
Cindy pergi memasuki toilet. Ia membanting pintunya dengan keras. Lalu, ia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya di cermin sambil berkata, "Aku tidak akan tinggal diam."
"Bisa-bisanya si ratu KW makan siang dengan Kak Ferdi," ucapnya geram. "Aku akan membuatnya pergi dari sekolah ini."
Lalu, tiba-tiba, "Krekk!" Salah satu pintu toilet di belakang Cindy terbuka. Venita, si gadis gempal, keluar dengan santainya dari pintu itu dan berjalan menuju ke luar ruang toilet.
Cindy cukup terkejut dengan kehadiran Venita, dia pikir tadi tidak ada orang di ruang itu, hanya dia sendiri. Nyatanya, Venita sejak tadi ada di dalam salah satu toilet yang berjajar di belakangnya. 'Mungkinkah dia mengerti maksud ucapanku tadi?' pikir Cindy.
'Hahhh....' Cindy menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Dia pasti tidak paham,' ucap Cindy dalam hatinya. 'Venita cuma gadis gendut yang isi pikirannya selalu hanya makanan. IQ-nya tidak akan bisa menalar ucapanku,' pikirnya.
****
"Teeetttttttt...!"
"Haahhh, akhirnya bel pulang berbunyi juga," ucap Queen. Ia bergegas menuju kelas Ammar dan berdiri di depan pintunya.
Queen menunggu Ammar keluar dari kelas dengan harap-harap cemas. Ia ingin minta maaf pada Ammar.
"Eehhh...." Queen terkejut karena Ammar keluar dari kelas dan telah berjalan melewatinya.
"Tunggu! Tunggu!" ucap Queen. Namun, Ammar tak mengetahui bahwa Queen memanggilnya.
"Tuan Ammar tunggu!" ucap Queen dengan lantang, membuat siswa-siswi di sekitarnya segera menoleh dan terdiam.
'Tuan Ammar?' batin beberapa siswa-siswi. 'Terdengar aneh.'
Ammar pun segera menoleh. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat Queen bergegas berjalan menyusulnya.
"Saya ingin minta maaf, Tuan," ucap Queen sambil terengah.
Ammar menyeringai dan Queen sebenarnya tidak suka dengan ekspresi itu. Walaupun, siswi-siswi lain berpikir, 'Haahhh... senyumnya manis sekali.'
'Menggoda. Aku bisa pingsan jika terus melihat senyumnya.' pikir siswi lainnya.
Sedangkan, Queen malah berpikir, 'Heehh... senyumnya mengerikan. Dia pasti ingin mengerjaiku dan tak mau menerima permintaan maafku.'
"Mengapa memanggilku dengan sebutan tuan?" tanya Ammar.
__ADS_1
"Maaf kalo saya tadi pagi tidak sopan memanggil Anda. Saya baru tahu kalo Tuan adalah anak pemilik sekolah ini," ucap Queen.
"Ooohh," gumam Ammar sambil memainkan alisnya.
"Maafkan saya, Tuan Ammar."
"Hekh... jadi, setelah tahu identitasku kamu jadi bersikap baik padaku karena tak mau kehilangan pekerjaan," ucap Ammar sinis.
Queen hanya menundukkan kepalanya. Lalu, Ammar berkata, "Penjilat."
Queen spontan mengangkat wajahnya. Matanya nyaris terloncat karena tak terima dengan ucapan Ammar. Di depan banyak siswa Ammar menghinanya dan beberapa siswi tampak tersenyum merendahkan. "Kamu benar-benar keterlaluan," ucap Queen. "Saya tidak serendah yang kamu bayangkan. Saya punya harga diri."
"Mungkin sekarang kamu punya kekuasaan dan segalanya. Tapi kamu tidak punya hati untuk bisa menghargai orang. Sopan santun kamu nol," ucap Queen lalu segera pergi meninggalkan Ammar yang berdiri mematung di antara siswa-siswi lainnya.
Queen tidak peduli lagi dengan kelangsungan pekerjaannya di sekolah ini. Ia tak mau mengemis maaf dari anak ingusan belagu seperti Ammar. 'Pekerjaan bisa dicari, tapi harga diri harga mati,' pikir Queen.
Ia bergegas kembali menuju ruangan peralatan. Queen membuka loker dan segera mengambil tasnya di sana. Ia memutuskan untuk segera pulang, meskipun seharusnya ia belum boleh pulang karena harus membereskan ruang-ruang kelas terlebih dulu.
Queen bergegas meninggalkan sekolah. Ia berjalan keluar dari gerbang dan menyeberang jalan. Di sana ia menunggu bus yang menuju ke arah rumahnya menghampiri. Begitu bus datang, Queen langsung menaikinya dan tidak tersisa satu pun tempat duduk lagi di dalamnya.
Queen terpaksa berdiri. Lalu, saat bus berhenti di halte berikutnya, puluhan penumpang baru masuk ke dalam bus itu. Sehingga, bus jadi penuh sesak dan Queen terpaksa berdiri terhimpit ke pinggir dinding kaca bus.
