
"Farza, Nafisha, Naya...,hati-hati jalannya! Pegang adik-adikmu kakak farza!",kataku berteriak.
Ya, inilah aku... Janda dengan 3 orang anak.
Ini kali aku pergi sholat jama'ah subuh dimasjid dekat rumahku. Rumah mendiang suamiku,ya mas Irdho... 3 tahun yang lalu tepatnya aku ditinggalkan sendiri. Untung sebelum suamiku wafat, aku pernah meminta izin bekerja walau agak telat. 11 tahun setelah menikah, barulah aku diizinkan untuk bekerja. Mungkin itu firasat alamarhum sebelum meninggalkan ku dengan 3 orang anaknya agar aku bisa survive menghidupi kebutihan kami.
Tapi itu tidak mbuatku menyesal.
Aku bahagia.....
Farza: "Ibu, kenapa aku harus menjadi abang sih? Capek aku ngurusi adik-adik ku yang crewet".
ibu: "Kakak, ingat kak, itu semua untuk melatih kakak menjadi penglima perang saat kakak menjadi komandan pasukan memberi bagian-bagian tugas-tugas anak buahmu. Besok kakak sudah terlatih dan siap.
Farza: "Eh iya, sampai lupa cita-cita itu... Tapi apa gak lebih enak cita-cita jadi petugas POM Bensin bu?
Uangnya banyak....
Kemarin aja, pak-nya megang uang ditangan sampai gak muat tangannya penuh uang...
__ADS_1
Ibu: "Ha ha ha ha ha.... Itu uangnya orang sayang.... Pak-nya cuma kerja. Nanti uangnya dibuat beli bensin lagi satu truk kontainer.
Habis lagi kan uangnya?
Jangan liat uangnya yang didapat ya sayang..., tetapi bekerja untuk mencari ridho Allah. Sedikit banyaknya uang akan selalu berkah sayang.
Farza: "Iya ibu...siap laksanakan....
Hari ini aku akan mengantarkan ke 3 anak ku sekolah. Naik sepeda motor dengan posisi didepan berdiri Naya, dia lelas 2 MI, dibelakangku Nafisha kelas 5 MI, sedangkan paling ujung belakang Farza sekarang kelas 1 SMP.
Perbekalan, buku sampai baju ganti pun sudah tercover lengkap ditas masing. Bayangkan repotnya aku tiap hari. Maklum mereka akan aku jemput jam 5 sore pas aku pulang kantor.
"Berangkat ibu, Assalamu'alaikum...",serentak mereka.
Bergegas aku menuju kantor. Aku bekerja sebagai kepala bagian produksi atau manager produksi bahasa kerennya, perusahaan salah satu rokok terbesar di Indonesia. Bayarannya lumayan untuk menghidupi anak- anak ku dengan layak. Bahkan untuk berfoya- foya mungkin bisa- bisa aja. Tapi aku selalu mengajari anak- anak ku hidup sederhana. Semua ini tidak lepas atas bantuan dari mas Yayan untuk aku bisa bekerja ditempatku yang sekarang ini.
Dia yang sudah aku anggap saudara ku.
"Aah... betapa besar pertolongan Allah padaku...".
__ADS_1
"Maap bu, ada masalah dibagian produksi, katanya ada perkelahian antar pegawai. Tolong ibu tengahi ya bu".
"Iya- iya. Ada apa aja ini pagi- pagi udah ada aja masalah".
"Assalamu'alaikum", sontak semua menghadap sumber suaraku.
Ku lihat 2 orang menarik kerah baju dan yang lainnya berusaha untuk melerai satu sama lain.
" Wa' alaikumsallam, ibu tidaklah usah ikut campur! Ini masalah orang laki- laki!, katanya dengan gaya bahasa batak.
"Okey, saya tahu, tapi sekarang waktunya bekerja. Kalau pada ngumpul disini, mesin siapa yang kontrol?
Produksi jadi terhambat dong?
Saya juga yang disalahkan nanti. Jadi sekarang waktunya kerja dulu.
Kalau mau menyelesaikan urisan laki, nanti teruskan waktu pulang kerja!"
Mendengar saranku yang tidak memihak siapapun, bahkan terkesan membiarkan dan tidak menyalahkan, mereka jadi sungkan dan berhenti juga membubarkan diri.....
__ADS_1
"Kita teruskan nanti lah pulang, awak kau ya!!"
"Selesai juga,,,,, bubar-bubar,,,, silahkan kerempat masing-masing".