Jatuh Tertimpa Cinta

Jatuh Tertimpa Cinta
Tangga Cinta


__ADS_3

Queen merapikan kemeja putihnya. Lalu, ia menyambar tas selempang di balik pintu kamarnya. Untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari kamar, ia memandangi wajahnya di cermin.


'Semua sudah rapi,' pikirnya. "Aku siap berangkaaatt," ucapnya begitu bersemangat.


"Putra, kakak berangkat dulu," ucap Queen sambil mengambil kotak bekal makanannya di atas meja makan.


"Loh, tidak sarapan dulu, Kak?" tanya Putra dengan pipi menggembung penuh makanan. Matanya menggiring langkah Queen yang sudah berada di ambang pintu rumah.


"Nanti di sekolah saja, supaya tidak terlambat," jawab Queen sambil memasang kedua sepatu ketsnya. Lalu, ia bergegas berangkat.


Queen pergi ke sekolah dengan menaiki bus. Ia berjejalan di dalamnya dan terpaksa berdiri bergelantungan sejak pertama naik hingga turun dari bis. Maklum saja, itu karena saat ini jam padat orang pergi ke kantor dan berangkat sekolah. Semua angkutan umum penuh sesak.


Queen akhirnya bisa menghirup udara dengan lega setelah turun dari bus. "Hahhh...." Ia lega sudah sampai di depan sekolah. Matanya memandangi bangunan sekolah megah di hadapannya. Di depan pagarnya terpampang huruf-huruf besar bertuliskan 'SMA CIPTA PRATAMA'.


Queen bergegas menyeberangi jalan untuk sampai di depan gerbangnya. Puluhan mobil mewah lalu lalang keluar masuk gerbang hanya untuk mengantarkan siswa yang datang ke sekolah ini. Sekolah ini adalah salah satu sekolah terelit di kota tempat tinggal Queen. Sepertinya hanya Queen yang datang dengan menaiki bus.


Sampai di dalam sekolah Queen bergegas masuk ke sebuah ruangan. Ia meletakkan tasnya di dalam loker dan mengambil sebuah name tag bertuliskan namanya 'Queensha Gizela'.


Queen memasang name tag itu di kemejanya. Lalu, ia merapikan celana hitamnya. Kemudian, ia mengambil sapu dan serok sampah. Ia bergegas menuju ke ruang kelas dan menyapunya. Kemudian, ia ke ruang kelas berikutnya dan juga menyapunya.


Ia bukan sedang piket. Tapi, ia harus membersihkan beberapa ruang kelas di sekolah itu sebelum semua siswa masuk ke kelas. Karena, ia adalah office girl di sekolah itu. Ini hari keduanya bekerja dan dia masih dalam masa training.


Setelah tugas menyapu selesai, tugas berikutnya adalah membersihkan kaca. Kini sebagian besar siswa sudah masuk ke ruang kelas. Pelajaran sebentar lagi dimulai. Queen sibuk mengangkat tangga lipat yang akan digunakannya untuk membersihkan kaca yang tinggi. Queen sangat kesusahan. Tangga itu cukup berat bagi Queen, dia belum terbiasa.


Sementara itu, sebuah mobil sedan mewah masuk ke halaman sekolah dan menuju parkiran kosong yang telah disediakan khusus. Parkiran itu letaknya paling dekat dengan gedung sekolah. Sebuah kaki dengan sepatu merk terkenal muncul ketika pintu mobil itu terbuka.

__ADS_1


Tak lama seorang siswa turun dari mobil itu. Dengan jas seragam sekolahnya dia tampak sangat necis dan memukau. Dia adalah Raja Ammar Pratama, pewaris Grup Pratama yang memiliki sekolah ini. Ammar sudah bersekolah di sekolah ini sejak beberapa bulan lalu. Sebelumnya ia bersekolah di luar negeri. Namun, kini ia tinggal menetap di kota ini dan bersekolah di sini.


Ia berjalan meninggalkan mobilnya dan berpapasan dengan satpam sekolah yang segera tersenyum dan membungkukkan badannya. Ammar menganggukkan kepalanya dan meneruskan langkahnya dengan penuh wibawa.


Sementara itu, Queen sedang sibuk mengelap kaca bagian luar ruangan yang nyaris tak memiliki dinding pada bagian depannya. Semuanya kaca bening, menjulang hingga ke bagian atap plafon. Hal ini membuat Queen harus menggunakan tangga untuk bisa membersihkannya.


