Jatuh Tertimpa Cinta

Jatuh Tertimpa Cinta
Memandangmu


__ADS_3

Mata mereka saling bertemu, namun masing-masing dengan ekspresi keheranan.


'Mau apa dia di sini?' batin Queen saat melihat Ammar. Sedangkan, Ammar bertanya dalam hatinya, 'Darimana dia dapat sapu tangan itu?'


Kemudian, mereka membuka suara secara bersamaan. "Mau...." ucap Queen dan di detik yang sama Ammar juga berkata, "Mengapa...."


"Ladies first," ucap Ammar kemudian.


Sehingga, Queen segera memberondongnya dengan pertanyaan, "Mau apa kamu di sini?"


"Hmmmh, mau cuci muka," jawab Ammar dengan santainya.


"Ini bukan toilet siswa, ini toilet khusus guru," ucap Queen.


"Di sekolah ini aku bebas memilih mau ke toilet manapun yang aku suka." Ammar berkata dengan cukup angkuh.


Queen melotot dan kemudian berkata, "Ini toilet wanita! Kamu mau ke toilet wanita?!"


Ammar tersadar seketika dan Queen segera menunjuk toilet tak jauh di belakang Ammar. "Itu toilet guru laki-laki," ucapnya.


"Iya, aku tahu," ucap Ammar seolah tenang untuk menutupi rasa malunya.


"Lalu, mengapa masih di sini?" Queen heran mengapa Ammar tidak segera pergi ke toilet.


Sebenarnya tadi Ammar berniat minta maaf pada Queen karena akibat perbuatannya Queen mendapat teguran dari Bu Wita. Tapi, entah mengapa setelah bertatapan langsung dan bertemu dengan Queen ... keinginan untuk meminta maaf itu telah lenyap, seketika berlari entah kemana. Permintaan maaf itu tak sedikitpun bisa muncul dari bibir Ammar. Ia merasa berat dan terlalu gengsi untuk mengatakan kata-kata maaf.


'Bisa-bisa dia jadi besar kepala,' pikir Ammar.


"Sepertinya kamu hanya mencari-cari alasan untuk ke sini," ucap Queen saat melihat Ammar tak kunjung pergi ke toilet. "Sebenarnya kamu mau apa, hah?"


"Aku mau lihat sapu tangan yang kamu pakai tadi." ucap Ammar.


"Hahhh?!" Queen tak habis pikir dengan keinginan bocah aneh di hadapannya. "Mengapa kamu ingin melihatnya?"


Ammar hanya diam dan Queen mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Ia membentangkannya di depan Ammar. "Nih, ini...."

__ADS_1


"Sudah puas?" tanya Queen.


"Itu sapu tangan limited edition karya desainer internasional. Harganya jutaan rupiah," ucap Ammar kemudian.


Queen terbengong menatap sapu tangan yang dipegangnya dan serasa tak percaya dengan apa yang baru saja Ammar katakan. 'Selembar sapu tangan begini harganya jutaan?' gumam Queen dalam hati tanpa berkedip. 'Ibu Melan memang luar biasa tajir melintir.'


"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Ammar penuh selidik.


"Hohh... Kamu pikir karena aku hanya office girl, aku tidak bisa punya sapu tangan seperti ini?" Queen sedikit tersinggung dengan pertanyaan Ammar.


"Aku memang tidak mampu membelinya. Tapi, yang pasti aku tidak memperolehnya dengan cara mencuri," ucap Queen dengan cukup sewot. Lalu, ia segera mengemasi peralatan kebersihannya dan pergi meninggalkan Ammar.


****


Bel jam istirahat kedua berbunyi. Ini waktunya istirahat makan siang. Hampir semua siswa keluar dari kelas dan menuju ke kantin. Sedangkan, Ammar berdiam diri menatap paper bag berisi kotak makanan yang ada di hadapannya.


"Mau ikut ke kantin?" tawar Cindy.


Ammar menggelengkan kepalanya. Cindy melirik paper bag di meja Ammar dan bergumam, "Owhh... Kamu sudah punya makan siang."


Cindy pun berlalu. Setelah itu, tiba-tiba saja Ammar teringat pada Queen. "Hikh, kemana dia? Mengapa tidak ke sini?" gerutu Ammar. "Apa dia sudah lupa dengan tanggung jawabnya?" Ammar pun mengambil ponselnya dan menelepon Queen.


