Jatuh Tertimpa Cinta

Jatuh Tertimpa Cinta
Name Tag Ratu


__ADS_3

Dengan kakinya yang pincang Ammar terseok-seok berjalan menuju ke kelas. Para siswa yang berpapasan dengannya memasang wajah menertawakan seolah ia adalah barang lucu yang pantas dijadikan bahan candaan. Sedangkan, para siswi sibuk berbisik dan memandangnya seperti barang yang patut dikasihani. 'Menyedihkan,' ucap Ammar dalam hati.


Ditambah lagi besok pagi ia dijadwalkan akan ikut pertandingan sepak bola mewakili sekolah. Sudah sangat jelas, kegiatannya itu terancam batal dan akan digantikan oleh siswa lain. 'Ini semua karena office girl itu,' pikirnya cukup kesal.


Beberapa menit kemudian akhirnya ia berhasil sampai di tempat duduknya di dalam kelas. Cindy yang duduk tak jauh darinya segera menghampiri. "Ada apa dengan kakimu, Ammar?" tanyanya. "Aku lihat kamu sedikit pincang. Terus, kenapa tadi tidak ikut pelajaran pertama?"


"Iya, tadi aku tertimpa tangga," jawab Ammar singkat.


"Bagaimana bisa?" tanya Cindy begitu penasaran.


"Seorang office girl yang sedang mengelap kaca jatuh menimpaku bersama dengan tangga yang dinaikinya," jelas Ammar.


"Lalu?"


"Dia minta maaf, tapi aku menyita name tagnya." Ammar mengeluarkan sebuah name tag dari sakunya.


Cindy mengambil name tag itu dan melihatnya. Terpampang foto Queen di sana. "Oooohhh ... jadi ini mbak-mbak yang menimpa kamu," gumamnya.


"Sebentar-sebentar... namanya...." Cindy membaca nama yang tertera pada name tag itu. "Queen...sha Gizela!"


"Hahahahaha...." Cindy terbahak-bahak seketika. "Tidak salah ini namanya... Ratu rasa office girl."


Ammar penasaran apa yang ditertawakan Cindy. Ia mengambil name tag itu dari tangan Cindy dan menjadi tersenyum kecil.


"Lucu ini lucu," gumam Cindy sambil menjepret name tag Queen dengan ponselnya. Kemudian, ia memasukkan foto itu dalam obrolan grup siswa kelasnya.


'Ada ratu jadi office girl di sekolah kita,' tulis Cindy diakhiri dengan emoticon tertawa berkali-kali.


Seketika itu juga terdengar bunyi centang-centung pada ponsel Ammar. Ternyata obrolan sudah riuh dalam sekejap. Semuanya saling bersahutan menertawakan Queen.


"Cin, mengapa kamu upload di obrolan grup?" Ammar tak suka dengan perbuatan Cindy.

__ADS_1


"Memangnya mengapa?" tanya Cindy dengan cueknya.


"Nanti office girl itu dibullying sama anak-anak," ucap Ammar.


"Ya, biarkan saja. Anggap saja itu balasan karena sudah mencelakai kamu," ucap Cindy lalu kembali ke tempat duduknya karena guru mereka sudah memasuki kelas.


Ammar tak sempat berkata apapun lagi. Ia segera menyimpan name tag Queen di sakunya.


Saat jam istirahat tiba Ammar pergi menemui Ferdi yang tak lain adalah kakaknya. Ferdi memegang jabatan di sekolah ini dan sedang berada di ruangannya. Ammar bergegas masuk ke ruangan Ferdi.


"Kak, sedang sibuk?" tanyanya.


"Tidak terlalu," jawab Ferdi sambil terus menandatangani sejumlah dokumen.


"Aku ingin kakak memecat salah satu pegawai kita," ucap Ammar langsung pada tujuannya.


Ferdi cukup kaget dan berhenti menandatangani. Ia menatap wajah adiknya itu. Ammar duduk di hadapannya. "Siapa?" tanya Ferdi kemudian.


Ferdi memperhatikan wajah yang terpampang di name tag itu. 'Seorang office girl,' pikirnya. "Mengapa?" tanyanya kemudian.


"Dia kerja tidak becus, membuat aku cedera, mempermalukanku di depan banyak orang, dan membuatku terancam tidak bisa ikut pertandingan bola kaki besok," jelas Ammar.


Di saat yang bersamaan seseorang mengetuk pintu dan masuk.


"Pokoknya dia tidak layak jadi pegawai kita," tegas Ammar.


