
Queen bergegas menuju ke kantin dan membeli jus alpukat sesuai perintah Ammar. Lalu, ia mengantarnya ke kelas Ammar.
"Ini jus alpukatnya," Queen menyerahkan satu cup jus pada Ammar.
Ammar memperhatikan jus itu lalu berkata, "Aku tidak suka jus alpukat pakai susu cokelat. Belikan lagi yang baru!" Ammar kembali menyodorkan uang.
Queen pun terpaksa kembali ke kantin dan memesan jus alpukat tanpa susu coklat. Lalu, ia kembali menyerahkan jus itu pada Ammar.
"Batu esnya terlalu banyak, aku merasa akan terserang flu. Belikan lagi yang baru, pakai batu esnya sedikit saja! Satu buah saja es batunya!"
Queen merasa kesal dengan Ammar yang sengaja mempermainkannya. "Sebenarnya kamu maunya apa?"
"Ya, aku mau jus alpukat tanpa susu coklat dan hanya pakai satu buah batu es," jawab Ammar dengan santai seperti tanpa dosa.
"Mengapa tidak bilang dari awal?"
"Sssstttt! Dilarang protes! Cepat lakukan saja! Sebentar lagi jam istirahat berakhir, kamu harus segera tiba di sini membawa jus alpukat itu untukku sebelum bel berbunyi!"
Queen pun berlari ke kantin untuk mengejar waktu istirahat yang sebentar lagi berakhir. Queen terengah-engah begitu hampir sampai ke kelas Ammar dengan membawakan jus alpukat sesuai pesanannya.
Namun, tiba-tiba, "Aaaaaaghhh...!"
Queen terjatuh seketika karena seseorang dengan sengaja menjegal kaki Queen. Di saat yang bersamaan bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Siswi yang menjegal kaki Queen tersenyum dan dengan santainya berjalan menuju ke dalam kelasnya.
Queen melihat cup jus yang dibawanya sudah pecah dan isinya berhamburan di lantai. Queen segera berdiri dan menyusul siswi yang menjegalnya. Ia meraih pundak siswi itu dan berkata, "Kamu sengaja kan melakukannya?"
"Kamu pantas mendapatkannya," ucap Cindy, siswi yang sudah menjegal kaki Queen.
"Hahh... hahh... hahh...." Nafas Queen masih sangat terdengar nyata. Ia masih ngos-ngosan karena terburu-buru membeli jus.
__ADS_1
Sementara itu, senyum Cindy tersungging penuh kemenangan. Ia sangat senang bisa mengerjai Queen. Sehingga, Queen segera berkata, "Kamu benar-benar keterlaluan. Aku tidak pernah ada urusan atau permasalahan denganmu. Mengapa kamu sengaja menjegalku?"
"Aku tidak perlu punya alasan untuk melakukannya. Aku bebas melakukan apa pun yang aku suka. Jika kamu tidak suka, menjauh dari sekolah ini. Orang miss-queen seperti kamu tidak pantas ada di sekolah ini."
Queen tersentak mendengar ucapan Cindy. Ia benar-benar tidak menunjukkan penyesalan sedikitpun. Sehingga, Queen menjadi begitu emosi. Ia tak tahan harga dirinya diinjak-injak. Queen menyentuh lengan baju Cindy dan menariknya.
Secara spontan semua mata para siswa dan siswi yang ada di sekitar tertuju pada mereka. Tidak terkecuali mata Ammar. Ia segera membalikkan badan dan melihat mereka begitu ada temannya yang berkata, "Lihat, ada yang bertengkar!" Ia melihat Queen menarik lengan baju Cindy dari jendela kelasnya tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu pikir karena kamu kaya, kamu berhak untuk menindasku?" ucap Queen dengan sinis. "Siswi seperti kamu ini hanya anak manja yang berlindung di balik harta orang tuamu."
"Jangan sok hebat!" ucap Queen lagi.
Mata Cindy melotot. Ia segera berkata dengan lantang, "Lepaskan! Lepaskan tangan kotor kamu!" Ia menarik tangan Queen, namun Queen sudah mencengkeram lengan bajunya dengan erat.
