
Pagi ini Ammar memutuskan untuk tidak menggunakan kursi roda lagi. Kakinya sudah terasa lebih baik. Namun, ia masih meminta sopir untuk mengantarnya.
Setelah memarkirkan mobil, pak sopir cepat-cepat membukakan pintu mobil untuk Ammar. Ammar pun melangkah turun, namun pandangannya segera mengitari sekelilingnya. Ia sampai membalikkan badan dan berputar untuk menemukan sosok Queen. Namun, tetap tak dapat Ammar temukan.
Ammar pun berdecak kesal. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Queen.
"Halo," sapa Queen saat menjawab panggilan di ponselnya.
"Mengapa batang hidungmu tidak muncul di hadapanku?" Ammar segera menyerbu Queen dengan pertanyaan bernada sewot. "Jangan lupa dengan kewajibanmu dan kesepakatan kita!"
"Kamu harus tetap melayaniku sampai kakiku sembuh kembali. Cepat kemari!"
Queen meletakkan sapu dalam genggamannya. "Kemana?" tanya Queen cukup jengkel.
"Area parkir. Sekarang juga!" tegas Ammar lalu ia langsung menutup panggilan teleponnya.
"He...ehh... menyebalkan sekali bocah ini," gerutu Queen. Lalu, ia bergegas menghampiri Ammar.
Dari kejauhan Queen bisa melihat Ammar berdiri dengan kokoh di atas kakinya. "Kamu sudah sembuh," ucap Queen. "Kakimu tidak sakit lagi. Itu artinya tugasku sudah selesai."
"Kata siapa?" ucap Ammar segera. "Kakiku masih sakit. Aku hanya menahannya."
Queen memicingkan matanya, merasa tak percaya. Sementara itu, Ammar kembali berkata, "Aku yang merasakan sakitnya, bukan kamu."
"Jadi, apa yang kamu inginkan?" tanya Queen.
"Bawakan tasku!" ucap Ammar dengan nada sok memerintah dan Queen segera menyambar tas Ammar dari tangan pak sopir tanpa berkata apapun.
Lalu, ia bergegas berjalan mendahului Ammar. Sehingga, Ammar segera memanggilnya, "Hei, hei, hei!"
Queen menghentikan langkah dan menoleh. Ammar berkata, "Mengapa berjalan mendahuluiku? Aku minta kamu bawakan tasku. Berjalan di belakangku!"
__ADS_1
"Hemhhh...." Queen menarik nafas menahan kesal. "Kamu tidak lihat aku sedang membawakan tasmu?" Queen melirik ransel di tangannya.
"Ya, aku tahu. Tapi, kamu harusnya berjalan di belakangku, mengiringiku."
"Aku masih banyak pekerjaan lainnya yang sedang menungguku," ucap Queen sewot. "Tasmu akan kuantarkan langsung ke kelasmu, ke atas mejamu. Tidak akan ada satu pun barangmu yang hilang. Aku hanya tidak bisa menunggumu yang berjalan dengan lelet."
Ammar melotot, namun Queen tidak peduli. "Aku harus cepat," tegas Queen lalu ia segera kembali melanjutkan langkahnya. Ia berjalan dengan sangat cepat, meninggalkan Ammar yang menjadi begitu kesal.
"Hoooo... ohhh... lihat saja kelakuannya! Tidak sopan," oceh Ammar. "Bagaimana bisa kakak tertarik dan jatuh cinta dengan perempuan seperti itu?"
"Apa tidak ada gadis lain di dunia ini?"
"Aku tidak akan membiarkannya menjadi kakak iparku." Ammar bersungut-sungut sambil berjalan menuju ke kelas.
Sementara itu, dengan cepat Queen sudah sampai di kelas Ammar. Ia berjalan mendekati meja Ammar. Beberapa siswa-siswi terlihat sudah duduk manis dan mengobrol di dalam kelas. Cindy yang sudah datang terlebih dulu melihat Queen dengan tatapan jijik dari tempat duduknya.
"Untuk apa kamu ke sini?" Cindy mencegat Queen dengan pertanyaan sinis sambil memperhatikan kuku jari-jari tangannya sendiri. Namun, Queen tak menggubrisnya. Ia hanya menoleh lalu segera meletakkan tas di atas meja Ammar.
