Jatuh Tertimpa Cinta

Jatuh Tertimpa Cinta
Nomor Ponsel


__ADS_3

Queen masih tercengang dengan pemandangan di depan matanya. 'Bocah aneh,' pikir Queen.


"Untuk apa kamu pakai kursi roda?" tanya Queen. "Kamu ingin mendramatisir keadaan seolah-olah terluka parah karena kejadian tidak disengaja kemarin?"


Ammar menoleh dan menggerakkan kursi rodanya menghadap Queen. "Kakiku masih sakit," ucap Ammar dengan tenang. "Kursi roda membuatku lebih mudah untuk bergerak. Aku bebas ingin menggunakan kursi roda. Kamu tidak bisa melarangku ataupun mengomentariku. Ini pilihanku dan ini hakku," ucap Ammar.


"Hiiikhh...." Queen menahan kegeraman dalam hatinya. Baginya Ammar benar-benar sengaja ingin membuat dirinya terlihat begitu menderita karena kejadian kemarin. Padahal, cedera yang dialaminya tidaklah seberapa. Kemarin saja dia masih bisa menyetir mobil sendiri. Tapi, hari ini ia diantar oleh seorang sopir yang menyiratkan seolah ia sedang tak bisa menyetir sendiri karena sakit di kakinya.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya Queen cukup kesal.


"Kamu tidak dipecat. Tapi, sebagai gantinya kamu harus bertanggung jawab," ucap Ammar.


'Hahh! Aku tidak dipecat,' batin Queen ketika mendengar perkataan Ammar.


Kemudian, Queen berkata, "Langsung saja pada intinya! Sebenarnya ganti rugi apa? Tanggung jawab apa yang kamu inginkan dariku?" Queen tak suka bertele-tele.


"Karena kamu sudah membuat aku cedera, kamu harus membantuku, melayaniku di sekolah sampai cederaku sembuh," tandas Ammar. "Kau lihat! Aku kesulitan berjalan."


"Hahh?" Queen tak habis pikir dengan permintaan Ammar. "Aku bukan pengasuhmu. Sewa saja perawat untuk membantumu! Bukankah kamu punya banyak uang?"


"Baik, aku akan menyewa perawat," ucap Ammar. "Tapi, karena kamu harus bertanggung jawab, berarti kamu yang harus menanggung pembayaran gaji perawat itu,"


Mata Queen seketika membola. 'Ammar benar-benar licik,' pikirnya. Ia membuat Queen tak memiliki pilihan lain. Dengan mudahnya ia menyerang sisi kelemahan Queen, yakni perekonomian. Queen mana punya uang untuk membayar perawat dan Ammar sangat paham hal itu.


Akhirnya, Queen terpaksa berkata, "Baiklah."


"Tapi, hanya sampai kakimu sembuh," lanjut Queen. Ia pikir luka Ammar tidaklah terlalu serius, dalam beberapa hari pasti akan sembuh. Itu artinya ia hanya harus bisa bertahan selama beberapa hari untuk menghadapi Ammar yang baginya sangat menyebalkan. 'Aku pasti bisa melakukannya,' batin Queen.


'Jika memang itu yang harus aku lakukan untuk mengakhiri semua permasalahan ini, maka aku akan melakukannya,' batin Queen lagi.


"Okee... utk tugas pertama, bawakan tasku!" perintah Ammar. "Aku merasa tidak nyaman jika harus membawanya bersamaku di atas kursi roda ini."


'Hehh, permintaan yang dibuat-buat,' pikir Queen.


"Mana tasmu?" tanya Queen kemudian. Lalu, dengan sigap sopir Ammar memberikan sebuah tas yang begitu enteng pada Queen.


Queen sampai terheran. 'Tasnya besar, tapi enteng seperti tidak ada isi. Sebenarnya dia ke sekolah membawa buku atau tidak sih?' pikir Queen.

__ADS_1


'Anak sultan ini sepertinya tidak benar-benar serius belajar. Ke sekolah hanya untuk bergaya dan memamerkan kehebatan,' umpat Queen dalam hatinya.


"Tugas kedua... Dorong kursi rodaku sampai ke kelas!" Perintah dari Ammar membuat Queen berhenti mengumpat.


Queen pun meraih kursi roda. Dalam hatinya ia berkata, 'Kamu memberikan perintah yang salah padaku.'


Queen pun segera mendorong kursi roda itu dengan cepat. Ammar terkejut dan berkali-kali tersentak dengan dorongan Queen. "Hei, pelankan! Hati-hati!" teriak Ammar, namun Queen malah semakin mempercepat dorongannya.


"Kamu harus cepat sampai ke kelas supaya tidak terlambat," ucap Queen penuh kemenangan. Ia benar-benar sengaja melakukannya. Ia bahkan tak memperlambat dorongannya ketika posisi menanjak dan menurun.


"Hentikan! Hentikan! Hentikan!" teriak Ammar ketika di hadapannya terlihat beberapa anak tangga menurun. Namun, Queen tetap mendorongnya hingga, " Dreekkk! Drekkk! Dreekkk! Drekkkkk!" Kursi roda Ammar berkali-kali membentur anak tangga dan tubuh Ammar terhentak.


