
"Akhirnya kasurku tercinta.." Aku membaringkan tubuh di kasurku, bahkan tak lama kemudian aku sudah tertidur.
"Hah! Akukan harus beres-beres."
Akupun menyiapkan semuanya dan memasukkan ke dalam koper, aku juga tidak lupa untuk memberi tahu ibu bahwa aku akan pergi ke Bali. Aku rindu pada ibu, tapi ibu akhir-akhir ini sangat sibuk di sana jadi tidak bisa pulang. Semoga ibu selalu dalam kondisi sehat, dan selalu baik-baik saja di sana.
Saat sudah selesai aku pergi ke supermarket di dekat rumah untuk membeli beberapa makanan, stok snackku sudah menipis jadi aku harus membelinya lagi. Banyak snack yang belum pernah aku coba, jadi aku membeli beberapa untuk aku coba nanti. Aku juga membeli snack favoritku dan juga makanan lainnya, aku juga membeli beberapa buah karena dokter menyarankanku untuk sering mengonsumsi buah-buahan.
DUKK
"Ah maaf!" Tanpa sengaja aku menyenggol seseorang, tapi orang itu menghiraukanku jadi aku langsung pergi. Tapi ada sesuatu yang sepertinya aku kenali, mungkin hanya perasaanku saja.
Sesampainya di rumah aku meletakkan semua yang kubeli tadi ke tempatnya, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Aku anak yang mandiri, itu yang dikatakan orang-orang sedari aku masih SD. Untuk memasakpun tidak sulit lagi untukku, karena dulu aku juga selalu memasak sendiri saat bibi masih harus menjaga ibu di rumah sakit. Terkena cipratan minyak atau membuat dapur berantakan tentu saja pernah, jika pengalaman seperti itu tidak pernah terjadi dalam hidupku aku juga pasti tidak akan bisa memasak.
"Selamat makan!"
Aku menyantap habis makananku lalu segera menyucinya, sambil menunggu makanannya turun aku menonton tv sebentar. Karena aku sudah merasa mengantuk aku langsung pergi ke kamar dan tidur.
"Ella bangun!"
"???"
"Ayo kita harus ke bandara!"
Latte datang dan membangunkanku, untung saja aku masih sempat untuk mandi. Aku berangkat dengan Latte, kak Farel dan Arya sudah berada di bandara.
"Bentar aku mau beli lipbalm dulu, kalian duluan aja!"
Akupun pergi untuk membeli lipbalm, dan ternyata ada Arya yang sedang berada di belakangku. Setelah sampai di toko aku mencari lipbalm lalu mendatangi Arya.
__ADS_1
"Mau beli apa?"
"Permen."
"Nggak usah, aku punya banyak permen!" Sambil mengambil permen yang sedang di bawa Arya, lalu mengembalikan ke tempatnya.
Setelah membeli lipbalm Latte menelponku, katanya kita harus bergegas karena sebentar lagi akan berangkat. Aku juga baru sadar ternyata toko yang aku datangi cukup jauh dari Latte dan kak Farel, apa aku harus lari?
"Maaf ya, Ayo!"
Akupun menarik tangan Arya lalu berlari, karena bandara tidak cukup ramai aku jadi bisa lari tanpa harus menabrak orang. Dan akhirnya kami sampai dengan tepat waktu.
Kami langsung masuk setelah petugas mengecek, lalu langsung mencari tempat kami. Aku duduk di tengah bersama Latte, Kak Farel dan Arya berada di belakang kami. Kami pergi dengan penerbangan Business Class, dan saat pulang ke Jakarta juga sama. Penerbangan kami sekitar 3 jam untuk sampai ke Bali, dan saat di bandara kami akan di jemput oleh petugas dari hotel.
Karena sudah lapar aku memesan makanan, tapi tidak dengan mereka bertiga. Latte dan kak Farel memilih untuk tidur, sementara Arya sedang menonton film. Setelah selesai makan aku akan menggambar, dan satu jam sebelum sampai aku akan tidur.
