Jatuh Tertimpa Cinta

Jatuh Tertimpa Cinta
Pangeran Berkursi Roda


__ADS_3

"Kak, tidak biasanya belum mandi," ucap Putra saat di meja makan berhadapan dengan sarapannya.


Queen melirik Putra yang sudah rapi dalam balutan seragam SMA. Namun, Queen tidak berkomentar apapun. Ia terus menyantap nasi gorengnya.


"Sudah jam berapa ini? Masih betah saja dengan daster kucel," ucap Putra lagi.


"Kakak tidak kerja hari ini," ucap Queen singkat.


"Hahh? Baru dua hari kerja, sudah tidak kerja lagi. Kakak tidak lulus masa percobaan kerja ya?" Ekspresi Putra begitu terkejut.


Queen tidak menanggapi ucapan adiknya. Ia terus menyantap makanannya. Sementara itu, wajah Putra drastis menjadi kusut seperti pakaian yang tidak digosok. Ia meletakkan sendok yang ada di tangannya. Ia tak jadi menyantap sarapannya.


"Kamu kenapa?" tanya Queen.


"Tadinya aku sudah senang Kakak dapat pekerjaan yang bagus," ucap Putra.


Sedangkan, Queen segera berpikir, 'Hah, pekerjaan bagus!?'


'Aku hanya jadi office girl. Tidak bagus-bagus amat,' pikir Queen.


"Kakak bilang gajinya lumayan, bisa dikumpulkan untuk persiapanku kuliah tahun ini," lanjut Putra.


"Aku sudah semangat sekali Kak belajar. Aku mau kuliah. Tapi, sepertinya bakal tidak jadi," ucap Putra dengan bibirnya yang makin manyun. "Jika tidak kuliah, nasibku bakal jadi office boy juga seperti Kakak. Atau, jadi sales keliling. Aku tidak mau, Kak. Aku tidak mau jadi orang biasa-biasa, aku mau sukses."


Queen menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tamatan SMA juga bisa sukses, Putra. Bisa buka usaha, jadi bos."


"Iya, itu kalo punya banyak modal," cibir Putra. "Nah, kita cuma modal dengkuuull...."


"Hefhhhh...." Queen menarik nafasnya dalam. Kemudian, ia berusaha membesarkan hati adiknya dengan berkata, "Kamu tetap akan kuliah tahun ini, Putra. Kamu harus belajar yang rajin dan dapat nilai terbaik. Kakak akan terus berusaha."


Lalu, tiba-tiba bunyi ponsel berdering dari dalam kamar Queen. Queen bergegas menjawab panggilan.


"Queen kamu bawa kunci ruang peralatan olahraga ya?" tanya Tini dari seberang saluran telepon.

__ADS_1


"Kunci," gumam Queen sambil berjalan menuju celana hitamnya yang tergantung di balik pintu kamar.


Ia memasukkan tangannya ke saku celana yang dipakainya kemarin itu. "Astaga!" jerit Queen. "Kuncinya terbawa olehku," ucap Queen.


Karena emosi dan terburu-buru ingin pulang kemarin, Queen menjadi lupa untuk menggantungkan kunci itu ke tempat semula. Ia tak sadar jika kuncinya terbawa olehnya.


"Kamu dimana? Cepatlah ke sekolah! Pak Wawan butuh kuncinya sekarang juga. Dia ingin mengambil peralatan untuk persiapan lomba bola kaki hari ini. Pagi ini dia harus segera berangkat."


"Tapi, tapi...." ucap Queen. "Aku kan dipecat."


"Dipecat!?" ucap Tini heran. "Kata siapa?"


'Oh, ya... aku memang belum dipecat,' pikir Queen. 'Aku baru akan dipecat.'


"Cepatlah! Pak Wawan sudah tidak sabar," desak Tini.


"Duuhh, aku sudah tidak kerja lagi di sana," ucap Queen. "Aku berhenti."


"Cepatlah, Queen! Ke sini sekarang antarkan kuncinya!" Tini terus mendesak. "Terserah kamu masih mau kerja atau berhenti. Yang penting kamu ke sini dulu antar kuncinya!"


Queen mandi super kilat, sekenanya saja. Ia hanya cuci muka, gosok gigi, dan menyiram badannya beberapa kali. 'Aku sudah terlambat,' pikir Queen. 'Biasanya jam segini aku sudah di sekolah.'


