
Ferdi mendatangi ruang HRD. Saat itu Queen tanpa sengaja melihat Ferdi melintas menuju ruang HRD. Bibirnya bergetar seketika. Ia tak jadi menyantap bekal makan siangnya. Ia segera menutup kotak itu dan ingin membawanya kembali ke ruangan.
Ia berjalan dengan tergesa. Perasaan di hatinya sudah kacau. 'Aku akan segera dipecat,' pikirnya.
Lalu, siswi-siswi yang melintas dengan sengaja mendorong Queen hingga jatuh tersungkur. "Duh, ratu lagi nyungsep," ejek siswi-siswi itu. Mereka adalah para fans Ammar yang tak rela Ammar cedera karena Queen.
Gosip sudah tersebar begitu cepat. Berita tentang Queen yang jatuh menimpa Ammar sudah menjadi trending topic di sekolah ini hari ini. Foto name tag Queen pun sudah beredar di banyak chat dan menjadi bahan ledekan para siswa. Dalam sekejap Queen jadi pusat perhatian.
Queen langsung berusaha berdiri dari posisi jatuhnya. Namun, isi kotak bekal makanannya sudah terlanjur tertumpah di lantai. Butiran nasi putih dan potongan tempe yang disambal berceceran di lantai.
"Menu makan ratu siang ini sambal tempe ya ternyata, hahaha...." ledek salah satu siswi.
"Cuma nasi putih dan sambal tempe saja," ucap siswi yang lain. "Maklumlah ratu lagi diet, harus jaga makan supaya tetap cungkring... ehh, langsing maksudnya."
"Hahahahahaha...." Suara tawa mereka pecah begitu saja tanpa memikirkan perasaan Queen. Ledekan-ledekan mereka memancing siswa siswi lainnya untuk datang berkerumun.
Queen nyaris menangis, namun ia menahan air matanya. 'Aku tidak akan lemah hanya karena ejekan mereka,' batin Queen.
Queen segera membereskan makanannya yang tumpah. Namun, para siswi itu malah semakin meledeknya, "Ya ampuuunnn, jadi terharu. Nasinya sudah tumpah masih dipungutin satu-satu."
"Sayang, mubazir. Masih bisa dimakan ... sama bebek," ledek mereka dengan diiringi gelak tawa.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tiba-tiba suara seorang laki-laki membuat mereka terdiam. Queen menoleh. Ternyata itu Ferdi.
"Bel sudah berbunyi. Sudah masuk jam pelajaran. Mengapa masih berkumpul di sini?"
Seketika itu juga kerumunan para siswa itu membubarkan diri dan pergi ke kelas mereka masing-masing. Sementara itu, Queen telah selesai memungut makanannya yang tertumpah. Lantai sudah bersih. Ia menutup rapat kotak makanannya.
Ferdi memperhatikan gelagat Queen dan dalam sepersekian detik segera paham bahwa makanan Queen tumpah. "Kamu sudah makan?" tanya Ferdi.
"Saya tidak lapar, Pak," jawab Queen sambil menundukkan wajah.
"Kalo begitu ikut saya ke kantin!" ucap Ferdi.
"Ke kantin?" gumam Queen heran. "Mau apa, Pak?"
__ADS_1
"Ada yang mau saya bicarakan," jawab Ferdi.
Lalu, mereka berdua pun kini sudah di kantin. Suasana kantin sedang tidak ramai karena hampir semua siswa sudah masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti jam pelajaran. Ferdi menarik kursi sebuah meja dengan satu tangannya dan berkata pada Queen, "Duduklah!"
Sementara itu, Queen ragu untuk duduk. 'Duhh, masa' sih aku harus dipecat di kantin? Apa tidak ada tempat lain yang lebih bisa menjaga privasi?' pikir Queen. 'Kan malu. Ditonton orang-orang.'
"Duduklah!" ucap Ferdi lagi. Ia sendiri sudah duduk di hadapan kursi itu.
Queen pun akhirnya duduk dan Ferdi segera berkata, "Mau makan apa? Nanti saya yang bayar."
'Loh, kok dikasih makan dulu?' pikir Queen. Kemudian, bibirnya berkata, "Saya tidak lapar, Pak."
"Wajah kamu sudah pucat. Nanti kamu pingsan," ucap Ferdi.
'Ohh, Pak Ferdi takut saya pingsan karena shyok dipecat,' pikir Queen. 'Pantas saja menawarkan makan siang.' Tanpa sadar Queen termanggut-manggut.
"Mengapa mengangguk-angguk sendiri?" tanya Ferdi.
"Ehh... tidak apa-apa, Pak," jawab Queen.
Queen mengangguk mantap. Ferdi pun memesan semangkuk bakso dan jus alpukat. Begitu pesanan sedang disiapkan, aroma kuah bakso yang tercium sangat sedap menusuk hidung Queen dan membuat perutnya bernyanyi riuh. Queen menyesal tidak ikut memesan. 'Baunya enak sekali. Sepertinya baksonya enak,' pikir Queen sambil menelan ludah. Perutnya pun sudah melilit, ia belum makan sejak pagi.
"Pak...." Queen memberanikan membuka suara.
