diri wajar jika dia tidak tahu jika Albaric mendekatinya.
Namun setelahnya Danisa tersadar, dia kaget saat Albaric berada dalam dekapannya. Pria itu tertidur dengan lelapnya, wajah tampan yang begitu polos ketika terlelap.
Danisa ingin membangunkan Albaric, namun entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa tidak tega ketika melihat betapa lelahnya pria di hadapannya itu. Danisa juga merasa kenapa dirinya tidak mati? Padahal gunting itu telah menusuk tangannya dengan kuat, bahkan mungkin bisa menghabiskan seluruh darah miliknya. Lalu, kenapa sekarang dirinya masih bernyawa? sepertinya tuhan tidak adil padanya.
"Sudah bangun sayang?" tanya Albaric dengan suara serak dan pandangan yang masih sayu.
"Apa? Apa maksudmu?" ujar Danisa gelagapan langsung mendorong tubuh Albaric agar menjauh darinya.
"Kenapa hm? Saya hanya menumpang tidur saja, apakah kamu tidak suka?" lanjut Albaric dengan suara berat yang menggoda.
"Menjauh dariku! Aku tidak Sudi, jika laki-laki kotor sepertimu ada disini!?" sentak Danisa
__ADS_1
Albaric duduk di tepi ranjang, dia menetralkan nafas seraya mengucek-ucek matanya, tak lupa juga dia membenarkan rambut yang kusut lalu menoleh ke arah Danisa.
"I love you," ucapnya tersenyum tipis, setelahnya pria itu bangkit dan pergi dari kamar.
Danisa terdiam dengan kening mengkerut, dan bahu yang terangkat karena merasa bingung dengan ucapan Albaric barusan.
"Dasar pria gila!" rungut Danisa menjelitkan matanya dengan lincah.
****
Rama nampak depresi saat ini, dia bahkan enggan melakukan aktivitas. Dirinya hanya bisa mengingat Danisa, dan segera ingin bertemu dengan Danisa. Rama berharap jika suatu saat dia kembali dipertemukan dan dijodohkan pada wanita yang dia cintai yaitu Danisa.
"Danisa, Mas mohon kembali lah!" ucap Rama seraya menghapus air mata yang bercucuran membasahi pipinya.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Namira yang entah datang dari mana?
Rama menoleh lalu kembali menunduk dan tidak peduli dengan kehadiran Namira, karena Rama masih kecewa dengan apa yang Namira lakukan terhadapnya.
"Bukan urusanmu!" cetus Rama dengan intonasi membentak.
"Dih, kenapa? laki kok cengeng? Seharusnya Lo itu nggak nangis gini, kalau emang Lo cinta sama Nisa cari dong! Lo pikir dengan menangis gini, bisa bikin Nisa kembali? nggak Ram, Nisa nggak akan bisa kembali. Dia itu di tangan pria kejam, dan cerdik. Sulit buat Lo ketemu sama Nisa kalau cuman diam diri aja!" tutur Namira
Namira tersenyum tipis sambil menepuk bahu Rama sebagai penguat agar Rama tidak lemah lagi, Namira tahu bahwa yang terjadi saat ini adalah kesalahannya. Tapi, dia juga tidak sadar kalau menyakut pautkan Rama atas hutang yang telah dia buat. Sehingga Rama juga harus ikut tertarik dalam masalah ini.
Rama hanya diam tak menanggapi ucapan Namira, tapi dia meresapinya di dalam hati. Karena jika di pikir-pikir ucapan Namira ada benarnya juga, karena Albaric adalah pria yang cukup pintar tidak mungkin dia akan mengizinkan Danisa pergi keluar tanpa izinnya.
__ADS_1
"Pergi, jangan ganggu saya!" bentak Rama mengusir Namira agar menjauh darinya.
BERSAMBUNG….