
'Karena kamu ... menyebalkan.' Perkataan Queen terngiang-ngiang di telinga Ammar.
"Keterlaluan... beraninya dia mengatakan aku menyebalkan," gumam Ammar ketika sampai di dalam kamarnya.
Biasanya para gadis selalu memuji Ammar.
'Dia tampan sekali.'
'Sangat sempurna.'
'Dia sangat ramah dan murah hati.'
'Tubuhnya atletis.'
'Senyumnya bisa membuat hati wanita meleleh.'
'Muda dan berbakat.'
Dan, masih banyak lagi pujian untuk dirinya yang selalu Ammar dengar hampir setiap hari. Tapi, baru kali ini dia mendengar ejekan yang begitu tidak menyenangkan dari seorang office girl. Hal itu membuat hati Ammar menjadi panas.
"Aku akan membuatnya menyesal karena telah berkata seperti itu," ucapnya geram.
"Siapa yang akan menyesal?"
Ammar terkejut mendengar perkataan itu. Ia segera membalikkan badan dan melihat Ferdi sudah bersandar di ambang pintu kamarnya.
"Sejak kapan Kakak ada di sana?" ucap Ammar spontan.
"Mengapa? Kamu kaget?" Ferdi berjalan mendekati Ammar dan duduk di atas tempat tidur.
"Tidak terlalu," ucap Ammar. "Ada yang lebih membuatku kaget."
"Apa itu?"
"Sapu tangan biru muda yang kuberikan khusus untuk Kakak di hari ulang tahun. Kakak sudah memberikannya pada orang lain kan?" tekan Ammar.
Ferdi spontan menatap Ammar. Ekspresi Ammar menunjukkan ketidaksukaan.
__ADS_1
"Aku sampai begitu terkejut saat mengetahuinya," ucap Ammar. "Hadiah yang kuberikan khusus untuk Kakak. Bagaimana bisa Kakak memberikannya pada orang lain? Apa Kakak tidak suka dengan pemberianku?"
"Bukan begitu," sergah Ferdi.
"Lalu, apa? Sapu tangan Kakak terjatuh lalu orang lain memungut dan mengambilnya?"
"Tidak," ucap Ferdi.
"Lalu?"
Ferdi terdiam. Ia teringat saat itu adalah masa-masa awal Ibu Melan menjadi guru di sekolah. Ia berjalan di koridor dan tanpa sengaja samar-samar mendengar isakan tangis seorang wanita. Langkahnya tiba-tiba terhenti dan berbalik, perlahan berusaha mencari sumber suara itu. Ternyata, ia mendapatkan Ibu Melan tengah terisak dengan air matanya yang deras berjatuhan.
'Apa yang membuatmu menangis?' tanya Ferdi saat itu.
Ibu Melan terkejut dan segera menghapus air matanya, namun masih saja meleleh. Ferdi pun menyodorkan sapu tangan biru muda itu pada Ibu Melan.
Ibu Melan terdiam. Lalu, perlahan ia mengambil sapu tangan itu. 'Terima kasih,' ucapnya. Setelah itu, ia tak mengatakan apapun. Ia hanya berusaha menghapus air matanya yang masih saja menetes.
Lalu, Ferdi pun berkata, 'Tak perlu dengarkan ucapan orang! Karena, itu hanya akan menyakiti perasaan.'
Ibu Melan tercenung dan segera menatap Ferdi.
Ibu Melan menundukkan wajahnya. Gosip tentang dirinya yang diterima menjadi guru karena ayahnya memegang posisi penting di sekolah itu sudah menyebar seperti virus. Hampir semua orang membicarakannya, terutama para guru senior.
Mereka menyangsikan kemampuan Ibu Melan yang notabene sangat minim pengalaman dan baru saja menyelesaikan perkuliahan. Ditambah lagi penampilan Ibu Melan yang lebih cocok menjadi model papan atas, ketimbang menjadi guru. Hal itu membuat banyak orang mencibir, 'Dia itu tidak bisa mengajar, hanya modal penampilan.' Semua itu membuat Ibu Melan cukup tersudut, tertekan, dan terkucilkan.
"Kak?" ucapan Ammar membuyarkan ingatan Ferdi.
Ia tersadar adiknya itu tengah meminta respon dari pertanyaan yang belum dijawabnya. Sehingga, ia kemudian membuka suara. "Saat itu ... tanpa sengaja kulihat dia menangis. Dan, entah mengapa kupikir dia membutuhkan sapu tangan. Jadi, aku memberikannya," ujar Ferdi.