Dia berada di anak tangga teratas untuk bisa menjangkau bagian kaca tertinggi. Sungguh pekerjaan yang cukup sulit bagi Queen, namun ia harus tetap berjuang melakukannya. Queen sudah berkeringat sejak tadi. Wajahnya pun sudah lecek, penuh debu.


Di saat yang bersamaan Ammar melangkah menuju ruangan kaca itu. Mata para siswi bergantian memandangi Ammar. Ia berjalan dengan begitu mempesona, membuat banyak siswi salah tingkah, tak terkecuali Venita. Ia tadinya berjalan maju ke depan. Namun, ketika melihat Ammar berjalan ke arahnya ia malah segera berbalik ke belakang dan tubuh super gempalnya seketika itu juga menabrak tangga yang sedang Queen naiki.


"Krentang! Krentong! Krentang! Krenteng!" Tangga seketika itu juga bergoyang dan, "Aaaaaaaakhhh...!" Queen terjatuh dari tangga.


"Blekk!" Queen jatuh menimpa seseorang.


Sementar itu, "Sial!" Terdengar suara gerutu dari orang yang ditimpa Queen. Queen melihatnya, ia adalah siswa laki-laki, tidak lain adalah Ammar. Dahinya sedikit terluka, entah terkena apa. 'Apa mungkin alat pembersih kaca jatuh menghantam dahinya?' pikir Queen.


Satu betisnya juga tertimpa tangga. Ia segera berusaha menyingkirkan tangga dari atas kakinya. Queen bergegas membantu menyingkirkan tangga itu sambil berkata, "Maaf...."


Ammar berusaha berdiri, namun kakinya terasa begitu sakit. Queen membantunya berdiri, Ammar tampak sedikit pincang. Sementara itu, siswa lain menonton mereka. Wajah Ammar tampak memerah. Ia malu dengan kejadian buruk yang menimpanya ini.


"Maafkan aku, Dek," ucap Queen lagi.


"Kamu bekerja tidak becus," ucap Ammar. "Siapa yang menerima kamu kerja di sini?"


"Hahh?" Queen tercengang mendengar perkataan Ammar. 'Benar-benar tidak sopan,' pikirnya. 'Siswa ini tidak punya tata krama pada orang yang lebih tua.'

__ADS_1


"Brett!" Ammar menarik name tag yang terkalung di leher Queen hingga putus.


"Beraninya kamu," ucap Queen dengan cukup emosi. Ia berusaha mengambil name tagnya kembali. Namun, Ammar segera menahan tangan Queen yang ingin merebut name tagnya. Tanpa sadar Ammar memegang pergelangan tangan Queen dengan erat.


Queen tersentak kaget ketika tangannya dipegang Ammar, ia tak biasa disentuh oleh laki-laki. "Lepaskan!" ucap Queen. "Jangan sentuh aku!"


Ammar pun tersadar dan segera melepaskan genggaman tangannya. "Name tag kamu aku sita," ucap Ammar kemudian.


"Kamu tidak berhak merampas barang punyaku," ucap Queen.


"Duuhhhh... kalian sibuk rebutan name tag. Lihat kepalaku... benjoooll!" ucap Venita menunjuk jidatnya yang ternyata sudah biru membengkak.


"Kok bisa?" gumam Queen.


"Aku yang menabrak tangga tadi," jawab Venita.


Akhirnya Queen pun mengantar Venita ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Ia diberikan obat oleh petugas yang berjaga di sana. Tak lama kemudian Ammar pun juga datang ke ruangan itu. Ia tak menegur Queen sedikit pun.


Dengan kaki pincang ia berjalan ke sebuah kursi. Queen sebenarnya merasa sedikit bersalah ketika melihat Ammar seperti itu. 'Jika tidak menimpa siswa itu, mungkin badanku sudah terluka membentur lantai. Kemungkinan terburuk mungkin saja tulangku ada yang patah,' pikir Queen.


Petugas lalu membersihkan luka di dahi Ammar dan mengoleskan obat. Tanpa sadar Queen sejak tadi memperhatikan Ammar. Lalu, setelah petugas selesai mengoleskan obat, Ammar tiba-tiba berkata, "Sejak tadi melihatku tanpa berkedip sedikitpun."


Ia tersenyum sinis dan berkata lagi, "Aku memang tampan. Tak perlu kau ragukan lagi."


'Cuihh!' Queen meludah dalam hatinya. "Kamu sepertinya kelebihan dosis percaya diri," ucap Queen dan Ammar semakin tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2