Ia tak peduli lagi dengan penampilannya yang sedikit awut-awutan alias kurang rapi bin berantakan. Ia bergegas meninggalkan rumah, berangkat ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, tenyata Tini sudah menunggu Queen di depan gerbang sekolah. Ia bergegas menyambar kunci dari tangan Queen lalu berlari menemui Pak Wawan yang sudah tampak emosi menunggu kunci.


Sementara itu, setelah menyerahkan kunci Queen berbalik arah. Ia ingin segera pulang dan tidak berniat untuk masuk kerja karena ia pikir ia akan dipecat. 'Untuk apa aku di sini?' pikir Queen sambil melangkahkan kakinya ke luar gerbang sekolah.


Namun, tiba-tiba, "Tiiinn! Tinnn! Tinnn! Tinnnn!" Mobil mewah di hadapannya mengklakson berkali-kali, memekakkan telinga Queen. Langkah kaki Queen terhenti.


Kaca pintu mobil itu terbuka, di belakang sopir Ammar menyeringai dari dalam mobil dan berkata, "Ikuti aku!"


"Hahh," dengus Queen sambil balik menyeringai sinis. "Maaf ya Tuan Ammar yang terhormat. Saya tidak berniat bekerja lagi di sini. Jadi, Anda tidak bisa lagi memerintah saya seenaknya."

__ADS_1


"Jadi, kamu mau lari dari tanggung jawab," ucap Ammar dengan langsung melotot. "Setelah mencelakai orang, kamu mau pergi begitu saja," tuding Ammar. "Kamu harus membayar ganti rugi."


"Ganti rugi!?" Queen sontak terkejut.


"Seenaknya saja kamu mau berhenti kerja, lari dari tanggung jawab. Kamu tidak bisa pergi, sebelum mengganti rugi."


"Tapi, ganti rugi apa?" Queen tak mengerti. "Semuanya hanya kecelakaan. Kamu juga masih sehat-sehat saja."


"Kamu...." Ammar begitu geram pada Queen yang baginya sama sekali tidak merasa bersalah dan berdosa. "Kamu sudah membuat saya banyak menderita kerugian. Kamu harus bertanggung ja...."


Belum sempat Ammar menyelesaikan ucapannya dengan emosi, mobil di belakang mobil Ammar sudah mengklakson berkali-kali. Ammar menoleh dan ternyata antrian mobil yang ingin memasuki gerbang sekolah sudah cukup panjang berbaris.


"Ha...akkhh," dengus Ammar kesal. Lalu, Ammar kembali menatap Queen dan berkata dengan melotot, "Kamu, ikut saya!"


"Tiinnn! Tiiinn! Tinnn! Tinnn!"


Antrian mobil bertambah panjang. Queen pun panik dan bergegas berjalan ke samping mobil Ammar, ia membuka pintu mobil dan ingin masuk ke dalamnya.


Ammar spontan kembali melotot dan berkata, "Mau apa kamu?"


"Kamu bilang tadi saya ikut kamu," jawab Queen.


"Jangan ge-er! Kamu ikut saya, buntuti mobil ini dari belakang," ucap Ammar.


"Apa?" Queen spontan menjadi emosi. Sedangkan, Ammar segera berkata pada sopirnya, "Jalan, Pak!"


Sopir Ammar pun segera menjalankan mobil. Tidak seperti hari-hari biasa, hari ini Ammar diantar ke sekolah oleh seorang sopir. Biasanya ia menyetir sendiri. Namun, karena ia merasa kakinya sakit, ia minta bantuan sopir untuk mengantarnya.


Sopir itu pun melirik Queen dari kaca spion mobil. Queen tampak berjalan cepat dengan wajah masam dan sesekali bersungut-sungut sambil mengiringi mobil Ammar. "Dasar bocah tengil songong," umpat Queen.


Sementara itu, Ammar berkata dalam hatinya, 'Gadis itu harus membayar kesalahannya. Jika dia tidak dipecat, setidaknya dia harus mendapat hukuman dariku.'


Lalu, mobil pun berhenti di parkiran. Pak sopir bergegas turun dan membuka kap bagasi mobil. Ia mengeluarkan sebuah kursi roda yang masih terlipat. Lalu, ia membuka kursi roda itu dan mempersilakan Ammar duduk.

__ADS_1


"Silakan, Tuan!" ucap Pak sopir.


Queen yang baru saja sampai di dekat mobil menjadi tercengang melihat pemandangan di hadapannya. Ia melihat dengan jelas Ammar turun dari mobilnya dengan berjalan. Ammar bisa menggunakan kakinya, namun ia menuju kursi roda dan segera duduk di sana.


__ADS_2