
Aku terbangun dengan lesu, tidak bersemangat. Aku juga tidak melihat Ayah di rumah, ke mana sebenarnya Ayah. Aku mengkhawatirkan Ibu, aku harap dia baik-baik saja. Sekarang aku berangkat sendiri dan juga aku di rumah sendiri, karena bibi harus menjaga Ibu di rumah sakit jadi akan repot jika dia harus bolak-balik ke sini. Bibi hanya datang saat pagi untuk menyiapkan sarapan, bahkan aku pun belum terbangun. Aku merasa senang memiliki bibi.
Aku juga jadi sering melamun saat di kelas, sampai guru beberapa kali menegur ku. Aku seperti tidak ingin berangkat ke sekolah.
"Ella kamu nggak papa? kamu kelihatan pucat, mau ibu antar ke uks?"
"Biar saya sendiri aja yang ke sana bu."
Apakah aku sedang sakit? kepala ku rasanya pusing, mungkin aku bisa istirahat sebentar di uks. "Ella bangun, kamu nggak papa?" Bahkan belum sampai di uks pun aku sudah tidak sadarkan diri.
"Uhh.." Kepala ku rasanya sakit, tetapi sudah tidak terlalu pusing. Aku mencoba membuka mataku, ku lihat seseorang sedang duduk di sebelahku sambil tertidur tetapi sepertinya aku tidak mengenalnya.
Sepertinya dia yang membawaku ke uks saat aku pingsan, "Emm.. gimana cara bangunin dia?"
"Hoam.. eh Ella kamu udah bangun ya, gimana udah baik-baik aja?" Dia bertanya seolah kami sudah menjadi teman dekat, tetapi sepertinya dia orang yang baik.
"Aku masih sedikit pusing, tapi kamu siapa ya?"
"Ah kenalin namaku Farel Bimawari, panggil aja Farel. Aku dari kelas 6B, salam kenal!" Dia memperkenalkan dirinya, dan dia sudah tau siapa aku tanpa perlu aku memperkenalkan diri.
"Kakak yang bawa aku ke sini?"
"Nggak kok, aku cuma liat kamu tiba-tiba pingsan terus aku panggilin guru deh!"
__ADS_1
Aku mengucapkan terima kasih kepada kak Farel, dia menemaniku di uks sampai aku sudah merasa baik-baik saja. Aku senang dia mau meluangkan waktunya untuk menemaniku, dia benar-benar orang yang baik. Dan baru aku sadar, kak Farel juga berada di peringkat 3 besar di sekolah. Berarti dia orang yang sangat pintar, akhirnya aku punya teman lain yang pintar sama sepertiku. Mungkin jika kami bisa belajar bersama pasti akan terasa mudah, dan pasti akan berkebalikan dengan aku dan Reza.
"Reza di mana ya?"
Aku menunggu Reza di depan sekolah tetapi dia tidak kunjung muncul, aku tidak melihatnya seharian karena aku berada di uks cukup lama. "Di mana sih Reza!" Aku berfikir apakah dia sudah pulang lebih dulu, tetapi kenapa dia tidak menungguku.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri, aku tidak tau di mana Reza berada tetapi ini terasa sangat aneh. Aku merasa sangat kesepian, aku pikir kami bisa mengobrol dan bersenda gurau saat pulang.
Sepertinya aku tidak akan pulang terlebih dahulu, aku akan pergi ke rumah sakit menjenguk Ibu. Sesampai di sana aku menjaga Ibu, karena Bibi harus pulang ke rumahnya sebentar. Aku kurang tau apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu, apakah dia sedang terluka parah? Aku rasa Ibu memang terluka parah, bahkan dia sampai koma seperti ini.
"Ibu.. bangun.. Ella di sini bu.." Aku menggenggam tangan Ibu, rasanya hangat. Sudah lama aku tidak menggenggam tangan Ibu, aku harap Ibu segera sadar.
Aku tidak bisa terlalu lama di rumah sakit karena aku harus pulang sebelum malam tiba, Bibi bilang dia mengganti sandi rumah karena dia takut bila Ayah pulang lalu melakukan sesuatu yang buruk kepadaku. Tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja jika aku tidak terlalu memikirkan dan membayangkan yang tidak-tidak.
Setelah sepuluh menit aku terjaga akhirnya aku tertidur dan baru kali ini aku tertidur tanpa kemauan ku sendiri, karena aku merasa aku harus terjaga untuk mengawasi dia jika dia tiba-tiba masuk ke sini.
Aku kesiangan dan badanku rasanya sakit semua, aku rasa mungkin harus menaruh tempat tidur di sini atau mengambil beberapa selimut untuk bisa ku gunakan menjadi matrasnya.
Aku menelfon Bibi untuk mencoba mengijinkanku agar libur karena badanku sedang sakit, Bibi juga akan pulang nanti siang untuk mengecek kondisi badanku.
"Ella.."
Aku rasa ada seseorang yang memanggil ku dari luar, rasanya susah sekali bangun tetapi aku juga harus keluar. Dan ternyata yang memanggil adalah Reza, Aku merasa senang dia ke rumah ku karena beberapa hari kami tidak bertemu.
__ADS_1
"Reza! aku seneng banget kamu ke rumahku, ternyata kamu libur juga ya? ayo cepetan masuk!" Aku seketika merasa senang dan tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama.
"Maaf, di sini aja."
"Huh? kenapa?"
Aku merasa sedih karena Reza menjawab dengan menundukkan kepalanya, itu artinya dia sedang sedih. "Kamu bisa cerita di dalem, aku juga punya cerita yang mau aku ceritain loh." Aku mencoba menarik tangannya tapi aku tidak kuat karena tubuhnya lebih besar dari pada aku.
"Aku nggak punya banyak waktu."
"Ah.. yaudah deh di sini aja nggak papa."
Karena memang dia tidak mau akhirnya aku tidak memaksanya lagi, lalu dia mulai bercerita.
"Maaf karena beberapa hari ini aku nggak bisa ketemu sama kamu, aku rasanya masih belum siap jadi aku perlu menyiapkan diri. Dan memang hari ini waktunya aku harus bilang kalau aku mau pindah rumah dan pindah sekolah di hari ini."
Aku terdiam, hanya terdiam setelah mendengarnya. Aku harap dia hanya bercanda, aku tidak mau sendirian.
"Aku pergi dulu." Dia memelukku lalu pergi, tetapi aku menghalanginya.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin-kemarin? Aku juga perlu menyiapkan diri, setidaknya kamu bisa nemenin aku di saat aku sendirian! Kenapa kamu mau ninggalin aku! Kenapa kamu harus pindah! Kenapa bikin aku tambah kesepian.. kenapa.. tolong jangan pergi.."
Aku menangis di depannya, aku mengatakan yang ingin ku katakan. Tetapi dia hanya terdiam dan memberikan sebuah kotak, lalu pergi tanpa menjawab pertanyaanku.
__ADS_1
Bersambung..