"Dia orangnya," ucap Ferdi dengan santai sambil menunjuk office girl yang masuk membawakan kopi.


"Kopi, Pak," ucap Queen dengan senyuman.


Ammar langsung membalikkan badan untuk menoleh dan sikutnya menyenggol nampan kopi yang dipegang Queen. Sehingga, "Haaaahhhh... panas, panas!" teriak Ammar. Kopi panas yang dibawa Queen tumpah di kakinya.

__ADS_1


Queen salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat Ammar menggeliat kepanasan. Lalu, ia berkata pada Ferdi, "Maafkan saya, Pak. Saya akan membersihkan kopi yang tumpah di lantai."


Kemudian, ia bergegas berlari ke luar ruangan. Ammar melongo melihat Queen pergi begitu saja. "Lihat! Dia lebih mengkhawatirkan lantai kotor daripada keselamatanku," ucap Ammar dengan kesal dan Ferdi hanya terkekeh ringan melihat kekesalan Ammar.


"Kakak harus pecat dia!" ucap Ammar penuh emosi.


"Ya, nanti kakak pertimbangkan," ucap Ferdi.


"Apalagi yang harus dipertimbangkan? Kakak lihat sendiri dia itu ceroboh, hampir mencelakakanku. Kopi itu sangat panas, Kulitku rasanya melepuh, seragamku jadi kotor," oceh Ammar.


"Bukankah kamu sendiri tadi yang menyenggol nampan kopinya? Sehingga, semua tumpah?" ucap Ferdi.


Lalu, tiba-tiba Queen sdh masuk lagi ke ruangan dengan membawa sapu, serok sampah, dan kain pel. Tanpa banyak bicara Queen bergegas menyapu pecahan gelas kopi yang jatuh dan mengumpulkannya ke dalam serok sampah. Lalu, ia mengelap air tumpahan kopi di lantai dan mengepelnya.


Ammar kesal melihat Queen dan segera menginjak-injak lantai yang baru saja dipel. Sehingga, lantai itu kotor kembali terkena bekas telapak sepatu Ammar. Queen seketika melotot dan Ammar berkata, "Kenapa? Mau marah?"


'Huuuh... bocah ini menyebalkan sekali,' umpatnya dalam hati. Lalu, ia terpaksa kembali mengepel lantai yang dikotori Ammar.


"Nih, aku kotorin lagi," ucap Ammar sambil menghentak-hentakkan sepatunya di lantai itu.


"Ammar, sudahlah!" ucap Ferdi, namun Ammar tetap saja terus mengotori lantai dan Queen terpaksa terus mengepel lantai berulang-ulang. Hingga tanpa sengaja Ammar menghentakkan sepatunya dan menginjak ujung alat pel yang digunakan Queen. Sehingga, ketika Queen menarik alat pel, kaki Ammar pun ikut meluncur. Seketika ia terpeleset dan jatuh terjengkang di lantai.


"Aaaaakhhh!" teriaknya. Pinggulnya menghantam lantai. Queen tak bisa menahan tubuh Ammar agar tak terpeleset. Ia sudah jatuh begitu saja dalam sekejap.


***


Jam istirahat makan siang tiba. Queen membuka kotak bekal makanannya, namun tak mampu meneguk satupun butir nasi. Ia sangat gelisah. Setelah kejadian tadi, ia sangat khawatir akan diberhentikan kerja dari sekolah ini.


Padahal, ia baru saja bekerja dua hari di sini dan itu pun masih dalam masa percobaan. Sebelumnya ia sudah sangat senang dan bersyukur diterima bekerja di sekolah ini walaupun hanya sebagai office girl. Karena, ia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Gaji di sekolah ini lumayan besar jika dibandingkan bekerja di tempat lain. Selain itu, ada bonus dan insentif yang dijanjikan jika kinerja bekerjanya bagus. Queen sangat mengharapkan pekerjaan ini.


Namun, kejadian tadi membuatnya sangat yakin bahwa ia akan dipecat. Ia teringat pada ucapan Ammar yang begitu emosi setelah terjatuh. "Kamu harus segera pecat dia, Kak! Jika Kakak tidak mau memecatnya, aku akan laporkan dia ke bagian HRD atau langsung ke mama."

__ADS_1


Queen bingung dengan ucapan Ammar saat itu. Namun, kini ia baru tahu ternyata Ammar adalah pewaris dari Grup Pratama. Sekolah tempatnya bekerja ini adalah milik keluarga Ammar.


__ADS_2