
"Ella buruan turun, sarapan dulu." Teriak Ibu dari arah dapur.
"Iya bu bentar."
Hai namaku Callista Ella Mackenzie biasa di panggil Ella, aku lahir di Jerman dan akhirnya pindah ke Jakarta saat aku mulai memasuki Sekolah Dasar. Aku adalah anak tunggal, alias anak satu-satunya dari keluargaku.
"Yah, ayo berangkat.." Kata ku sambil melihat Ayah yang sedang membaca koran.
"Iya-iya."
Saat ini aku masih menginjak kelas 5 SD, aku yang masih seusia ini masih sering ngeyel alias keras kepala. Walaupun begitu aku bukan anak yang bandel dan manja. Aku anak yang cukup tegas, mandiri, ceria, dan cukup pintar. Aku sudah pernah menjadi ketua kelas selama 5 kali berturut-turut, dan mungkin ini terakhir kalinya aku menjadi ketua kelas, aku sudah tidak mau dan sudah tidak tertarik lagi menjadi ketua kelas.
"Hai la!" Suara yang mengagetkan ku bersamaan dengan tepukannya.
"Pelan dikit ngapa.." Kata ku sambil sedikit emosi.
"Hehe maap."
Ini sahabat ku namanya Aditya Reza Aryandra, biasa di panggil Reza. Dia sifat dan kelakuannya kebalikan dari aku, dia anak bandel, suka bolos, dan pernah dapet ranking terakhir di sekolah walaupun cuma sekali. Tapi dia anak yang tegas juga dan mandiri, dia juga ceria dan aku suka setiap dia tertawa terbahak-bahak.
"Boleh nggak aku ke kantin bentar?" Pinta Reza sambil membinarkan matanya.
"Nggak! ntar kamu bolos lagi!" Jawab ku dengan tegas sambil menarik tasnya.
Pertama kali kami bertemu adalah saat ulang tahun Ayah yang dirayakan di rumah, Reza dan keluarga nya datang dan memberi ucapan selamat kepada Ayah. Kami pun dipertemukan dan di perkenalkan, saat itu kami masih malu-malu bahkan aku juga sempat bersembunyi di belakang Ayah. Sejak saat itu kami jadi sering bertemu karena ternyata kami juga satu sekolah, dan sampai sekarang kami pun sudah menjadi sahabat.
"Mampir ke warung Mbok Ismi yuk!"
"yuk!"
Sepulah sekolah kami biasanya mampir ke warung Mbok Ismi, karena warung nya juga satu arah ke rumah jadi kami tidak merasa pergi terlalu jauh dari rumah dan orang tua kami pun juga tau kami sering pergi ke sini.
"Mbok nyam-nyam nya beli 1 gratis 1 nggak?" Aku bertanya dengan nada rendah, dan mengaharapkan jawabannya iya.
__ADS_1
"Nggak dong, kalo Ella beli 5 baru deh gratis 1."
Jawab mbok ismi sambil mengelus rambut ku.
"Ah.. Mbok Ismi tambah pelit nihh." Reza yang sedikit sebal.
"Jangan nyalahin Mboh terus dong.." Keluh mbok ismi.
Mbok Ismi adalah seorang Ibu yang memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Yayan, Mbok Ismi ini juga seorang diri mengurus si Yayan di karenakan suaminya sudah meninggal saat si Yayan masih di dalam kandungan. Si Yayan ini lebih tua satu tahun dari kami dan sekolah Yayan juga bukan di sekolah kami jadi nggak bisa pulang bareng deh.
"Mbok kami pulang dulu ya!" Aku yang berpamitan kepada mbok ismi.
"Iya hati-hati!" Jawab mbok ismi sambil menunjukkan senyumnya.
"Kamu udah belajar?" Tanya Reza.
"Aku mah belajar tiap hari, nggak kayak kamu!" Jawab ku dengan ketus.
"Iya-iya, aku mau belajar bareng dong di rumah kamu boleh?" Pinta Reza pada ku.
"Enggak, kan bentar lagi kita mau ada ujian kenaikan kelas kan.. ada pelajaran yang aku nggak ngerti." Reza yang menjelaskan kondisinya.
"Tumben nggak ngerti, oke deh nanti malem ya!" Sambil ku usap kepalanya
Reza sering berkunjung ke rumah ku, begitu juga dengan aku. Tetapi masih sering si Reza yang pergi main ke rumah ku, apalagi kan ini masih musim hujan jadi rumah dia sering kebanjiran. Bukan nginep sih cuman main aja, kalo rumah dia kebanjiran juga masih bisa buat tidur kok.
"Bu nanti malem Reza mau belajar bareng di sini." Aku memberitahu Ibu di dapur.
"Oh.. nanti mama bikinin cemilan ya! Mau?" Tanya Ibu.
"Ya-ya mau!" Jawab ku.
Ibu biasanya bikinin kami coklat panas dan biskuit coklat, itu kesukaan kami banget. Satu toples biskuit coklat pun habis kalau diberikan pada kami, kalau lagi nggak ada coklat panas biasanya cuma susu atau jus aja sih, tetapi tetap coklat panas tetap nomer satu dihati.
__ADS_1
"Tuh kan kamu salah lagi, yang bener tu rumus yang ini bukan yang itu." Aku yang sembari menunjuk-nunjuk bukunya.
"Tau ah! pusing!" Pelajaran matematika memang sering membuat Reza angkat tangan.
"SIAPA YANG SURUH KAMU TIDURAN.." Aku yang sudah sedari tadi geram pada Reza.
"Ah gatau, ga ngerti aku.." Reza yang sudah putus asa.
Walaupun Reza bisa di bilang nggak pinter di pelajaran kelas, tetapi dia pinter soal kemampuan. Dia pernah juara silat dan juga lari, dia payah dalam berhitung. Dia bakal tidur kalau ada ulangan matematika, tetapi dia masih aja suka ngajak belajar bareng padahal dia udah suka nyerah duluan gitu.
"Jangan nyerah dulu dong, kalau kamu belajar lagi pasti bakalan ngerti kok." Aku mencoba menyemangati Reza.
"Aku nggak bisa belajar kalau udah liat angka-angka.." Pasrah Reza.
"Huftt.." Hela ku dengan kelakuan Reza.
"???" Reza yang hanya menatap ku dengan wajah bingungnya saat mendengar aku mengehela nafas.
"Aku ngga bolehin kamu main kerumah ku lagi kalau kamu kayak gini lagi, udah keluar sana!" Ancaman untuk Reza.
"Hah? jangan gitu dong.. iya-iya nih aku belajar lagi." Reza yang mendengarnya pun langsung bangkit dan fokus lagi.
"Yang semangat dong!" Aku menatap tajam Reza dengan tatapannya.
"Iya ini aku semangat banget kok." Jawab Reza.
Aku udah sering banget belajar bareng sama Reza, dan ini juga bukan pertama kalinya dia gitu sih. Aku suka ngancem Reza buat nggak bolehin dia dateng ke rumah ku lagi kalau dia nggak mau belajar, karena dia kan ke sini mau belajar bukan mau main. Dia bakalan nggak bisa nyobain coklat panas dan biskuit bikinan Ibu, makanya dia takut tiap kali aku ancam begitu.
"Udah jam segini nih, pulang sana aku ngantuk." Aku yang sudah menguap selama berkali-kali.
"Oh oke deh aku pulang dulu ya, selamat tidur la!"
"Selamat tidur za."
__ADS_1
Bersambung...