Jatuh Tertimpa Cinta

Jatuh Tertimpa Cinta
Sapu Tangan Biru Muda


__ADS_3

Queen kaget dengan kehadiran seorang wanita di sampingnya. Rambutnya tergerai begitu lembut dan kulit empuknya berkilau seperti mutiara. Cahaya matahari yang masuk melalui pintu toilet menerpa tubuhnya, membuat ia seperti patung seorang dewi yang bersinar di hadapan Queen. Mulut Queen ternganga seketika.


Wanita itu adalah Ibu Melan, guru termuda di sekolah ini sekaligus guru tercantik nan modis yang menjadi idola para siswa. Queen sendiri pertama kali melihat Ibu Melan langsung merasa takjub dan berpikir bidadari itu nyata.


"Lihatlah! Kamu tampak kacau sekali," ucapnya sambil melirik cermin lebar di hadapan Queen.


Queen menoleh pada cermin toilet di depannya. Queen baru menyadari tampangnya yang begitu acak-acakan. Jilbabnya yang sudah miring ke kiri dan ke kanan membuat poni rambutnya muncul keluar. Matanya sembab dan layu, serta lelehan air muncul di bawah hidungnya.


"Cepat hapus air matamu!" Bu Melan kembali mengulurkan sapu tangannya.


Queen pun meraih sapu tangan itu dan menghapus air matanya. Ia juga tak lupa menghapus lelehan air di bawah lubang hidungnya. Seketika itu juga dahi Ibu Melan yang licin berkerut karena melihat tingkah Queen yang baginya cukup menjijikkan.


'Hiii...iiikhhh... ingusnya juga ikutan dilap pake sapu tangan ituuuu,' batin Ibu Melan yang merasa sedikit menyesal memberikan sapu tangan pada Queen.


Sedangkan, Queen serasa tanpa bersalah sedikitpun segera berkata, "Ini, Bu. Terima kasih banyak sapu tangannya." Ia menyodorkan sapu tangan itu.


"Simpanlah untuk kamu saja!" ucap Ibu Melan dengan lembut. Lalu, ia berjalan ke arah wastafel dan mencuci jari-jarinya yang runcing memanjang. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah lipstik dari dompetnya dan membalurkan lipstik berwarna nude itu di bibirnya yang penuh.


Queen sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Ibu Melan dalam diam. Bayangan wajah Queen di kaca sangat kontras dengan wajah Ibu Melan yang nampak begitu segar dan terawat. Ibu Melan pun menyadari sejak tadi Queen terus memperhatikannya lalu ia tersenyum dan bertanya, "Mengapa?"


"Kamu juga mau pakai lipstik?" Ia menawarkan lipstik di tangannya pada Queen.


"Eeehhh... tidak, tidak, tidak, Bu." Queen langsung menolak. Dia tidak menginginkan lipstik Ibu Melan, sebenarnya ia sedang terkesima dengan penampilan Ibu Melan yang baginya selalu 'wuaww', memukau.


'Ibu Melan sempurna sekali. Pasti sangat senang jadi Ibu Melan. Hidupnya pasti sangat bahagia,' batin Queen.

__ADS_1


"Mengapa kamu bengong dari tadi?" tanya Ibu Melan lagi.


"Hmmmh... Ibu cantik sekali. Mengapa Ibu memilih jadi guru? Kalo jadi artis, Ibu bisa jadi ratu sinetron," ucap Queen segera.


Ibu Melan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ekspresinya sangat manis sekali membuat Queen semakin terkagum-kagum.


"Saya tidak tertarik," ucapnya mantap kemudian ia pergi meninggalkan toilet.


Sementara itu, Queen menatap cermin dan berkata dalam hatinya, 'Aku saja dengan wajah pas-pasan ini mau sekali kalo ada kesempatan jadi artis. Bisa terkenal, punya banyak uang.'


'Tapi, Ibu Melan malah tidak tertarik. Dia sudah kaya sejak lahir sih ... jadi tidak bermimpi ingin punya banyak uang. Uang pasti malah selalu mengikutinya kemana pun ia pergi,' celoteh Queen dalam hati sambil sibuk mengelap permukaan wastafel hingga mengkilat.


