Jatuh Tertimpa Cinta

Jatuh Tertimpa Cinta
Dansa Yo Dansa


__ADS_3

Ferdi berdiri di teras balkon kamarnya, menikmati udara malam dengan secangkir kopi di tangannya. Kemudian, entah mengapa pembicaraannya dengan Kepala Bagian HRD tadi siang melintas di pikirannya.


'Mengapa Bapak meminta saya memecat Queen? Saya harus punya alasan yang jelas dan profesional dalam memecat karyawan,' ucap Pak Iskandar, Kepala Bagian HRD.


'Dia sedikit ceroboh,' jawab Ferdi. 'Kita harus punya pegawai yang lebih baik.'


'Queen adalah kandidat terbaik di antara pelamar lowongan office girl. Makanya, dia diterima di sini. Mengapa Bapak tidak memberikan kesempatan terlebih dulu padanya? Dia baru dua hari bekerja dan masih dalam masa percobaan. Mungkin dia perlu beradaptasi,' ucap Pak Iskandar.


'Mengapa Bapak sepertinya begitu memihak Queen?' Ferdi balik bertanya.


'Dia karyawan yang rajin, Pak. Inisiatif dan daya nalarnya tinggi. Lagipula, dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya sudah melakukan wawancara kerja padanya. Dia harus bekerja untuk makan sehari-hari dan menyekolahkan adiknya.'


'Dia yatim piatu,' tambah Pak Iskandar dan kalimat itu membuat mata Ferdi segera tertuju pada Pak Iskandar.


'Bagaimana jika kita lihat dulu perkembangannya dalam satu bulan ini? Tak perlu langsung memecatnya. Jika memang kinerjanya dalam satu bulan ini jelek, saya tidak akan meneruskan masa trainingnya lagi. Saya akan mencari karyawan lain untuk menggantinya,' ucap Pak Iskandar dan akhirnya Ferdi pun menyetujuinya tanpa banyak berkomentar.


Ia sudah cukup terdiam ketika mengetahui bahwa Queen adalah gadis yatim piatu. Empatinya muncul tiba-tiba bukan tanpa sebab. Hal ini karena ia terkenang dengan nasibnya dulu.


Delapan belas tahun lalu Ferdi bukanlah anak dari konglomerat Budi Pratama, ayah kandung Ammar. Saat itu ia hanya balita yang hidup di panti asuhan tanpa tahu siapa sebenarnya orang tua kandungnya.


Ayah dan ibu Ammar yang sering berkunjung ke panti asuhan untuk memberikan sumbangan merasa tersentuh dan iba dengan keluguan Ferdi. Lalu, nasib keberuntungan membuat Ferdi diangkat menjadi anak oleh pasangan konglomerat itu. Sehingga, kini ia bisa berada di posisi saat ini dengan segala kemewahan hidup yang menemaninya.


"Glekk." Ferdi menelan tegukan terakhir dari cangkir kopinya.


'Aku harus bicara pada Ammar,' pikirnya.


Lalu, tiba-tiba Ammar muncul di balkon kamarnya yang bersebelahan dengan balkon kamar Ferdi. Ia memandang langit dan hanya terdiam.


"Kamu belum tidur?" Ferdi membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Angin malam lebih menentramkan daripada udara AC. Aku ingin menikmatinya untuk bisa melupakan kekecewaanku," ucap Ammar.


"Kecewa kenapa?" tanya Ferdi tak mengerti.


"Entahlah, Kak. Aku tak bisa tidur karena ternyata Kakak tidak memecat office girl itu." Ammar memicingkan matanya.


"Hahh...." desah Ferdi sambil berkacak pinggang. "Alasanmu terlalu mengada-ada. Sebenarnya apa yang mau kamu katakan?" Ferdi tersenyum menatap adiknya yang sedikit manja padanya itu.


"Bukan memecatnya, Kakak malah makan siang dengannya," gumam Ammar.


"Ooohhh... Ternyata aku sudah tertangkap paparazzi dan jadi bintang highlight akun gosip kelasmu." Ferdi terangguk-angguk.


"Kakak tertarik padanya?" tanya Ammar tiba-tiba membuat mata Ferdi segera menuju Ammar. Ia tersenyum dan hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Terlalu cepat kamu menyimpulkan, Ammar," ucapnya kemudian.


"Yaah, mau bagaimana lagi? Faktanya kakakku yang tidak pernah berkencan dengan gadis manapun ini, tiba-tiba makan siang bersama si gadis office girl." Ammar menatap kakaknya, seolah ingin menangkap ekspresi wajah kakaknya yang ternyata datar dan biasa-biasa saja.


"Dia membuatku banyak menderita kerugian," ucap Ammar. "Lihatlah kakiku ini! Aku tidak bisa tampil main bola besok," gerutunya.