Kursi roda terhenti. Ammar segera bangkit dan menatap Queen penuh amarah. "Kamu sengaja ingin mencelakaiku," ucapnya kesal.


Siswa-siswi di sekitar mereka mendadak terdiam dan melongo. Queen kemudian berkata, "Kamu sudah bisa berdiri lagi?"


"Berarti kamu sudah sembuh. Tugasku selesai ya," ucap Queen.


"Hahh, tidak segampang itu. Enak saja kamu mau lari dari tanggung jawab," ucap Ammar.


'Sepertinya kamu mau bermain-main denganku, ya,' batin Ammar. 'Aku akan ladeni kamu.'


Queen diam dan memendam perasaan kesalnya pada Ammar yang dinilainya sebagai bocah songong dan tak tahu sopan santun.


"Semoga kamu cukup pintar dalam mencerna ucapanku," sindir Ammar lalu ia menjalankan kursi rodanya sendiri menuju kelas yang berada sudah tak jauh dari hadapannya.


Sementara itu, Queen selama hampir satu menit tertegun kemudian segera tersadar bahwa tas Ammar masih berada di tangannya. Queen pun bergegas menyusul Ammar ke dalam kelas dan meletakkan tas Ammar di atas mejanya.


"Jam istirahat ... temui aku di sini segera untuk tugas berikutnya," ucap Ammar dengan sinis dan Queen hanya diam, tak menjawab apapun. Lalu, ia pergi meninggalkan kelas.


Queen mulai kembali mengerjakan tugas-tugasnya sebagai office girl. Karena ia tak jadi dipecat, maka ia memutuskan untuk kembali bekerja. Ia kembali sibuk dengan rutinitasnya membersihkan sekolah. Hingga bel istirahat berbunyi ia masih saja sibuk dan lupa untuk segera menemui Ammar.


Tiba-tiba terdengar suara merdu resepsionis membahana di segala penjuru sekolah. "Perhatian! Pengumuman... Kepada office girl bernama Queensha Gizela, diharapkan untuk segera menuju ruang kelas 12 IPA 1."


"Kepada office girl bernama Queensha Gizela, diharapkan segera menuju ruang kelas 12 IPA 1." Suara itu terdengar berkali-kali hingga Queen tersadar bahwa pengumuman itu ditujukan untuknya. Queen pun bergegas meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai dan pergi menemui Ammar.


"Hekh... akhirnya kamu datang juga," ucap Ammar sambil menyilangkan tangannya di pinggang tanpa beranjak dari kursi rodanya.

__ADS_1


"Untuk apa memanggilku ke sini?" tanya Queen dengan cukup kesal.


Ammar tak langsung menjawab. Ia malah mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


"Halo.... Ya... Sudah... Dia sudah datang... Cukup! ... Terima kasih...."


Lalu, ia menutup teleponnya dan Queen segera mengerti. 'Pasti ia menelepon resepsionis,' pikir Queen.


"Berikan nomor ponselmu!" ucap Ammar kemudian setelah menutup pembicaraan teleponnya.


"Untuk apa?" tanya Queen segera.


"Jangan ge-er!" ucap Ammar ketika melihat ekspresi Queen. "Aku minta nomor ponselmu agar bisa mudah menghubungimu jika aku ingin memerintahmu."


'Ciihh, memerintahku!?' umpat Queen di dalam hati.


"Cepat berikan padaku!"


Queen pun terpaksa memberikan nomor ponselnya pada Ammar dan Ammar berkata, "Kamu pikir kamu bisa melarikan diri begitu saja? Sengaja tidak menemuiku ya supaya aku tidak bisa memerintahmu?"


"Aku ini office girl. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, bukan tanggung jawabku untuk meladenimu. Pekerjaanku masih menumpuk." Queen berkata dengan cukup kesal.


"Hahh... dasar kamu saja yang lelet bekerja. Sudah berjam-jam sejak tadi, pekerjaan belum selesai."


"Hiiiikhhhh...." Queen makin kesal pada Ammar yang malah mengatakan dirinya lelet. "Dengar ya! Bukan tanggung jawabku meladenimu. Mengapa kamu begitu ingin merepotkanku?"


"Kamu bilang bukan tanggung jawabmu? Kamu mau lari dari tanggung jawab. Kamu sadar kan... aku jadi begini karena kamu, kamu harus bertanggung jawab." Ammar tak mau kalah.


"Haaaaahhhh...." Queen berusaha mengatur nafasnya untuk memendam kekesalan. 'Bocah ini memang menyebalkan,' pikir Queen. 'Dia sengaja mempersulitku.'


'Tenang Queen, sabar! Ini hanya akan terjadi beberapa hari. Kamu harus sabar! Kamu pasti bisa melaluinya,' ucap Queen dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian, Queen berkata, "Jadi, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Mengapa memanggilku ke sini?"


Ammar menepukkan kedua tangannya dan berkata, "Pertanyaan bagus."


"Aku haus. Belikan aku jus alpukat di kantin!" Ammar menyodorkan selembar uang hijau.

__ADS_1


'Hehh, dia bahkan tidak mengucapkan kata tolong,' umpat Queen dalam hatinya. Lalu, ia mengambil uang itu dan pergi meninggalkan kelas tanpa berkata apapun. Sementara itu, Ammar tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2