"Lepaskan!" ucapnya lagi dengan keras. Bu Wita, wali kelas Ammar yang berjalan menuju ke kelas mendengar ucapan Cindy dan melihat Queen sedang mengcengkeram lengan baju siswinya.
Ia langsung melerai mereka dan berkata dengan tegas, "Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Mengapa?" tanya Bu Wita segera.
"Dia dengan sengaja menjegalku, Bu. Sehingga, jus yang kubawa tertumpah," jawab Queen segera.
"Jus," gumam Bu Wita dan ia menoleh pada jus yang sudah berceceran di lantai tak jauh dari mereka.
"Aku tidak sengaja, Bu. Aku tidak berniat membuat jusnya tumpah. Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Cindy dengan ekspresi wajah polosnya.
Queen menjadi benar-benar kesal dan langsung berkata, "Kamu bohong. Kamu sengaja melakukannya."
Bu Wita segera berkata, "Sudah, hentikan!"
__ADS_1
"Kalian harusnya saling bermaafan. Tidak perlu dibesar-besarkan. Hanya karena satu cup jus, kalian membuat keributan di sekolah. Ini sekolah, bukan arena perang."
"Dan, kamu...." ucap Bu Wita sambil memandang Queen. "Kamu kan office girl yang biasanya membersihkan toilet guru."
"Tadi saya ke toilet dan lihat pekerjaan kamu belum beres. Alat-alat pembersih ditinggalkan begitu saja di sana. Ternyata kamu ada di sini. Kamu harusnya sadar dengan tanggung jawabmu, bukan membuat keributan di area kelas seperti ini."
Seketika Queen tertunduk karena malu. Ia sadar posisinya di sekolah ini hanya office girl, bukan siapa-siapa. Ia hanya pesuruh.
"Kamu harus sadar siapa kamu di sini. Selama ini tidak ada karyawan yang berani bersikap tidak sopan pada siswa. Sebisa mungkin mereka berusaha membuat para siswa merasa nyaman. Kamu harus lebih banyak belajar tata krama."
Dalam sekejap perkataan Bu Wita berhasil membuat Queen merasa dirinya sangat kecil. Queen hanya terus menunduk. Sementara itu, Cindy tersenyum dan bersorak girang dalam hatinya.
'Dasar Miss-queen. Nama Queen memang cocok untuk kamu... Miss-queen,' ucap Cindy dalam hati.
Lalu, Bu Wita segera berkata, "Sekarang... kamu Cindy dan siswa-siswa lainnya masuk! Jam pelajaran harusnya sudah dimulai."
"Kamu," ucap Bu Wita dengan pandangan terarah pada Queen. "Bereskan bekas tumpahan jus di teras ini!"
Kemudian, semua siswa bergegas masuk ke kelas. Begitu juga dengan Bu Wita. Mereka meninggalkan Queen sendirian yang masih berdiri tertunduk di tempat semula. Lalu, dengan perasaan kalut Queen pergi mengambil alat pembersih lantai.
Lalu, ia kembali ke depan kelas Ammar dan mulai membersihkan tumpahan jus yang berceceran di lantai. Sepanjang membersihkan lantai Queen hanya terus tertunduk, tak sekalipun melirik ke kelas Ammar. Sedangkan, Ammar diam-diam sejak tadi terus memperhatikan Queen. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya, namun ia tak mampu mengungkapkannya.
Setelah semuanya bersih Queen melangkahkan kakinya menuju toilet guru. Ia segera melanjutkan pekerjaannya yang belum terselesaikan. Tiba-tiba perkataan Bu Wita terngiang di telinganya, 'Kamu harus sadar siapa kamu di sini.'
'... Kamu harus lebih banyak belajar tata krama.'
'Aku hanya upik abu,' batin Queen.
Tak terasa air mata Queen menetes. Ia segera menghapusnya hingga tak berbekas. Namun, air mata lainnya terus berjatuhan. Ia kembali menghapusnya, namun tetap saja menetes lagi air mata yang baru. Ia tak bisa membendung kesedihan di hatinya.
__ADS_1
"Hapus air matamu!"
Queen tersentak kaget dan mengangkat wajahnya. Tiba-tiba saja tanpa ia sadari seseorang telah berdiri di sampingnya sambil menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru muda.