
Aku terbangun di sebuah rumah sakit, aku melihat ada Latte yang sedang tertidur di sofa. Aku kebingungan, apa yang terjadi terakhir kali sepertinya perlu aku ingat-ingat lagi. Aku mengingatnya sambil memejamkan mataku, mungkin ada sesuatu yang bisa ku ingat saat sebelum aku pingsan.
Saat aku sedang mengingatnya, ada seseorang yang masuk. Dia meletakkan barang lalu duduk di dekat kasurku, dia mulai mengatakan sesuatu yang tidak ku mengerti.
"Ini buruk.. aku bahkan tidak bisa menjagamu, kenapa harus kamu?" katanya sambil memegang tanganku.
Aku tidak tahu apakah aku harus membuka mataku sekarang, aku perlu tahu siapa yang mengatakan itu kepadaku. Mataku kubuka perlahan, saat aku melihatnya cukup membuatku sedikit terkejut. Aku membuka mataku, lalu dia menutup matanya seakan dia tahu aku akan membuka mataku dan dia tidak ingin melihatnya. Orang itu adalah Arya, aku mempunyai cukup banyak pertanyaan yang berada dikepalaku apakah orang ini akan menjawabnya.
"Arya.."
"Huh? Oh, kamu udah sadar?" Aku membuat Arya cukup terkejut, sehingga dia segera melepaskan genggamannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Arya menceritakan apa yang terjadi terakhir kali disaat aku pingsan, katanya ada seseorang yang menyelamatkanku lalu segera membawaku pergi ke rumah sakit. Padahal api saat itu sudah cukup besar, dan ada banyak asap yang mengganggu. Tetapi orang itu tetap masuk untuk menyelamatkanku?
"Siapa orang itu?"
"Aku nggak tahu, aku rasa dia bukan anak dari sekolah kita."
Aku harus mengucapkan terima kasih pada orang itu, tetapi aku bahkan tidak tahu siapa orangnya. Apakah ucapan terima kasih ku cukup? Aku rasa tidak, apa yang harus ku lakukan saat tidak sengaja aku bertemu dengan orangnya?
__ADS_1
Waktu berlalu, aku istirahat di rumah sakit selama 3 hari. Dan sekolah di liburkan selama satu minggu lalu aku punya 4 hari untuk berada di rumah, aku mungkin akan menghabiskan waktu bersama Latte dan kak Farel.
"Aku mau makan yang lain, aku nggak suka makanan rumah sakit!" Kata ku sambil menolak makanannya.
"Ayo lah Ella, ya ampun jangan kayak anak kecil dong.." Latte yang terus berusaha menyodorkan makanannya.
"Beliin aku martabak dulu nanti aku makan deh ini makanannya, ya.. ya.. Latte pliss.." Aku yang memohon kepada Latte dengan tatapan yang berbinarpun tidak mempan padanya.
Akupun terus menerus menolak untuk makan jika dia tidak membelikan aku martabak, lalu Latte pun menyerah dan dia pergi keluar untuk membelinya. Di saat aku menunggu Latte, Arya datang menjengukku. Dia melihat aku belum makan padahal makanannya berada di depanku, entah ada angin apa dia mengambil makanannya lalu menyuapiku. Dan aku yang secara tidak sadar membuka mulutku, itu membuatku sedikit malu.
"Aku bisa makan sendiri." Aku mencoba mengambil makanan dari tangan Arya, tapi dia menepisnya sambil menyodorkan lagi makanannya.
"Ella ini martabaknya!"
"Makasih Latte.."
"Oh ada Arya, aku titip Ella ya soalnya aku ada urusan nih oke bye!"
"Latte!!"
Aku merasa kesal pada Latte, dia pasti melakukannya dengan sengaja. Sekarang kami jadi canggung, aku tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
"Em.. Kalau kamu mau pulang ya pulang aja aku nggak papa kok sendirian."
Arya tidak menjawabnya dia hanya sibuk memainkan ponselnya, tidak ada topik yang bisa kami bahas jadi kami diam satu sama lain. Aku membaca novel online melalui ponsel ku, lama-lama aku merasa mengantuk lalu akupun tertidur.
Aku terbangun dari tidurku lalu menyadari hari sudah semakin malam, aku melihat Arya yang sedang tertidur di sofa sambil memegang ponselnya. Sudah seharusnya dia pulang, aku membangunkan Arya dengan memanggil pelan dari kasurku karena aku belum kuat berdiri sendiri, lalu menyuruhnya untuk segera pulang tetapi dia menolak. Katanya jika dia pulang tidak ada lagi yang menjagaku, padahal aku juga tidak masalah jika tidak ada yang menjagaku.
"Pulanglah.."
Dia seperti anak kecil yang susah diatur saja, aku memberikan tatapan marah kepadanya karena dia membuatku kesal.
"Kamu mau tidur di mana kalau nggak mau pulang?"
"Sofa."
Aku hanya menggelengkan kepalaku, dia membuatku pusing. Akupun mengancam dia akan memanggilkan satpam untuk mengusirnya, tetapi dia tetap tidak ingin pergi seolah dia tahu aku tidak bisa memanggil satpam karena aku belum cukup pulih.
"Terserah kamu, jangan salahin aku kalau besok punggung kamu sakit semua!"
Akupun membiarkan dia lalu segera tidur, mungkin punggungnya akan kesakitan besok tapi terserah dia saja.
Bersambung..
__ADS_1