
Kami biasanya berkumpul di ruang tengah, mengambil makanan, minuman, lalu bermain sesuatu. Jika kami tidak bermain, mungkin hanya menonton film atau bisa aja sibuk dengan hp mereka sendiri-sendiri. Asalkan mereka tidak melakukan sesuatu yang bodoh, aku tidak akan mengusir mereka.
"Eh, nanti malem mau ke pasar malem deket sini nggak?" Aku bertanya kepada mereka.
"Boeh tuh, dah lama juga nggak ke pasar malem." Kata Latte.
Sebelum malam tiba, kami hanya menonton film. Mereka menghabiskan snack-snack milikku, aku harus membelinya lagi nanti. Karena kak Farel membawa baju ganti, dia bisa mengganti seragamnya. Tetapi Arya tidak membawa baju ganti, jadi aku hanya bisa meminjamkan baju yang paling besar untuk dia pakai.
"Oh untung aja cukup. Jangan lupa dikembaliin, itu baju favorit aku!" Aku melihat Arya sudah mengganti bajunya.
Karena kami sudah terlalu bosan, kami pergi keluar untuk bermain di wahana bermain yang berada di dalam mall. Aku belum pernah cobain yang indoor, tapi sepertinya sama aja. Suasananya memang sedikit berbeda, tetapi masih sama-sama seru.
Setelah selesai bermain, kami pergi makan. Kami pesen apa aja, dan bakal di traktir sama kak Farel. Setahun sekali kita bisa di traktir sama dia, waktu kalau lagi ulang tahun doang. Tapi kitakan teman yang baik, kita pesen secukupnya aja. Lagian kita juga lagi nggak pingin makan terlalu banyak, jadi kita hemat dulu aja uangnya kak Farel.
Sebelum pulang kami mampir ke toko baju, membeli baju yang sama untuk kita pakai nanti malam. Kami membeli sweater yang sama, tetapi dengan warna yang berbeda. Sebenarnya kak Farel mau bayarin baju yang kita beli, tetapi aku nolak dan yang lainnya juga. Kak Farel bisa bayarin nanti di pasar malem.
Sepulang dari mall, mereka langsung merebahkan diri mereka ke sofa. Aku pergi ke kamar untuk mandi, lalu bersiap-siap. Mereka bergantian untuk mandi, karena kamar mandi di rumah hanya ada tiga. Sembari menunggu mereka, aku duduk di sofa sambil memejamkan mata.
"Ella, ayo berangkat!" Latte yang menggoyang-goyangkan pundakku karena agar aku terbangun.
Tanpa menjawabnya aku langsung berdiri dan masuk mobil, masih belum bangun sepenuhnya. Jarak dari rumahku ke pasar malam cukup dekat, tapi kami tetap akan naik mobil. Aku juga sedang berusaha untuk mengumpulkan tenaga terlebih dahulu, Di pasar malam juga tidak mungkin aku mengantuk karena di sana pasti ramai.
"Yay!! Pasar malem!!" Teriak Latte dengan semangat.
Latte langsung lari meninggalkan kami, kak Farel yang melihat langsung mengejarnya. Aku dan Arya masuk ke dalam pasar malam, di sini benar-benar sangat ramai. Suara musik yang kencang, membuat teriakan dari orang-orang yang naik wahana hampir tidak terdengar.
Kami mencari Latte dan kak Farel, lalu mencoba beberapa wahana. Kami sangat bersenang-senang, Arya bahkan banyak tertawa.
"Aku beli minum bentar ya!" Kami sedang menunggu antrian, lalu aku pergi sendiri untuk membeli minuman.
__ADS_1
DUKK
"Eh maaf!" Karena ramai aku jadi menyenggol orang, untung minumanku tidak jatuh.
"Ella.."
"Huh?" Orang yang aku senggol, dia memerhatikanku. Dia juga tau namaku, aku sepertinya mengenalnya.
Aku langsung pergi karena aku merasa ngeri, aku sedikit kepikiran dengan orang itu. Dia bisa tau namaku, aku belum kepikiran siapa dia jadi aku tidak tau.