"Hmmh... apa?" gumam Ferdi.
"Saya mau pesan makanan juga, Pak. Makanannya sama seperti punya Bapak." Queen begitu malu mengucapkannya. Wajahnya memerah. Sedangkan, Ferdi tersenyum lucu menyadari kekonyolan Queen.
Begitu pesanan datang, Queen segera menyantapnya. Sudah cukup lama ia tak makan bakso. Perekonomian yang pas-pasan membuatnya harus banyak berhemat. Hidup irit bukan pilihan baginya, tapi adalah sebuah keharusan agar bisa bertahan hidup.
'Dia lahap sekali,' pikir Ferdi menyaksikan Queen menghabiskan bakso bahkan hingga semua kuahnya mengering. "Mau tambah?" tawar Ferdi, namun Queen menggeleng dan berkata, "Tidak, terima kasih."
'Baksonya lezat sekali,' pikir Queen. 'Sebenarnya sih ingin tambah lagi, tapiiii... aku harus tahu diri.'
"Ok, kita sudah makan. Sekarang kita bicara," ucap Ferdi dan Queen tersedak minumannya mendengar ucapan Ferdi.
__ADS_1
'Aku bahkan sampai lupa Pak Ferdi ingin memecatku karena terlalu menikmati bakso,' pikir Queen. Tiba-tiba ia kembali gelisah.
"Kamu baru dua hari bekerja, masih dalam masa percobaan. Tapi, kamu sudah punya masalah dengan Ammar." Ferdi membuka pembicaraan.
"Maafkan saya, Pak! Saya tidak bermaksud mencelakai Tuan Ammar," ucap Queen.
"Hahh... Tuan Ammar?" ucap Ferdi menahan tawa. "Sejak kapan Ammar dipanggil begitu?"
"Maaf jika sebelumnya tadi saya tidak sopan. Saya benar-benar tidak tahu jika Tuan Ammar adalah adik Bapak. Saya baru saja tahu tadi dari karyawan lainnya," ucap Queen. "Saya benar-benar tidak bermaksud mencelakainya. Semuanya murni kecelakaan, tidak disengaja. "
"Ya, saya tahu," ucap Ferdi. "Tapi, masalah ini tidak bisa selesai begitu saja. Ammar menuntut tindak lanjut masalah ini."
"Jadi, apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Queen dengan polosnya.
"Minta maaflah pada Ammar!"
"Tapi, Pak...." ucap Queen segera. "Di kejadian pertama tadi pagi saya sudah minta maaf. Saya berkali-kali minta maaf, tapi dia tidak menggubrisnya. Dia tetap marah pada saya."
"Ya, kalo begitu minta maaflah lagi sampai dia mau," ucap Ferdi dengan entengnya.
Sementara itu, di dalam hati Queen berkata, 'Ya ampuuunnn, kakak sama adik sama-sama tidak ada yang mau mengerti posisiku. Pak Ferdi secara tidak langsung sama saja menyuruhku mengemis maaf dari adiknya yang songong itu.'
'Adiknya kan juga salah,' ucap Queen dalam hati dengan cukup kesal. Namun, ia tak mungkin mengatakannya secara langsung pada Ferdi. Ia hanya bisa tersenyum kaku.
"Cobalah minta maaf! Ammar anak yang sangat baik, dia bukan tipe pendendam. Dia hanya masih kesal dan belum dewasa," ucap Ferdi. "Jika dia memaafkanmu, aku tak perlu memecatmu."
"Heheh, iya," gumam Queen lirih. Dalam hati kecilnya ia berkata, 'Mengapa aku harus mengemis maaf dari bocah ingusan hanya untuk mempertahankan pekerjaan ini? Benar-benar menyedihkan.'
Sementara itu, diam-diam di kelas Cindy membuka chat obrolan grup kelas yang sejak tadi terus berisik bergetar mengganggunya. Dan betapa terkejutnya dia ketika membuka sebuah foto yang dikirimkan ke grup itu. Cindy mendadak mengangkat tangannya dan berkata, "Bu, saya permisi ke toilet."
Cindy pun bergegas keluar dari kelas, tapi ia bukan menuju ke toilet. Ia menuju ke kantin. Ia ingin memastikan gambar yang baru saja dilihatnya di grup itu benar. Dia melihat di foto itu Queen dan Ferdi sedang makan siang berdua di kantin.
Cindy mempercepat langkahnya untuk bisa segera sampai di kantin. Lalu, langkahnya terhenti. Dari jauh dia menyaksikan pemandangan yang sama dengan yang ia lihat di foto. Queen dan Ferdi duduk berdua di satu meja yang sama dan tampak asik bicara. Cindy menatap mereka berdua dari jauh. Ia mengangkat dagunya untuk menyembunyikan emosinya yang memuncak.
Sementara itu, di dalam kelas Ammar juga penasaran dengan ponselnya yang terus bergetar. Ia membuka chatnya dan melihat foto Queen dan Ferdi makan siang bersama. Tulisan di bawah foto itu 'Makan siang gratis mbak Ratu bersama Pangeran Ferdi, hahahaha.'
__ADS_1