Ferdi mengerti kekecewaan Ammar. Ia begitu menyukai sepak bola dan sudah latihan berminggu-minggu untuk turnamen bola kaki antarsekolah ini. Namun, semua persiapannya menjadi sia-sia dan membuat tim sepak bolanya terancam gagal memenangkan turnamen. Hal ini karena Ammar adalah pemain unggulan dalam tim sepak bolanya. Posisi Ammar di dalam tim sangat menentukan kemenangan sekolahnya dalam turnamen kali ini.


"Hmmmhh...." Ferdi menghela nafasnya lalu berkata, "Mungkin Tuhan punya rencana lain. Semua ini murni kecelakaan. Gadis itu tidak bermaksud menyakitimu."


"Hoah lihatlah! Kakakku sangat berusaha membela gadisnya," gerutu Ammar.


"Kakak tidak berusaha membelanya. Kakak hanya ingin bersikap adil dan profesional dalam memecat karyawan," ucap Ferdi. "Dia hanya office girl yang sangat bergantung dengan pekerjaan ini. Untuk apa kakak memecatnya hanya karena urusan pribadi?"


"Karena kamu adalah anak pemilik sekolah ini, jadi kita bisa berbuat semena-mena padanya. Itu yang nanti orang pikirkan dan katakan," ucap Ferdi lagi. "Jangan egois dan kekanak-kanakan! Kita harus menjaga nama dan reputasi sekolah, Ammar."

__ADS_1


"Huhhh...." Ammar mendenguskan nafasnya sebagai tanda tidak puas dengan sikap kakaknya. Lalu, ia berbalik dan melangkahkan kakinya meninggalkan balkon. Ia masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Ferdi sendirian yang masih terpaku di tempatnya.


"Menyebalkan." Ammar mengumpat saat menutup pintu kamarnya yang menuju balkon.


Dengan tertatih ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Lalu, ia menghempaskan tubuhnya seketika di atas kasur tebal empuknya. Dalam sekejap Ammar pun tertidur.


****


"Aaaaaaaaaaa... aaaaaagh!"


Ammar melihat ekspresi Queen yang nyaris jatuh menimpa dirinya. Lalu, dalam sekejap ia menangkap tubuh Queen hingga jatuh dalam pangkuannya. Mata mereka saling bertemu dan bibir mereka sama-sama terkunci rapat. Mereka terdiam, namun terdengar sesuatu di antara mereka.


Suara itu makin lama makin terdengar. Itu suara degup jantung yang berlarian. Makin lama makin kencang dan makin terdengar jelas.


"Hakhhh!" Ammar spontan bangkit dari tidurnya. Ia meraba kedua pipinya. "Hohh... hanya mimpi," gumamnya.


Lalu, ia menyentuh dadanya. "Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!" Jantung Ammar benar-benar berdegup kencang seperti dalam mimpinya.


"Hohh... mengapa aku tiba-tiba bermimpi ini?" gerutunya.


Sementara itu, di saat yang sama Queen juga sedang bermimpi. Queen merasa sedang berada di sebuah pesta dan irama saxophone yang sangat lembut mengalun dengan indahnya. Beberapa pasangan berdansa dan tiba-tiba mata Queen tertuju pada pria tampan yang berada di seberangnya.


Itu Ferdi, dia sangat tampan mengenakan setelan jas yang begitu rapi. Lalu, ia tersenyum dan menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Queen untuk mengajak berdansa. Queen tersenyum tersipu malu. Penampilannya hari ini sangat menawan. Ia menggunakan gaun yang sangat lembut dan aksesoris begitu indah.


Ferdi melangkahkan kakinya mendekati Queen. Dua langkah lagi Ferdi hampir sampai di hadapannya, tiba-tiba seseorang menarik tangan Queen. Queen terkejut dan melotot, orang yang menarik tangannya itu adalah Ammar.


Tiba-tiba musik yang sangat lembut berubah menjadi alunan musik salsa. Ammar segera menggerakkan badannya, menari salsa. Dan, ia menarik tangan Queen untuk mengikuti gerakannya. Seketika Queen terhempas ke kanan dan ke kiri. Queen begitu tidak menginginkan tarian ini, namun Ammar terus menari bak penari profesional. Kaki Queen terkilir. Hak sepatunya patah. Dan, pada akhirnya tubuh Queen terhempas, terjatuh. Queen tersungkur di lantai. Sedangkan, Ammar menyeringai dengan sinisnya.


"Aaaaaarrrgghh...!!!!" Tanpa sadar Queen berteriak dan bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Keterlaluaaaaannn!" umpat Queen. "Dalam mimpi pun bocah tengil itu begitu menyebalkan," ucap Queen begitu kesal.


__ADS_2