Tiba-tiba ucapan Queen tadi terngiang di telinganya, 'Mungkin sekarang kamu punya kekuasaan dan segalanya. Tapi kamu tidak punya hati untuk bisa menghargai orang. Sopan santun kamu nol.'
"Beraninya dia bicara begitu padaku," gumam Ammar.
Lalu, bus kembali berjalan karena lampu lalu-lintas sudah hijau. Ammar pun kembali menjalankan mobilnya searah dengan bus itu. Tak lama kemudian bus merapat ke pinggir jalan dan ternyata Queen turun di sana. Ammar melihatnya turun dari bus.
Queen kemudian masuk ke jalan kampung yang ada di depannya dengan berjalan kaki. Dan, entah mengapa Ammar penasaran dimana tempat tinggal Queen. Ammar pun tiba-tiba membelokkan mobilnya menuju jalan yang Queen masuki.
Ammar menggiring Queen dari belakang tanpa Queen sadari. "Sebenarnya untuk apa aku membuntutinya?" gumam Ammar bertanya pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin memuaskan rasa penasarannya saja. Ia ingin tahu seperti apa sebenarnya gadis yang sudah berani berkata tidak sopan padanya di depan banyak orang yang selama ini selalu menghormati dan mengelu-elukannya.
Kemudian, langkah Queen terhenti. Ia menundukkan badannya, memungut sesuatu di jalan. Ammar merapatkan mobilnya ke pinggir jalan dan memperhatikan gerak-gerik Queen.
Ternyata Queen memungut seekor anak kucing yang tampak pincang dan terluka di pinggir jalan. Ia mengelus-elus kepalanya. Sepertinya kucing itu telah diserempet oleh kendaraan. Queen lalu membawa anak kucing itu bersamanya.
Kemudian ia kembali berjalan. Cukup jauh ia berjalan hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah rumah papan usang. Queen kemudian melangkahkan kakinya di halaman rumah itu lalu membuka pintunya.
__ADS_1
"Jadi, di sini rumahnya," gumam Ammar sambil memperhatikan rumah Queen dari dalam mobilnya. Rumah itu terlihat tua dan halamannya dipenuhi dengan banyak pohon.
'Cukup jauh juga dia berjalan kaki dari depan jalan tadi,' pikir Ammar. 'Mengapa dia tidak naik ojek?'
Queen memang setiap hari jalan kaki dan tidak naik ojek. Ia harus berhemat untuk bisa mencukupi kebutuhannya.
Setelah puas menatap rumah Queen, Ammar pun mulai ingin menjalankan mobilnya kembali. Namun, tiba-tiba, "Huaahh!"
Ammar terloncat kaget. Queen mengetuk kaca samping mobilnya. Entah sejak kapan Queen sudah berdiri di sana. Ammar membuka kaca mobilnya dan segera berkata dengan kesal, "Kamu bisa membuat jantungku copot."
"Untuk apa kamu mengikutiku sejak tadi?" Pertanyaan Queen begitu menohok Ammar.
"Aku hanya tak sengaja lewat dan melihatmu. Ini jalan umum, siapapun boleh lewat," kilah Ammar.
"Kamu pasti punya niat buruk padaku," ucap Queen.
"Hoahh... Ge-er sekali," ucap Ammar dengan geram. "Tidak penting bagiku untuk berurusan denganmu."
"Baguslah," ucap Queen. "Segera pergi dari sini!"
"Heehh, tidak ada yang bisa mengusirku. Aku akan pergi jika hanya aku mau," ucap Ammar dengan penuh harga diri tinggi.
"Eeehh, si Queen... siapa ini Queen?" Bik Janet -tetangga Queen yang bibirnya bak ember bocor- mendadak lewat depan rumah Queen dan ikut nimbrung obrolan Queen dan Ammar.
Queen hanya diam saja, tak mau meladeni bik Janet yang pasti akan menyebarkan apa saja yang dilihatnya. Ia seperti surat kabar kampung. Pembawa acara gosip mungkin adalah profesi impiannya.
"Kejadian langka nih kamu didatangi cowok. Pasti pacarnya ya." Bik Janet asal bicara, membuat mata Ammar dan Queen terbelalak mendadak.
"Bukan, Bik," ucap Queen segera. "Ini anak masih bocah, masih SMA. Bukan pacarku."
"Ahh, kamu malu-malu," ucap Bik Janet sambil terkekeh. "Pantas saja tidak pernah mau punya pacar. Jomblo abadi dari lahir. Ternyata seleranya ... hmmh... bruw-won-dwong."
"Hehh...." Ammar menarik nafas panjang melihat tingkah tetangga Queen yang benar-benar sok tahu.
"Bukan, Bik, Bukan," ucap Queen berkali-kali sambil mendorong tubuh Bik Janet agar segera pergi menjauh.
"Kalo iya juga tidak apa-apa," ucap Bik Janet yang masih saja melirik-lirik Ammar.
__ADS_1
Ammar menggeleng-geleng lalu segera masuk ke mobilnya. Sementara itu, Bik Janet masih saja berkata, "Brondong, brondong, brondong...." Berkali-kali ia berkata seperti itu hingga mobil Ammar meninggalkan mereka.