
"Kalo kamu tidak mau, ya sudah...." Ammar meraih paper bag di atas mejanya. Ia menjalankan kursi rodanya ke belakang, menuju sebuah kotak sampah di dekat dinding.
Mata Queen membola. 'Dia mau membuang makanannya,' pikir Queen.
"Jaaaaaaaa... ngaaaaaaaaannnnnnn!" teriak Queen spontan.
"Plukkk!" Dengan berlari akhirnya Queen berhasil menangkap paper bag yang dijatuhkan Ammar ke tong sampah. Nyaris sedikit lagi saja paper bag berisi makanan itu menyentuh tong sampah.
Queen kini memeluk paper bag itu. Ia langsung melotot dan mencecar Ammar, "Kamu tahu kan di luar sana banyak orang kelaparan?"
"Orang kaya seperti kamu tidak pernah tahu rasanya kelaparan. Seenaknya saja membuang makanan."
"Lalu, aku mau bagaimana? Aku tidak mau memakannya," ucap Ammar. "Kamu tadi sudah aku beri, juga tidak mau menerimanya."
"Mengapa?" tanya Queen. "Mengapa kamu tidak mau memakannya? Kamu lapar kan? Kamu memintaku membeli burger tadi."
"Jangan berpikir aku menaruh racun di dalamnya dan sengaja ingin memberikannya padamu!" gumam Ammar.
"Ya, memang itu yang aku pikirkan," celetuk Queen.
"Hehh, benar-benar picik," ejek Ammar membuat mata Queen kembali melotot tajam.
"Coba kamu buka paper bag itu dan cek makanan di dalamnya!"
Queen bergegas meneliti paper bag di tangannya lalu mengeluarkan kotak makanan di dalamnya. Queen membuka kotak makanan itu dan dalam sekejap langsung spontan bergumam, "Wuawwwwww, ini bento yang sangat cantiiikkk."
Queen terkesima dengan begitu apiknya susunan bento di dalam kotak makan itu. Nasi, lauk, sayur dihias dan ditata sedemikian rupa membuat Queen merasa sangat gemas melihatnya. 'Pasti perlu waktu lama untuk menyiapkan bento sedetail ini,' pikir Queen.
"Menurutmu adakah racun di dalamnya?"
Perkataan Ammar menyadarkan Queen dari hipnotis pesona bento di hadapannya. Ia lalu menatap Ammar dan berkata, "Mengapa? Mengapa kamu tega-teganya mau membuang makanan yang tampak selezat ini?"
Queen begitu menyayangkan bento lezat di hadapannya yang nyaris saja berakhir di kotak sampah. 'Untung saja belum masuk kotak sampah,' pikir Queen.
"Jika tidak beracun, mengapa kamu tidak mau memakannya dan malah ingin membuangnya?" tanya Queen lagi.
"Hmmnh... sudah kubilang tadi coba kamu lihat dan cek makanan itu!" ucap Ammar dan Queen menjadi semakin tak mengerti apa yang salah dengan makanan di hadapannya.
Sepenglihatan Queen makanan itu benar-benar layak makan. 'Apa yang salah dengan makanan ini? Mengapa bocah aneh ini tidak mau memakannya?'
"Coba kamu periksa dengan teliti!"
Queen kemudian mengambil paper bag makanan itu dan ternyata ia menemukan secarik kertas di dalamnya. Tertulis di kertas itu, 'Untuk Abang Ammar Ganteng... Semoga Abang suka dan kenyang.'
Di bagian bawahnya tertulis, 'Your sweet secret admirer.'
"Ini...." gumam Queen. "Makanan ini dari pengagum rahasiamu. Kamu tega sekali membuangnya," ucap Queen cukup kesal.
__ADS_1
"Dia pasti sedih jika tahu. Kamu memang benar-benar tidak bisa menghargai orang lain," tambah Queen.
"Awalnya aku tidak mau membuangnya. Aku hanya tidak mau memakannya," ucap Ammar. "Karena itu, aku berikan padamu."
"Mengapa kamu tidak mau memakannya? Orang itu pasti membuatnya khusus untukmu."
"Khusus untukku," ucap Ammar langsung sehingga menghentikan ucapan Queen.
"Aku tidak mau memakannya karena ia membuatnya khusus untukku," ujar Ammar. "Aku mana tahu apa yang telah dimasukkannya ke dalam makanan itu khusus untukku."
"Apa maksudmu?" tanya Queen. "Makanan ini beracun?"
"Tidak. Ia tidak mungkin meracuniku. Hanya orang bodoh yang akan memberi racun dengan cara ini. Terlalu mudah untuk dilacak polisi."
"Tidak ada racun dalam makanan itu. Kamu aman memakannya," tandas Ammar.
"Lalu, menurutmu apa yang bisa dimasukkan orang itu dalam makanan ini?" Queen semakin penasaran.
"Mungkin pelet," ucap Ammar dengan ekspresi serius.
Queen terdiam seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Lalu, "Hahahahahahaaaa...." Tawanya pecah seketika.
"Mengapa tertawa?" tanya Ammar dan masih dengan ekspresi seriusnya.
"Kamu ge-er sekali," ejek Queen.
Queen menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Ternyata... tuan muda kaya raya yang songong ini begitu takut dipelet.' Queen terkikik dalam hati, sedangkan Ammar masih dengan tampang ekspresi seriusnya.
