Janganlah Pergi

Janganlah Pergi
Ep 2: Sebuah Janji


__ADS_3

Hari minggu, sepertinya aku hari ini tidak akan pergi kemanapun dan hanya di rumah. Aku ingin pergi liburan bersama Ayah dan Ibu, tetapi mereka pasti akan menolak karena mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka.


"La buruan siap-siap ya!" Kata Ibu sambil berteriak.


"Loh, mau ke mana bu?" Aku yang pergi menghampiri Ibu.


"Kita mau pergi, buruan ganti baju!"


"iya bu."


Wah aku pikir hari ini aku tidak akan pergi bersama Ayah dan Ibu, mau pergi ke mana kita hari ini? aku akan menghabiskan waktu bersama mereka. Ah.. betapa senangnya aku, aku sudah lama tidak pergi jalan-jalan bersama Ayah dan Ibu, aku harus segera bersiap-siap agar kita segera berangkat.


"Silahkan masuk." Kata seorang pelayan sambil membukakan pintu agar kami bisa masuk.


"Ah.. sudah datang akhirnya, silahkan duduk!" Kata ayah Reza


Aku yang bingung dengan situasi saat ini, bingung kenapa ada orang tua Reza dan kenapa ada Reza. Kenapa kami harus di sini, apakah makan bersama tidak bisa di lakukan di rumah saja? Aku tidak mengerti urusan mereka, yang pasti bukan pergi seperti ini yang kuharapkan.


"Ssttt.. el!" Reza memanggil ku dengan pelan.


Aku tidak meresponnya, aku hanya diam. Aku kesal dengan ini, Kenapa Ayah dan Ibu mengajak ku ke sini bukannya pergi jalan-jalan. Aku ingin liburan dengan mereka apakah mereka tidak mengerti, mereka yang selalu disibukkan dengan kerjaan dan ponsel mereka. Bahkan aku belum memiliki ponsel, apakah ponsel lebih menyenangkan di banding dengan ku?


"El kamu baik-baik aja?" Tanya reza kepadaku, pasti sekarang wajahku sudah kelihatan pucat.

__ADS_1


Aku menggeleng-geleng kan kepala ku, dan dia kelihatan khawatir. Reza pun berkata kepada Ayahnya untuk segera pulang karena dia sedang tidak enak badan, makan-makan tidak jelas ini pun akhirnya selesai dan kami pulang ke rumah. Sepertinya Reza tadi membantuku, aku rasa dia juga tidak suka situasi seperti itu. Aku melihat Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghelakan nafasnya benar-benar membuatku merasa tidak enak, sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi.


Telfon rumah yang berada di kamarku berbunyi, ternyata itu telfon dari Reza. Karena besok hari libur di karenakan tanggal merah, dia berencana mengajak ku pergi jalan-jalan keluar. Aku senang mendengarnya, tentu saja aku mau akan ajakannya.


Reza akan menjemputku di rumah besok dan katanya dia akan membawa banyak jajan, wahhh pasti besok akan sangat menyenangkan.


Pukul 08.30


"Bu aku berangkat dulu ya." Sambil berjalan keluar dari kamar ku. Tetapi tidak ada balasan dari Ibu, "Ibu nggak di rumah ya? kok nggak bilang-bilang sih." Gerutu ku.


Aku pun berpamitan kepada bibi lalu pergi ke luar, sudah ada Reza yang menunggu.


"Mau ke mana nih?"


Kami pun pergi, Reza mengajak ku ke sebuah taman bermain.


"Woahh!"


Aku terkagum-kagum melihatnya, tempatnya besar dan banyak orang. Bahkan kami masuk tanpa membeli tiket atau semacamnya, jadi kami tidak perlu mengantri. Banyak permainan yang bisa kami mainkan, walaupun kebanyakan permainan memang untuk orang dewasa. Tapi tidak masalah, aku tetap senang.


"Mau naik yang itu?"


"Yuk!"

__ADS_1


Aku benar-benar senang sekali, aku harap bisa ke sini bersama Ayah dan Ibu.


"Kalau kita udah besar kita ke sini lagi yuk! biar bisa cobain wahana buat orang dewasa."


"Janji?" Menunjukkan kelingking.


"Janji juga kita bakal jadi sahabat selamanya dan selalu bersama selama-lamanya.." Kata Reza sambil mengaitkan kelingkingnya.


Aku pulang dengan perasaan senang, benar-benar senang. Aku merasa tidak sabar untuk tumbuh menjadi dewasa, mungkin kami bisa mengajak teman kami yang lain.


Saat aku sudah berada di depan pintu rumah, aku mendengar suatu keributan. Aku tidak yakin, tetapi sepertinya itu suara Ayah dan Ibu bertengkar. Aku tidak berani masuk, jadi aku menunggu di luar sebentar sampai suara mereka sudah tidak terdengar lagi.


"Ayah dan Ibu, kenapa?"


Mereka bertengkar cukup lama, dan Ayah tiba-tiba pergi ke luar. Untung saja Ayah tidak melihatku, aku benar-benar takut rasanya. Aku sudah bisa masuk sekarang, "Bu!" Aku berteriak karena melihat Ibu yang tergeletak di lantai, aku memanggil bibi tetapi sepertinya sedang tidak ada di rumah. Aku sangat panik, Darah di kepala Ibu terus keluar.


"Ibu tunggu sebentar ya!"


Aku menelpon rumah sakit untuk segera menjemput Ibu, aku tidak tau apa yang terjadi pada Ayah dan Ibu sampai Ibu seperti ini. Aku menunggu sendirian di rumah sakit, aku takut Ibu kenapa-kenapa. "Ella!" Bibi datang menghampiriku dan dia kelihatan cemas.


"Bi ibu baik-baik aja kan bi.." Aku menangis di pelukan Bibi, dia mencoba menangkan ku dengan sentuhan hangatnya aku juga merasa baikan.


Sekitar satu setengah jam menunggu, bahkan aku sudah sangat mengantuk dokter pun akhirnya keluar. Dokter menjelaskan sesuatu ke Bibi tetapi aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, Bibi bahkan kelihatan sedih. Apa yang mereka bicarakan, aku juga ingin tau.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2