Semua siswa-siswi yang ada di kelas spontan tertawa. Mereka dengan jelas menertawakan dan merendahkan Queen. Queen menatap tajam kepada Cindy. Sedangkan, gadis berambut ikal itu dengan santainya menatap Queen penuh ejekan.
"Kamu sangat cantik dan wangi," ucap Queen. "Tapi, mulut kamu lebih busuk dari toilet."
Cindy spontan tak terima. Ia bergegas bangkit dari tempat duduknya. Namun, Queen langsung mendorong tubuhnya hingga kembali terduduk di kursi.
Queen menatapnya dari dekat dan berkata, "Gadis kecil manja seperti kamu tidak akan menang melawan wanita berotot sepertiku."
Cindy hanya diam sambil terus memelototkan matanya sebagai bentuk perlawanan. Siswa siswi lainnya pun hanya diam, bahkan ada yang tak sanggup menutup mulut mereka yang ternganga. Mereka tak menyangka Queen akan melawan perlakuan dari Cindy.
Selama ini setiap office girl dan office boy di sekolah ini selalu bersikap sopan, hormat, dan sebisa mungkin membuat para siswa merasa nyaman, tapi tidak kali ini. Bagi mereka Queen cukup lancang melewati batasnya sebagai office girl. Sedangkan, Queen merasa tak terima jika dirinya dihina.
Queen tak ingin menyakiti Cindy. Ia hanya tidak suka pada perlakuan Cindy dan ingin meladeninya sejauh mana gadis itu ingin membuat masalah dengannya. Namun, Cindy hanya mampu menatap Queen dengan tajam. Tak satupun ucapan keluar dari bibirnya yang mengatup rapat dengan kemarahan. Ia tak berkutik. Sehingga, Queen pun menarik tubuhnya menjauhi Cindy dan mulai mengayunkan langkah kakinya keluar dari kelas.
__ADS_1
Setelah Queen berlalu, Cindy pun segera menyadari tatapan dari semua siswa yang ada di kelas mengarah padanya saat ini. Ia kesal dan spontan menggeprak mejanya. "Kurang ajar!" makinya. Ia meremat kikir kuku yang ada dalam genggamannya hingga patah.
Saat itu Ammar pun masuk ke dalam kelas. Ia melihat tas ranselnya sudah berada di atas meja dan Queen sudah tidak ada lagi di kelas. Ia pun berjalan ke arah tempat duduknya. Lalu, pandangannya pun terlintas pada wajah Cindy yang masih menggemuruh penuh amarah.
"Kamu kenapa?" tanyanya santai.
Cindy menoleh pada Ammar yang sudah duduk di kursinya. Ia berapi-api dan berkata, "Pelayan barumu itu benar-benar keterlaluan."
"Pelayan baru?" Ammar bingung dan menggumam.
"Si Miss-Queen," ucap Cindy.
"Oooohh, Queen." Ammar baru menalar ucapan Cindy. "Ada apa dengannya? "
"Dia terlalu lancang. Berani-beraninya dia melakukan perbuatan tidak sopan padaku," ucap Cindy penuh emosi. "Dia menghinaku ... dengan mengatakan mulutku busuk seperti toilet."
Seketika itu juga Ammar ingin terbahak dan berusaha menahan tawanya. Cindy tersinggung dan begegas berkata, "Itu tidak lucu."
Ammar menghela nafas lalu berkata, "Mungkin kamu yang mulai duluan mencari masalah dengannya."
Cindy segera menatap Ammar, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Ammar tidak membelanya, malah seolah menyalahkannya. "Kamu membela dia?" ucap Cindy.
"Aku tidak ada maksud membela siapapun," ucap Ammar segera. "Tapi, aku tahu betul sikap Queen. Dia tidak akan mengganggumu jika kamu tidak mengganggunya lebih dulu. Dia tidak punya urusan denganmu."
"Ammar... kita ini berteman sejak kecil. Kamu lebih memilih si Miss-Queen yang baru kamu kenal beberapa hari lalu... daripada persahabatan kita yang sudah belasan tahun." Cindy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku benar-benar tidak menyangka kamu seperti itu," gumam Cindy tak terima.
"Lalu, aku seharusnya bagaimana?" tanya Ammar dengan cuek.
Cindy kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, dengan tidak senang dia berkata, "Kamu berubah."
__ADS_1
"Benar-benar berubah."