"Jadi, pada intinya... kamu mau makanan itu tidak? Jika tidak, aku mau membuangnya?" tanya Ammar dan di waktu yang sama secara kebetulan perut Queen kembali berbunyi, "Kroookkkkkk...!"
Tapi, Queen berusaha menahan rasa laparnya. Ia berkata, "Jika kamu kira di dalam makanan itu kemungkinan ada pelet, mengapa kamu mau memberikannya padaku? Nanti aku yang terkena pelet."
"Kamu sendiri tadi bilang makanan itu dibuat khusus untukku. Ya, jika ada peletnya, berarti jampi-jampinya ditujukan untukku. Tidak akan memberi efek padamu."
Queen diam dan berpikir, berusaha mencerna ucapan Ammar. 'Iya, mungkin benar,' batin Queen.
"Jadi, ini tawaran yang terakhir. Kamu mau makanan itu tidak?" tawar Ammar.
Dan, untuk kesekian kalinya lagi-lagi perut Queen bernyanyi. "Krooookkk! Kroookkkk!"
'Aku benar-benar lapar,' ringis Queen dalam hati. 'Makanan ini juga sangat sayang jika dibuang.' Akhirnya, ia pun menerima makanan itu walaupun dengan sedikit merasa gengsi.
Queen membawanya ke ruangan office girl dan ingin menyantapnya di sana. "Hoooohh, makanan ini sungguh menggemaskan," gumam Queen yang saat ini hanya seorang diri di dalam ruangan itu. "Aku sampai tak tega memakannya."
Queen menatap makanan itu dengan lekat lalu kembali bergumam, "Sweet secret admirer... maafkan aku. Aku rasa makanan ini lebih baik dimakan daripada berakhir di kotak sampah."
Lalu, Queen pun mulai menyantap makanan itu dan ia kembali bergumam, "Hooohhh... makanan ini lezat sekali. Ammar pasti menyesal tidak memakannya."
__ADS_1
Queen terus menyantapnya dengan penuh semangat. Ia sangat asik sendiri sehingga tidak menyadari seseorang ternyata tengah mengawasi gerak-geriknya dari jendela ruangan.
****
Bel tanda selesai pelajaran akhirnya berbunyi. Kali ini Queen sudah stand by di depan kelas Ammar sebelum Ammar minta. Ia sudah paham bahwa Ammar pasti akan memintanya untuk melayaninya.
"Bagus kamu sudah datang," ucap Ammar ketika melihat Queen sudah berdiri di hadapannya.
"Bawakan tasku!" Lagi-lagi Ammar meminta Queen membawakan tasnya yang sebenarnya sangat enteng dan bisa ia bawa sendiri.
"Apa kursimu perlu didorong?" Queen menawarkan dirinya untuk mendorong kursi roda Ammar.
"Tidak perlu," ucap Ammar dengan ketus. Ia masih teringat dengan kejadian tadi pagi. "Aku bisa sendiri. Dorong kursiku saat posisi tanjakan saja!"
"Oke, baik." Queen menganggukkan kepalanya.
'Tidak biasanya dia bersikap manis seperti ini,' batin Ammar sambil menekan tombol di kursi rodanya.
'Apa karena aku memberinya makanan tadi? Atau, dia punya maksud lain?'
Saat mendekati posisi tanjakan Queen dengan sigap segera mendorong kursi roda Ammar agar lebih mudah menanjak. Queen melayani Ammar dengan baik hingga mereka berdua sampai di tempat parkir mobil Ammar.
Ammar pun naik ke mobilnya dan Queen menyerahkan tas Ammar pada sopir. Namun, sebelum menutup pintu mobilnya, Ammar memanggil Queen. "Kamu mau ikut pulang sekalian bersamaku?"
Seketika itu juga mulut Queen ternganga dan matanya membulat. "Tidak salah dengar?" ucapnya. "Ada angin apa tiba-tiba berubah jadi baik?"
Ammar tersinggung dengan ucapan Queen dan balik berkata, "Kamu yang punya maksud apa denganku? Tiba-tiba berubah drastis dari tadi bersikap baik padaku? Padahal, aslinya seperti sekarang ini nih sikap kamu."
"Hahh, kamu saja yang ge-er. Bagiku sikapku biasa saja. Aku tidak pura-pura baik atau berubah drastis jadi baik. Sehari-hari aku memang selalu bersikap baik kepada semua orang, bukan karena ada niat atau maksud terselubung." Queen membela dirinya.
"Lalu, mengapa hampir selalu bersikap tidak baik padaku?" tanya Ammar.
"Karena kamu... menyebalkan," jawab Queen segera.
"Kamuuu," ucap Ammar dengan geram. "Beraninya kamu bicara begitu padaku ya."
Namun, Queen tak peduli. "Jika tidak ada lagi yang dibutuhkan, aku masih punya banyak pekerjaan," ucap Queen lalu segera pergi meninggalkan Ammar.
Sementara itu, Ammar berteriak dari dalam mobilnya, "Lihat saja nanti ya! Kamu baru akan tahu nanti ... bagaimana definisi menyebalkan yang sebenarnya."
Hai, readers tersayang ... maaf baru update lagi nih setelah libur lebaran. Kesibukan reallife buat othor sering susah update. Tapi, pengennya update terus sih.
__ADS_1
Btw, menurut kalian siapa ya yang ngintipin Queen makan? Boleh tulis di komentar! Tapi, kalo mau tahu jawaban pastinya, kepoin terus episode novel ini sampai habis ya 😉