"Ohhh, so sweeeeetttt sekali," ledek Ammar. "Romantis. Seperti cerita drama Korea." Ferdi hanya terdiam.
"Kakak begitu perhatian, kakak menyukainya?" tanya Ammar dengan nada cukup ketus.
Ferdi segera menoleh dan Ammar bisa menangkap raut wajah Ferdi yang agak sedikit berubah. "Kakak tertarik dengannya?" tanya Ammar lagi dengan tatapan serius, namun Ferdi hanya diam. Kemudian, ia menundukkan wajahnya.
Dari gelagat Ferdi, Ammar sudah bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya Ferdi memiliki ketertarikan. "Sudahlah! Tak usah mengelak lagi! Aku sudah tahu... sebenarnya Kakak menyukainya kan?" ucap Ammar.
__ADS_1
Lalu, Ferdi tersenyum. "Jika iya, lalu mengapa? Bukankah itu hal wajar... jika pria menyukai wanita."
"Oooohhh... jadi benar. Jadi... yang seperti itu selera kakakku," cibir Ammar.
Ferdi hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, dia berkata, "Kamu ini kepo sekali."
"Tidak perlu sibuk mengurusi urusan orang. Urusi saja pelajaran sekolahmu! Tahun ini kamu ujian kelulusan. Belajar yang giat!" Ferdi menggosok-gosok kepala Ammar lalu berdiri dan meninggalkan kamar Ammar.
Sementara itu, Ammar bersungut-sungut di dalam kamarnya, "Tak kusangka selera kakak sangat norak."
Tiba-tiba terbayang di pikiran Ammar Queen menjadi kakak iparnya. Ferdi berkata, 'Hei, jangan bersikap tidak sopan! Dia kakak iparmu.'
'Heeehh....' Ammar hanya bisa tersenyum kaku. Sementara itu, Queen memelototi Ammar seolah-olah ingin menerkamnya.
"Aaakkhhh! Tidak-tidak." Ammar tersadar dari khayalannya. "Dia tidak boleh jadi kakak iparku."
"Kakak layak mendapatkan wanita yang sikapnya lebih baik," gumam Ammar. "Aku harus menyadarkannya sebelum terlambat." Ammar mengira wanita yang disukai Ferdi adalah Queen, sang office girl.
Sementara itu, di dalam kamarnya Ferdi tiba-tiba teringat dengan wajah Ibu Melan. Lalu, dia tersenyum sendiri tanpa sebab.
'Memikirkanmu saja sudah bisa membuatku bahagia,' batin Ferdi. Lalu, ia mengambil ponselnya dan mencoba untuk mengirimkan pesan pada Ibu Melan.
'Hai! Apa kabar?'' Ferdi mengetikkan sebuah kalimat, namun ragu untuk mengirimnya.
"Terdengar kaku sekali," gumam Ferdi. Ia bingung harus menyapa Ibu Melan, mulai dari mana ia harus membuka pembicaraan. Ia sangat ingin lebih dekat dan akrab dengan Ibu Melan.
Namun, beberapa saat kemudian Ferdi segera menghapus tulisannya. Dia batal mengirimkan pesan. 'Jangan-jangan Melan sudah memiliki pasangan atau bahkan calon suami,' pikir Ferdi. Lalu, dia memadamkan layar ponselnya.
Tak lama kemudian, "Centung!" Sebuah pesan masuk di ponselnya.
Tertulis di sana, 'Assalamu alaikum, Pak. Maaf mengganggu jam istirahatnya. Saya ingin menanyakan tugas untuk acara di sekolah pekan nanti.'
Di kolom nama pengirimnya tertulis Meillian. "Melan," gumam Ferdi seakan tak percaya. Ia mengucek matanya beberapa kali. "Ini benar-benar pesan dari Melan," ucapnya. "Aaahhh...."desau Ferdi kegirangan.
Ini pertama kalinya ia menerima pesan dari Ibu Melan. Baginya ini adalah hal yang spesial dan luar biasa. Dengan cepat dan sigap Ferdi mengetik balasan untuknya, 'Ya, Ibu Melan. Silakan! Apa yang bisa saya bantu?'
Ferdi berusaha menjaga image pada Ibu Melan. Lalu, obrolan mereka pun terus berlanjut via pesan. Salah satunya adalah ajakan untuk makan siang bersama agar lebih enak mengobrol tentang pekerjaan. Ibu Melan pun menyanggupi dan seketika itu juga Ferdi bersorak, "Yess!"
__ADS_1
'Sampai ketemu besok.' Ferdi menutup pembicaraan mereka via pesan.