Sementara itu, di dalam kelas sejak tadi Ammar tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya melayang pada sosok Queen yang ia pikir tak seharusnya mendapat perlakuan seperti tadi. Ia merasa tak enak hati karena yang membuat Queen meninggalkan tugasnya begitu saja adalah dirinya. Seharusnya Queen tak mendapat teguran yang memojokkan seperti disaksikannya tadi.


Entah mengapa Ammar tak merasa bahagia melihat orang yang sudah mencelakainya itu tersudutkan. Sedangkan, Cindy tampaknya begitu senang menikmati kemenangannya.


"Ammar!" panggil Bu Wita lagi dan Ammar hanya bengong dengan tatapan kosong.


"Ammmmmaaaarrrrrrrrrrrghr!" ucap Bu Wita dengan nada tone paling tinggi, membuat beberapa siswa menutup telinga karena tak sanggup mendengar suara Bu Wita yang bak penyanyi seriousa.


"Hahhh!!" Ammar terkaget. "Hahhh, iya apa, Bu?"


Bu Wita menggeleng-gelengkan kepalanya seperti robot dengan bibir ikan mujairnya yang tampak menonjolkan ekspresi geram. "Kamu, cuci muka!" perintah Bu Wita segera.


"Eh, iya, Bu." Ammar segera mengangguk. Ia paham betul bahwa Bu Wita adalah guru yang tak mau dibantah. Jika tidak segera dituruti, maka omelannya yang panjang melebihi kereta api bisa mengalun di telinga siswa-siswanya hingga jam pelajaran berakhir. Tak akan ada yang bisa menghentikannya, kecuali bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi.

__ADS_1


"Tidak ada siswa yang boleh melamun dan mengantuk di kelas saya," tegas Bu Wita sambil membenarkan posisi kaca mata nyentriknya.


Ammar pun segera menjalankan kursi rodanya melewati meja-meja siswa lainnya. Bu Wita sedikit kepo dengan alasan Ammar memakai kursi roda hari ini.


"Kaki kamu terkilir?" tanya Bu Wita.


"Iya, kaki saya sedang cedera, Bu," jawab Ammar.


"Karena main bola?" tanyanya lagi.


"Bukan," jawab Ammar. "Kemarin ada sedikit insiden... kecelakaan...."


"Kecelakaan?" Bu Wita sedikit terkejut. "Kamu ditabrak orang? Motor atau mobil?"


"Becak, Bu," celetuk Cindy dan seketika tawa siswa pecah di kelas Ammar. Semua siswa tahu dan mengerti ucapan Cindy adalah hinaan untuk Queen. Karena itulah, mereka tertawa.


"Bukan, Bu," ucap Ammar tanpa tawa sedikit pun. "Kaki saya tertimpa tangga kemarin." Ammar tak sedikitpun menyangkutpautkan Queen dalam jawaban yang ia berikan pada Bu Wita. Entah mengapa ia tidak ingin Queen semakin dibully.


"Ooohhh... Ya, sudah. Cepat cuci muka kamu!"


Ammar pun segera keluar dari kelas untuk melaksanakan perintah Bu Wita. Ia menjalankan kursi rodanya sendiri dengan menekan tombol yang ada pada kursi tersebut. Namun, belum sampai menuju toilet siswa, di persimpangan koridor ia menghentikan kursinya.


'Tadi saya ke toilet dan lihat pekerjaan kamu belum beres. Alat-alat pembersih ditinggalkan begitu saja di sana....' Ammar teringat pada ucapan Bu Wita tadi. Tiba-tiba saja ia memutuskan untuk berbelok dan menuju toilet guru.


Dari jauh tampak Queen sedang mengepel lantai di depan toilet itu. 'Hmmh, sudah kuduga dia pasti di sini,' gumam Ammar dalam hatinya.

__ADS_1


Sementara itu, Queen tak menyadari pergerakan Ammar yang semakin mendekat ke arahnya. Ia terus saja mengepel dengan posisi sedikit membungkukkan badan. Hingga akhirnya ia merasa cukup lelah dan berdiri tegak. Tangannya spontan mengambil sapu tangan biru muda di dalam saku dan mengelap keringat di dahinya.


Seketika pandangan Ammar terfokus pada sapu tangan yang Queen gunakan. Ammar tercengang melihat sapu tangan itu. Dan, Queen lebih tercengang lagi ketika tersadar dan melihat ternyata Ammar sudah berada di hadapannya.


__ADS_2