Janganlah Pergi

Janganlah Pergi
Ep 4: Takut


__ADS_3

Pagi hari ini aku merasa lesu, mata panda ku juga terlalu kelihatan. Aku hampir tidak bisa tidur tadi malam, kata-kata Reza masih berada di kepalaku rasanya benar-benar menjengkelkan. Aku hanya bengong di kelas sampai teman-teman ku menanyakan apakah aku baik-baik saja, tentu saja tidak.. aku sedang tidak baik-baik saja.


"Ella!" Panggil Latte.


"Huh? Kenapa?"


"Kamu kenapa sih seharian ini? Galau karena Reza pindah?"


Aku yang terkejut mendengarnyapun langsung tertunduk, aku merasa aku sedang tidak galau. Aku merasa emosiku sedang bercampur aduk, karena takut, cemas, dan kecewa. Aku teman dekat Reza, kenapa dia sungkan untuk menceritakannya. Jika dia bisa cerita sebelum saat dia pindah, mungkin kami bisa ngeluangin banyak waktu lagi buat bersama. Tapi, dia..


"Aduh!"


"Ella kamu nggak papa?"


Aku yang tersandung batu lalu terjatuh, rasanya berat untuk berdiri lagi. Kenapa aku jadi seperti ini, aku harus segera melupakannya. Bersemangatlah Ella!

__ADS_1


Pulang ke rumah sendiri, aku juga jadi jarang mampir ke warung mbok Ismi. Aku punya banyak teman kenapa harus khawatir, aku akan baik-baik saja tanpanya.. begitu juga Reza.


Aku merasa seperti anak kos, aku juga harus belajar mencuci baju ku sendiri dan memasak. Aku juga harus bersih-bersih rumah agar bibi tidak perlu bolak-balik ke rumah. Walaupun berat aku juga harus terbiasa, aku tidak boleh merepotkan bibi.


Malam tiba, hujan turun deras bersamaan dengan angin yang kencang. Aku harap listriknya tidak mati nanti, aku akan sangat ketakutan jika itu terjadi. Baru saja ku katakan, dan langsung terjadi.


"Ah!!"


Listriknya mati, Benar-benar gelap dan aku mulai ketakutan. Aku mencoba mencari senter di laci sambil meraba-raba, tapi aku tidak menemukannya. Aku memutuskan untuk pergi ke kamarku, aku menaiki tangga dengan hati-hati karena aku tidak bisa melihat dengan jelas karena sangat gelap. Aku duduk di atas kasur sambil terdiam, hanya suara hujan dan petir menyambar yang terdengar.


"Ibu..."


"Ella!!"


"Ah? Bibi?" Aku mendengar suara bibi dari bawah, aku langsung keluar dari kamar dan menemuinya.

__ADS_1


Saat bibi sudah datang listriknya pun sudah menyala, aku sangat lega. Aku memeluknya sambil menangis, dan aku juga tertidur saat menangis dipelukannya. Aku tidak tau apakah anak seumuranku juga akan menangis ketakutan sepertiku jika mengalami hal yang sama?


Mataku sembab karena menangis tadi malam, bibi masih ada di rumah hari ini katanya ibu sudah siuman dan aku bisa menengoknya nanti.


"Em.. itu.. mata kamu?" Latte bertanya dengan sedikit menjengkelkan.


"Iya ini mata aku, emang mata siapa lagi.."


Aku menceritakan kenapa mataku terlihat sembab, dia langsung memelukku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku merasa sedikit lega bisa menceritakannya, aku senang memiliki teman seperti Latte.


Waktunya sudah pulang, aku bisa pergi ke rumah sakit sekarang, aku ingin mengajak Latte tapi aku tidak melihat dia ada di mana. Aku melihat di sekitar gerbang, dia sedang berada di luar. "Latte!" Aku memanggilnya dan berjalan ke arahnya.


"Aku nungguin kamu loh di sini!" Sahutnya.


"Iya-iya maaf, aku juga nyariin kamu tau.."

__ADS_1


Aku mengajak Latte untuk pergi menjenguk Ibu, Dia mau ikut tetapi tidak bisa terlalu lama. Aku juga ingin menunjukan kepada Ibu bahwa teman ku bukan hanya Reza saja, aku juga punya banyak teman lainnya. Aku juga ingin bertanya apa Keluarga Reza sudah berpamitan pada Ibu, mungkin seharusnya sudah.


Bersambung..


__ADS_2