"Kamu kenapa?" Tanya Arya.
"Ah nggak papa kok!"
Aku berusaha mengingat orang tadi, dan yang terlintas adalah orang yang waktu itu aku nggak sengaja tabrak di sekolah. Ternyata dia anak baru itu, kenapa aku malah main lari gitu aja. Tapi ada sesuatu yang bikin aku penasaran lagi, kalung yang dia pake. Itukan kalung yang aku bikin, dan yang punya itu cuma aku sama Reza.
"Haha, Nggak mungkinkan itu Reza.." Aku sedang mencoba untuk tenang, kalau emang itu Reza ya sudah. Dunia yang luas ini, tiba-tiba menjadi terasa sempit.
"Latte bangun!"
Aku membangunkan Latte, kami sarapan lalu pergi ke sekolah. Dan benar aja, anak baru di kelasku adalah Reza. Latte sangat terkejut sampai nggak tau apa yang harus dia katakan, kalau aku kaget rasanya nggak seru karena aku udah tau itu. Reza yang memperkenalkan diri sambil melihat ke arahku, tetapi aku melihat ke arah jendela.
Saat jam istirahat, Reza langsung di kerubungi oleh teman-temanku. Mereka menanyakan apa yang ingin mereka tanyakan, aku, Latte, dan Arya langsung pergi ke kantin.
"Sumpah ya ampun! Aku nggak ngira kalau anak baru di kelas kita ternyata Reza!" Sahut Latte.
"Aku sebenernya udah beberapa kali ketemu dia." Jawabku dengan pelan.
"Ha? Serius?"
__ADS_1
Aku menceritakan kejadian saat jam istirahat olahraga, dan saat di pasar malam. Latte mendengarkannya dengan sangat serius, sedangkan Arya hanya bermain dengan hpnya.
"Kamu nggak papakan?" Latte yang khawatir
denganku.
"Nggak papa kok."
Nggak papa, anggap aja teman lama yang baru ketemu lagi. Janji kita waktu kecilkan cuma janji yang dibuat anak kecil, itu udah nggak berarti lagikan. Kalau Reza baik-baik aja, aku juga begitu. Aku seneng kok kalau ternyata dia baik-baik aja, tumbuh menjadi anak yang lebih tinggi dari aku dan lebih ganteng. Dia juga pasti seneng karena ternyata aku baik-baik aja, aku juga bukan Ella yang masih SD lagi. Aku bisa berpikir yang lebih positif lagi, intinya aku seneng karena bisa ketemu Reza lagi.
"Aku ke ruang klub bentar ya!" Aku pergi ke ruang klub, untuk mengambil beberapa gambar yang aku simpan di sana.
"Hai!"
Reza yang tiba-tiba masuk, dan menyapaku dengan senyum lebar di wajahnya. Aku membalas sapaannya, lalu pergi keluar. Tetapi jalannya di halangi olehnya, aku menanyakan apa yang ingin dia lakukan.
"Aku, kangen."
Aku rasa aku tidak akan menjawab kata-katanya itu, dia seharusnya tau tanpa aku menjawabnya.
"Aku pergi dulu." Aku langsung pergi keluar, saat melihat celah.
Dia membuatku tak habis pikir, dia berani mengucapkan itu tetapi aku tidak. Ayolah, aku bukan Ella yang dulu. Reza adalah teman kecilku, aku seharusnya senang sambil memeluknya. Kenapa aku tidak melakukan itu, dia pasti kecewa padaku.
"Mau pulang bareng?" Ajak Arya.
"Ayo!" Aku pergi pulang dengan Arya, tetapi Reza tiba-tiba memanggilku.
"Ella, mau pulang bareng?" Tanya Reza.
__ADS_1
"Aku mau pulang sama Arya, duluan ya." Akupun langsung masuk ke mobil Arya, dan begitu juga dengan Arya. Aku melihat dari kaca, wajah sedih Reza terlihat.
Bersambung..