Sesampainya di bandara kami di jemput oleh petugas dari hotel, lalu kami di beri kamar hotel masing-masing. Padahal tidak perlu sendiri-sendiri mereka bisa memberi 2 kamar saja untuk kami, hadiah dari ayah Latte benar-benar sangat berharga.
Pagi hari yang cerah, suasana di hotel yang sangat nyaman. Kami pergi ke bawah untuk sarapan, kami bisa memakan apapun sepuasnya dari hotel ini. Pelayanan mereka juga benar-benar sangat memuaskan, mereka sangat baik kepada kami. Setelah kami sarapan, aku memutuskan untuk mengajak Latte pergi keluar. Tetapi Latte menolaknya, dia ingin di hotel saja sambil ingin menikmati spa dan juga berenang.
"Yaudah terserah kamu aja, besok gantian aku yang di hotel. Kamu jalan-jalan sendiri." Aku sedikit kesal padanya, padahal kita bisa lakuin itu di hari terakhir nanti buat melepaskan kecapekan kita gitu loh.
"Enaknya ke mana hari ini?" Aku berdiri di depan hotel sambil melihat hpku untuk mencari tempat yang bisa aku kunjungi.
"Hai!" Arya menyapaku.
"Oh hai! Mau ke mana?"
Arya hanya menggelengkan kepalanya, apakah sesulit itu untuk menjawab pertanyaanku. Akupun mengajaknya untuk ikut denganku, dan dia menyetujuinya. Tapi sayangnya aku belum tahu ke mana kita harus pergi sekarang.
__ADS_1
"Kamu punya tempat yang mau kamu kunjungi di sini?"
Arya mengangguk, lalu dia pergi meninggalkanku. Akupun bengong melihatnya, aku hanya diam karena tidak mengerti apa yang dia maksud. Arya menengok ke arahku dan menggandeng tanganku, apa maksudnya ini? Aku bertanya pada Arya lalu dia berkata.
"Galeri lukisan."
Ahh, dia ingin pergi ke sana sepertinya. kami pergi dengan naik taksi, lalu setelah sampai di galeri lukisan dia mengeluarkan kameranya.
"Eh? Sejak kapan kamu bawa kamera?"
"berdiri di situ."
Arya menyuruhku berdiri di dekat lukisan, lalu dia memotretku. Dia banyak memotretku, di setiap lukisan yang ada dia harus memotretnya bersama denganku.
"Sini gantian aku!" Aku mengambil kamera yang berada di tangannya, lalu mendorongnya ke dekat lukisan dan memotretnya. Di kamera bahkan dia juga terlihat tampan, tidak salah dia salah satu dari 5 top list orang tampan di sekolah. Aku juga tidak tahu dia ada di posisi berapa, karena aku tidak terlalu mengikuti tentang hal itu.
Setelah selesai pergi ke galeri lukisan, kami mampir ke kafe. Aku meminjam kamera Arya dan melihat foto-foto yang kami ambil tadi, tanpa sepengetahuanku dia ternyata cukup pandai mengambil foto.
"Bagus juga foto yang kamu ambil tadi, tapi kayaknya ada aku di sekitar lukisannya jadi bikin jelek. Kamu potong aja fotonya, terus hapus."
Dia sepertinya masih sibuk dengan hpnya, dia mendengar tapi tidak mengatakan ya ataupun tidak.
"Aku tahu pasti itu repot, jadi aku aja yang melakukannya."
Tapi kamera yang aku pegang tiba-tiba di rebut oleh Arya, dia mengecek apakah ada foto yang aku ubah. Dia memandangku dengan tatapan kesal, aku juga kesal padanya tahu.
"Ayo, aku mau pergi ke suatu tempat."
Kamipun meninggalkan kafe lalu pergi ke tempat yang aku tuju, tempat yang aku tuju adalah Yellow Bridge. Tempat yang cukup hits di Bali, tentu saja aku harus pergi ke tempat-tempat seperti itu. Apalagi Arya sedang membawa kameranya, tentu saja tidak boleh terlewatkan.
__ADS_1
Bersambung..