"Ada apa lagi?" Queen mengangkat panggilan telepon dengan tidak ramah.


"Jangan lupa ya dengan tanggung jawabmu untuk melayaniku! Cepat ke sini!"


"Hmmmh... merepotkan saja bocah ini," batin Queen. Namun, Queen terpaksa tetap menemuinya. Sehingga, kini Queen sudah berada di hadapan Ammar yang duduk dengan santai di kursi rodanya.


"Kamu tadi sedang apa?" tanya Ammar.


"Baru selesai mencuci gelas," jawab Queen singkat.


"Berarti sudah selesai? Sekarang sedang tidak ada pekerjaan?" Ammar hanya ingin memastikan Queen tidak meninggalkan tugasnya seperti tadi lagi.


"Tidak ada. Ini jam istirahat makan siang," ucap Queen. "Satu-satunya jam istirahatku. Setelah ini, aku harus bekerja lagi."

__ADS_1


"Jadi, maksudmu kamu mau makan siang, tidak ingin melayaniku di sini?" ucap Ammar dengan cukup geram.


"Tidak, aku tidak akan makan," ucap Queen datar. "Kamu mau memerintah apa lagi?"


"Mengapa tidak makan? Karena harus melayaniku?" Ammar makin geram. "Nanti kamu mau menyalahkanku tidak makan siang karena harus melayaniku?"


"Hokhhh... Sebenarnya kamu maunya apa? Begini salah, begitu salah," gerutu Queen.


"Belikan aku burger dan air mineral di kantin! Setelah itu, terserah... kamu mau pergi, mau makan... terserah. Aku tidak akan mencegah."


Queen pun pergi ke kantin dan mengantri untuk membeli burger. Di sana banyak siswa duduk mengitari meja makan dan menyantap makanan yang menurut Queen semuanya tampak lezat. Aroma makanan pun silih berganti tercium di hidung Queen, membuat perut Queen berbunyi, "Krooookkk... Kriuk! Kriek! Kriuk?"


'Haduuuhhh... Orkestra di perutku sudah mulai konser,' batin Queen sambil memegang perutnya.


Ditambah lagi, patty yang diselipkan penjual burger untuk burger Ammar terlihat begitu nikmat dan menggiurkan di mata Queen. 'Mungkinkah ini karena bawaan perutku yang lapar?' batin Queen. 'Ataukah, semua makanan yang kulihat saat ini memang bebar-benar nikmat?' Queen meneguk air ludahnya.


Queen sungguh sangat lapar dan ia tak membawa bekal makanan hari ini. Karena, pagi tadi ia berniat ke sekolah hanya untuk mengembalikan kunci dan tidak bekerja seperti saat ini. Ia bahkan tidak membawa cukup uang untuk membeli makanan. Ia hanya bisa menyaksikan para siswa mengunyah makanan mereka dan ia meneguk air ludahnya sendiri yang nyaris menetes berkali-kali.


Setelah mendapatkan burger, Queen mengantarnya ke kelas Ammar. Suasana kelas sepi, hanya ada Ammar seorang diri duduk di kursi rodanya. Queen mendekati Ammar dan menyerahkan pesanan makanannya.


"Terima kasih," ucap Ammar.


Queen sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya Queen mendengarkan ucapan terima kasih dari bibir Ammar. Selama ini bagi Queen sikap Ammar begitu angkuh dan songong. 'Ternyata bocah ini bisa juga berterima kasih,' pikir Queen.


"Nah, ini ambillah untukmu!" Ammar menyodorkan paper bag kepada Queen.


"Apa ini?" tanya Queen segera dengan heran.


"Makanan. Ambillah! Kamu belum makan, kan?"


Queen segera menatap Ammar dengan penuh curiga. Ia memandangi bocah di hadapannya dari ujung kaki ke ujung rambut. 'Bocah ini sejak pertama bertemu tidak pernah bersikap baik padaku. Sekarang mendadak berubah menjadi anak manis,' pikir Queen.


"Kamu merencanakan sesuatu yang jahat padaku?" tuduh Queen.


Ammar terdiam dan spontan menatap Queen dengan tajam. Mereka sama-sama saling berpandangan dengan tatapan sinis. Queen curiga pada Ammar, sedangkan Ammar tidak senang mendengar ucapan Queen.

__ADS_1


__ADS_2